
"Eh Niko, lama gak ke sini?" tanya Titi pada Niko yang baru saja datang ke rumah nya. Wajah pria itu masam, Titu sudah mulai berani Sekarang.
t
"Mentang mentang sudah jadi bini orang kaya, kamu udah berani sama aku yah!" balas Niko.
Titi hanya bergidik bahu, lalu mempersilahkan Niko duduk.
"Johan mana?" tanya Niko, sejak ia datang pria itu tidak kelihatan.
"Aku di sini, kangen yah?" celetuk Johan yang berjalan menuruni anak tangga. Wajahnya terlihat sangat segar, seperti nya ia baru saja selesai mandi.
"Aku ingin membicarakan sesuatu" ujar Niko.
"Apa itu?" Johan duduk di samping istri nya.
"Apa kau sudah menemukan seorang gadis?" balas Titi semangat, Niko termasuk sudah matang untuk menikah, Sam seperti Yoga. Tapi, kalau pria satu itu berbeda, ia gila dengan bayangan kekasihnya yang sudah meninggal.
"Kau ini, aku jadi kesal!" dengus Niko.
"Maaf maaf, lanjutkan" ujar Titi terkekeh pelan.
"Aku kesini mau ngasih tahu, seperti nya Titi tidak sakit, dia memang benar melihat wanita yang sangat mirip dengan Raisa!" ujar Niko panjang lebar.
"Tuh kan!" sahut Titi.
"Apa yang kamu bicarakan Niko? aku tidak mengerti" Johan.
"Aku sudah bertemu dengan nya, Direktur DS Grup. Perusahaan yang baru berkembang pesat beberapa tahun ini"
"Jadi, wanita yang aku lihat itu beneran Raisa?" tanya Titi.
"Tidak pasti, tapi dia memiliki wajah yang sangat mirip dengan Raisa. Dia bukan orang sembarangan, dia wanita yang hebat. Data dirinya sangat sulit di cari!" ungkap Niko. Dia sudah berusaha untuk mencari tahu tentang Raisa tapi tidak ia temukan.
"Dia baru menetap di negara kita beberapa bulan ini" jelas Niko lagi.
"Aku harus menemui nya!" ucap Johan.
"Aku pernah melihatnya di taman bersama seorang anak kecil, aku mengira dia Raisa tapi dia mengatakan bukan" Titi mulai terisak.
"Tenang sayang, kita gak boleh gegabah. Kita harus mencari tahu dulu, siapa wanita itu" ucap Johan menenangkan istrinya.
"Johan benar, jika dia beneran Raisa, dia pasti akan lari lagi jika tahu kita mengenalnya" jelas Johan.
"Aku gak akan biarkan, aku gak mau kehilangan dia lagi!" ujar Titi. Johan memeluk erat tubuh istrinya, rasa sakit yang mereka rasakan sama.
...----------------...
Jika Johan, Titi dan Niko membicarakan soal Raisa. Beda tipis dengan Yoga, yang kini malah mulai agresif dan bertekad kuat untuk membuat gadis itu jatuh hati padanya.
"Aku akan membuatnya memohon kasih" ucap Yoga tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Kini pria itu tengah berjalan menuju ke ruangan kerja Raisa. Ia akan lebih sering bertemu dengan wanita itu.
Tuk!! Tuk!!!
"Masuk!!"
Terdengar sahutan Raisa di dalam ruangan itu.
Yoga menekan kenop pintu, lalu mendorong nya ke dalam. Dengan wajah ceria, pria itu tersenyum menyapa Raisa.
"Selamat siang Bu Lina"
"Ngapain kamu ke sini!" kaget Raisa marah, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Yoga yang baru masuk ke dalam ruangan nya.
"Saya datang kesini ingin membicarakan soal kerja sama kita" jawab Yoga santai.
Raisa melotot, ia sudah menolak permohonan kerja sama itu, ngapain lagi pria itu mendatangi nya. Raisa benar benar tidak bisa melihat wajah Yoga.
"Keluar! saya sudah menolaknya!!" bentak Raisa mendorong tubuh Yoga menuju ke pintu.
"Eits...." Yoga menahan tubuhnya dan menjauhkan Raisa dari tubuhnya penuh dengan kelembutan.
"Apa lagi sih, kamu jangan sampai buat saya manggil security yah!" bentak Raisa.
"Kamu ini kenapa sih, membenci seseorang tanpa sebab merupakan hal yang tidak baik!"
"Atau kamu....Adalah orang yang saya maksud!"
Jantung Raisa berhenti berdetak untuk beberapa detik. Yoga berhasil membuatnya terlihat seperti menghindari pria ini.
"Sejak awal bertemu saya sudah tidak menyukai anda!! anda orang yang tidak sopan!!" ucap Raisa beralasan.
"Benarkah? tapi apakah karena hal itu"
"Tentu saja, lalu apa lagi. Saya paling tidak suka dengan orang yang tidak sopan!" tegas Raisa menatap tajam pada Yoga.
"Well... Tapi sayang nya anda tidak bisa menolak saya!..Ehm.. Maksud nya menolak kerja sama ini" gumam Yoga memperbaiki kalimat nya. Ia memperlihatkan surat kontrak yang sudah di tandatangani oleh Julia.
"Apa!! tidak mungkin! siapa yang menandatangani nya!" gumam Raisa merebut surat itu dari tangan Yoga. Saat Raisa hendak merobek surat itu Yoga berkata memperingatkan nya.
"Baca dulu sebelum merobeknya!"
Gerakan Raisa terhenti, ia membaca surat itu sekilas. Ketika melihat konsekuensi dari pembatalan sepihak, mata nya langsung melebar.
"Apa kau gila!" teriak Raisa.
"Yah, gila karena mu" goda Yoga, tangannya terangkat kearah Raisa sembari menautkan jari jempol dan telunjuk nya membentuk seperti Sarange ala ala Korea.
Raisa semakin geram!
"Siapa yang menandatanganinya?" geram Raisa.
__ADS_1
"Lihat saja namanya!" ujar Yoga menunjuk nama Julia tertera di sana.
"Sial! kau benar-benar licik!!" umpat Raisa.
Yoga hanya tersenyum polos, ia benar-benar suka melihat wajah marah Raisa.
"Mari kita bicarakan kerja sama kita Bu Lina" ujar Yoga senang.
"Mimpi!" dengus Raisa, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Yoga sendiri di ruangan nya. Ia harus bertemu dengan Julia.
"Ya sudah, mungkin lain waktu" gumam Yoga sembari tersenyum lebar. Ekspresi wajahnya sungguh membuat jengkel bagi Raisa.
...----------------...
Raisa tiba di rumah nya, ia masuk dengan wajah tidak bersahabat.
"Julia!!!!!!!!" teriak Raisa dari bawah, langkahnya di hentak hentakkan seperti langkah raksasa.
"Mami sudah pulang?" tanya Roy. Namun Raisa hanya melirik putranya sebentar.
"Kamu jangan ikuti mami, mami ada akan membantai seseorang!" kata Raisa dengan nafas menggebu- gebu menahan emosi.
Raisa berjalan menaiki anak tangga, masuk begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu pada pintu kamar Julia.
Terlihat di sana Julia dan Dave tengah bercumbu rayu.
"Hei!!!!! kau!!!" teriak Raisa menunjuk kedua anak manusia itu.
Roy melihat mereka di depan pintu, cepat cepat pengasuhnya menarik dan membawa Roy pergi dari sana.
"Ini bukan tontonan tuan muda" kata pelayan itu. Roy menurut saja, meskipun ia sudah bias melihat nya.
Raisa mengambil bantal sofa, lalu melempar pada Julia dan Dave.
"Adik sepupu, ada apa?" tanya Dave heran, sementara Julia malah bersembunyi di bawah tubuh suaminya.
"Gawat, pasti Lina marah karena kerja sama itu" batin Julia.
"Tanya sama istri bodoh mu itu!!!" jawab Raisa sinis. Nafas nya masih menggebu-gebu.
"A-apa yang aku lakukan?" cicit Julia pura pura tidak mengerti.
"Apa kau ingin aku menarik mu dari bawah pria ini!" decak Raisa bersungguh sungguh.
Dave menatap wajah istri nya, meminta penjelasan.
Julia tidak mengatakan apapun, dia semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang Dave.
"Aiss.....Kalian ini" dengus Dave turun dari ranjang kemudian memakai pakaian nya lagi. Mereka belum sepenuhnya melakukan hal itu, baru tahap pemanasan.
...----------------...
__ADS_1