
"Mami, temani aku beli boba" rengek Roy.
"Maaf sayang, tapi mami harus lembur malam ini. 2 hari lagi mami harus menyelesaikan rancangan untuk client mami" tolak Raisa dengan berat hati.
"Tapi aku mau Boba mami, aku mau Sekarang" Roy terus merengek, ia sangat ingin minum Boba, dan dirinya tidak mau memesan online.
Julia turun, ia melihat Roy merengek pada maminya.
"Ada apa Lina?" tanya Julia.
"Aku mau Boba Princess, tapi mami tidak mau temani aku membelinya"
"Eh mami bukan gak mau, tapi mami sibuk Roy" potang Raisa memperbaiki ucapan putranya.
"Sama saja" celetuk Roy kesal.
"Yaudah, sama aunty aja pergi nya. Kebetulan aunty ada perlu keluar" ucap Julia. Ia memiliki janji dengan teman nya di sebuah cafe.
"Apa tidak apa apa?" tanya Raisa takut merepotkan Julia. Selama ini ia sudah sangat merepotkan ipar sepupu nya itu.
"Tidak Maslaah, semua teman teman ku menyukai pria tampan ku ini" jawab Julia sembari menoel pipi Roy.
"Yah, seperti nya aku bakal jadi donat" lenguh Roy.
"Yuk jalan" seru Julia semangat. Ia menggenggam tangan Roy, lalu berjalan bersama menuju ke garasi.
"Hati hati yah!!!" seru Raisa melambaikan tangan nya.
...----------------...
Yoga tiba di cafe sesuai dengan alamat yang Johan kirim tadi. Ia menoleh ke kiri dan kanan, mencari keberadaan teman temannya.
"Di sini !!!" teriak Johan melambaikan tangan pada Yoga yang terlihat bingung mencarinya.
Niko dan Titi menoleh, kemudian tersenyum.
Yoga duduk di samping Niko, menatap ketiga orang itu malas.
"Apa masih waktunya untuk duduk nongkrong seperti ini?" dengus Yoga.
"Santai aja, kita masih cocok kok" ujar Titi tersenyum.
"Cih, kau sudah berani yah. Mentang mentang sudah nyonya besar" ujar Niko pada Titi, kemudian tertawa bersama.
Yoga ikut tertawa, seperti nya ia memang butuh hiburan.
"Tidak juga, sejak dulu dia memang sudah berani pada ku" celetuk Johan.
" Dia tipekal pelayan tidak tau diri"cibir Niko yang langsung mendapat pukulan dari Titi.
"Bagaimana aku bisa tahu diri. Majikan nya saja seperti kalian!" balas Titi tidak merasa tersinggung.
"Huhf...." tiba-tiba Titi menjadi muram.
"Andaikan dia masih ada, pasti akan lebih seru" lirih nya.
Ketiga pria itu terdiam, suasana kembali menjadi sedih.
"Ini kah yang membuat aku malas ngumpul!" cibir Yoga.
"Sudah sudah, kita tidak perlu sedih. Mungkin dia saat ini tertawa melihat kita bahagia" ujar Johan menuangkan minuman ke gelas mereka, kemudian mengangkat nya tinggi.
"Bersulang untuk kedamaian Raisa!!" sorak Johan.
__ADS_1
Titi mengangguk, menelan rasa sedihnya kemudian ikut mengangkat gelas.
"Ayo!!!!" desak Titi pada Yoga dan Niko agar mengikuti mereka.
"Bersulang!!!" sorak Titi dan Johan semangat.
...----------------...
"Roy sayang, mau Boba rasa apa?" tanya Julia, sembari melihat buku menu.
"Aku mau rasa coklat toping alpukat!" jawab Roy.
"Baiklah, saya pesan itu yah. Tolong anter ke meja sudut sana" kata Julia.
"Baik nona" jawab bartender.
Julia menuntun Roy ke meja yang ia tunjuk tadi. Di sana sudah terdapat beberapa orang wanita teman Julia .
"Aunty, bisa tidak? aku duduk di meja yang berbeda? aku ingin duduk tenang" ucap Roy minta ijin. Ia tidak mau bergabung dengan Julia dan teman temannya yang nanti pasti mencubit pipinya.
"Tapi Roy, nanti kamu hilang gimana?" jawab Julia ragu.
"Aunty Kecak saja ponsel ku, aku sudah mengaktifkan GPS nya" kata Roy pintar.
"Baiklah, kamu boleh duduk di meja yang tidak jauh dari meja aunty yah" peringat Julia.
"Baiklah"
Roy memilih meja menghadap ke kaca Cafe, dari sana ia bisa melihat area luar cafe.
Tanpa Roy sadari ia sudah menghadap pada papa yang ia cari selama ini. Sayang nya ia tidak tahu wajah papa nya.
Boba yang Roy pesan sudah datang, ia menikmati minuman nya sambil menatap lurus ke depan. Berbagai pemikiran yang masuk ke dalam benak nya. Sesuatu hal yang harusnya tidak ia pikirkan.
Di luar sana, Yoga tertarik menatap seorang bocah yang duduk sendirian. Mata nya menatap lurus pada bocah yang terlihat muram.
Cukup lama Yoga memperhatikan bocah itu, dalam hati ia merasa sangat heran dan bertanya tanya. Apakah bocah itu datang ke cafe ini sendiri? atau bersama orang tuanya. Sejak tadi Yoga tidak melihat ada nya orang dewasa menghampiri bocah itu.
"Melihat apa?" tegur Johan.
Yoga mengalihkan pandangannya pada Johan.
"Tidak ada" balasnya.
"Ehm..Aku ke toilet dulu yah" kata Titi berlalu pergi setahun di beri ijin oleh suaminya.
Yoga kembali melihat kearah meja bocah tadi duduk, tapi bocah itu sudah tidak ada di sana.
"Mungkin sama orang tuanya" pikir Yoga. Entah mengapa ia malah menjadi tertarik pada bocah itu.
Setelah selesai dari toilet, Titi tidak sengaja bertemu dengan anak laki-laki tampan yang pernah menolong nya.
"Hai bibi" sapa Roy.
"Eh kamu," kaget Titi, tapi dia senang.
"Sama siapa ke sini?" tanya Titi celingak-celinguk mencari orang tua Roy.
"Aku sama aunty ku, dia sedang bersama teman teman nya" jawab Roy jujur.
Titi mengangguk, ia menjadi ingat tentang ibu dari bocah ini yang sangat mirip dengan Raisa.
"Mau mengobrol gak?" tawar Titi.
__ADS_1
"Boleh" jawab Roy mengangguk setuju.
Roy tersenyum dalam hati, sebenarnya ia mengikuti Titi tadi. Ia menunggu Titi sampai keluar dari toilet.
"Aku yakin, bibi ini tahu sedikit tentang mami. Dia kan kemarin mengenali mami, meskipun mami tidak" ucap Roy berbicara dalam hati.
"Roy, apa kamu sudah sekolah?" tanya Titi.
"Belum Bibi, aku baru 4 tahun. Nanti ketika sudah 5 tahun aku akan masuk Playgrup" jelas Roy.
"Kamu pintar juga yah" puji Titi, membuat Roy tersenyum tipis.
"Oh iya Roy, apa bibi boleh tahu siapa nama ibu mu?"
"Tentu bibi" jawab Roy.
"Nama mami Lina Khan, seorang designer ternama" jawab Roy bangga.
"Waw ... Hebat sekali mami kamu yah"
"Tentu saja, aku sangat bangga memiliki mami seperti nya. Tapi aku juga sedih" lirih Roy di akhir kalimatnya.
"Ternyata dia memang bukan Raisa, aku salah lihat!. Ya ampun Raisa, aku sangat merindukan mu" lirih Titi dalam hati.
"Oh iya, Roy boleh nanya gak bi?"
"Boleh dong, mau nanya apa?"
"Kemarin Roy lihat bibi seperti nya mengenal mami ku, apa kalian adalah teman?"
Titi terdiam, lalu tersenyum lembut.
"Bibi salah mengenali orang Roy, Bibir pikir mami mu adalah teman bibi yang sudah lama meninggal " jelas Titi.
Roy mengangguk mengerti, tapi ia mendesah kecewa dalam hati. Ia sudah sangat senang ketika bertemu lagi dengan Titi, ia berharap Titi mengenal mami nya.
Setelah mengobrol cukup lama dengan Roy, Titi akhirnya pamit ingin kembali pada teman teman nya. Begitu juga dengan Roy yang sudah di panggil oleh Julia.
Titi kembali dengan wajah lesuh, Johan dan yang lain sampai heran melihat nya.
"Kenapa lagi?"tanya Johan.
"Ternyata kamu benar sayang, kemarin aku salah lihat orang" ujar Titi sendu.
"Aku kan sudah bilang sayang, kamu harus sadar dan tidak boleh berlarut terus dengan kesedihan." ucap Johan, tangan nya mengusap pipi istri nya lembut.
Yoga dan Niko hanya menatap bingung mendengar pembicaraan mereka.
"Ada apa?" tanya Niko penasaran.
"Penyakitnya kambuh lagi, berhalusinasi melihat Raisa, tapi salah orang" jelas Johan.
Deg.
Niko terdiam, ia menjadi teringat dengan cerita pelayan nya kemarin. Ia juga melihat Raisa di bandara.
"Aku jadi penasaran, sebenarnya siapa yang mereka lihat" batin Niko.
"Aku pulang deh, mau istirahat" ujar Yoga.
"Aku juga" sahut Johan.
Mereka akhirnya bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Kecuali Niko, ia ikut dengan Yoga. Selain rumah mereka sama, Niko juga malas menyetir mobil sendiri, jadi nya ia menumpang dengan Yoga. Tapi, Yoga menyuruhnya menyetir.
__ADS_1