
Di sore yang membosankan. Raisa merasa dia seorang diri saat ini. Bukan tidak ada yang mau menemani. Tapi, entah kenapa ia merasa ingin sendiri, tanpa ada yang mengganggu.
"Hei, keponakan ku!" teriak seorang pria baru baya.
Raisa menoleh, matanya menyipit memperjelas penglihatan nya.
"Paman?" Raisa melangkah cepat kearah Mr Bein.
"Paman ngapain di sini?" tanya Raisa heran.
"Berak" jawab Mr Bein asal.
"Huh? berak mah di rumah aja. Ngapain jauh jauh ke mall. Ada ada aja deh..." decak Raisa.
Hufffff.....
Mr Bein menghela nafas dalam, berusaha untuk sabar menghadapi keponakan yang terlalu lugu, entah terlalu bloon.
"Sayang, kalau orang pergi ke mall. Itu berarti mereka ingin berbelanja, main sama temen. Ngapain di tanya lagi coba?"
"Lah, kata nya mau berak" sahut Raisa.
Mr Bein mengusap kasar wajahnya, ni keponakan benar benar mancing darah tinggi.
Pria tua itu menarik tangan Raisa, membawanya ke sebuah cafe yang ada di dalam mall itu.
"Capek ngomong sama kamu" dengus nya.
Raisa mengikut aja, ia tahu Mr Bein bukan lah orang jahat. Kata Johan, paman nya sangat penyayang dan baik hati.
Yah kali, mafia baik hati.
"Mau minum apa?" tanya Mr Bein menatap keponakan manis nya.
"Aku Milo susu aja deh"
"Oke" Mr Bein mengangkat tangan memanggil pelayan, lalu memesan minum untuk Raisa dan juga dirinya.
Mr Bein menatap sang keponakan, dia masih muda, masih panjang perjalanan hidupnya. Mr Bein ingin Raisa mendapatkan yang terbaik.
"Kamu lulus SMA? " tanya Mr Bein.
Raisa mengangguk, jujur ia sangat canggung berdua saja dengan paman yang hanya sekali ia temui.
"Santai saja, kamu tidak perlu gugup. Om sangat penyayang orang nya" ucap Mr Bein memuji diri sendiri.
"Kamu udah liat foto papa kamu gak?" tanya Mr Bein lagi. Ia berusaha mencairkan suasana dan membuat Raisa nyaman kepadanya.
Lagi lagi Raisa menggeleng, ia belum pernah melihat foto ayah kandung nya. Masalah yang terus berdatangan membuat dirinya lupa tentang fakta baru.
"Belum om, aku juga pengen sebenarnya" lirih Raisa menunduk.
"Coba kamu lihat om"
Raisa menurut, ia menatap wajah Mr Bein.
"Kamu bisa melihat wajah papa kamu di wajah om"
__ADS_1
"Maksud nya?" Raisa mengerut bingung, otak nya terlalu dangkal untuk memikirkan maksud kata kata Mr Bein.
Mr Bein tersenyum, ia mengeluarkan dompet nya. lalu mengambil foto yang selalu ia simpan di dalam dompetnya.
"Lihat, satu om yang satu papa kamu" jelas Mr Bein sembari memberikan foto itu pada Raisa.
Tangan Raisa bergetar, ternyata papanya sangat tampan. Selama ini ia hanya tahu Bram yang menjadi papa nya.
"Jangan menangis, jiwa om dan papa kamu sama kok" Mr Bein mengulurkan tangannya mengusap air mata Raisa.
"Om...Mirip banget sama papa. Hikss...Kenapa yah Aku gak bisa ingat masa kecil aku. Kan kejadian itu terjadi ketika aku sudah besar"
Orang orang yang ada di cafe itu menoleh ke arah mereka. Melihat Raisa yang menangis seperti itu.
"Sttt... Jangan sedih Raisa, jangan menangis seperti itu. Nanti orang orang akan mengira om menyakiti kamu"
Raisa menggeleng, ia semakin menangis keras.
"Huaaaa....Aku kan lagi sedih om. Kenapa gak boleh nangis, aku mau nangis Lo"
Mr Bein langsung berdiri, kemudian memeluk Raisa layak nya memeluk putrinya.
"Susstttt.... Anak papa jangan nangis dong, nanti cantik nya hilang" bujuk Mr Bein.
"Papa....Hiks...Hikss..."
Bukan nya makin reda, Raisa malah makin menjadi jadi di dalam pelukan Bein.
Mr Bein tersenyum kikuk pada semua orang. Ia sangat malu, mungkin orang orang berpikir jika dirinya menyakiti Raisa.
Pelayan datang, membawa pesanan mereka. Tangis Raisa mulai mereda.
"Makasih mbak" balas Raisa.
Mr Bein kembali ke kursinya, tersenyum pada Raisa yang mulai berhenti nangis, meskipun masih sesegukan.
"Minum sayang, biar enakan" seru Mr Bein.
Raisa mengangguk, ia meraih gelas Milo milik nya, kemudian meminumnya hingga setengah.
"Nangis bikin haus ya" sindir Mr Bein bercanda.
"Om selama ini kok gak jemput aku? kenapa biarin aku sama Bram?"
Mr Bein menggeleng, ia menarik nafas dalam, kemudian melepasnya perlahan.
"Sebenarnya om ingin sekali menjemput mu, apalagi om juga tahu betapa menderitanya kamu saat itu. Tapi." Mr Bein menjeda ucapan nya. Meraih tangan Raisa, kemudian menggenggamnya erat.
"Kondisi kamu tidak baik, jika om jemput kamu akan menderita. Otak kamu akan berkontraksi dan membahayakan nyawa kamu. Saat itu juga musuh masih berkeliaran sayang. Om membiarkan kamu berada di sana sebagai Raisa. Agar nyawa mu aman"
Raisa menutup mata, ia mengingat bagaimana mama nya menghembuskan nafas terakhir di pangkuan nya.
"Jadi... mama menyelamatkan aku? menahan segala penderitaan dari Bram. Agar aku tetap aman?"
Mr Bein mengangguk, kesimpulan Raisa sangat benar.
Air mata kembali meluncur dari pelupuk mata Raisa.
__ADS_1
"Hiks...Hiks..."
"Sudah jangan menangis" bujuk Mr Bein menenangkan Raisa.
"Sekarang, kamu mau nya apa? tetap seperti ini, atau mau melanjutkan pendidikan?"
Inilah maksud dari Mr Bein, ia ingin menawarkan pada keponakan nya untuk sekolah di luar negeri.
Bukan untuk apa apa, tanpa sekolah pun Raisa juga sudah hidup enak, semua sudah ia miliki. Namun, menurut Mr Bein. Raisa harus menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Kehidupan selanjutnya kita tidak tahu. Ia ingin Raisa memiliki ilmu yang cukup luas untuk mengatasi masalah yang akan ia hadapi nanti.
Lagi pula, Mr Bein juga sudah mencium aroma dari musuh nya yang mengetahui bahwa keturunan terakhir Jeland famili masih hidup.
"Aku tidak tahu om, tapi... Untuk saat ini aku ingin santai dulu."
"Baiklah, jika itu mau kamu. Tapi, jika kamu berubah pikiran, kamu langsung hubungi om" kata Mr Bein.
Raisa mengangguk senang, benar kata Johan. Paman nya sangat baik, hangat. Raisa merasa ada sosok ayah di dalam diri Mr Bein.
Ddrrrrttt....
"Ah, paman harus pergi sekarang. Kamu harus jaga diri" peringat Mr Bein. Ia mengusap kepala Raisa penuh kasih sayang.
"Terimakasih pa" balas Raisa, ia tersenyum lebar.
Seketika Mr Bein terdiam, mendengar Raisa memanggilnya dengan sebutan itu, membuat hatinya merasa sangat bahagia.
"Baiklah putri ku"
Cup.
"Ihhhh aku bukan anak kecil lagi!!" teriak Raisa menghapus bekas kecupan Mr Bein di kening nya.
"Hahaha....Tidak anak kecil saja yang di kecup sayang" sahut Mr Bein sembari melangkah pergi.
Setelah Mr Bein pergi, Raisa pun bergegas hendak pergi. Sebelum nya ia juga membayar minuman mereka.
"Dasar om om modus, malah pergi sebelum membayar" maki Raisa.
"Itu papa nya atau gimana dek?" tanya Mbak kasir iseng. Lebih ke sindiran seperti nya.
"Gak lihat, wajah kami mirip? menurut mbak nya dia siapa aku?" jawab Raisa ketus.
"Yah kali aja ya kan" sahut mbak kasir lagi, ia masih tidak tahu malu.
"Idih, emang nya aku situ. Menggoda pria hidung belang. Sorry yah mbak salah orang!"
Raisa mengambil kartu debitnya, kemudian pergi dari cafe itu dengan kesal.
"Idih, anak ingusan berlagak sombong!" cibir mbak kasir.
...----------------...
Raisa kembali sendirian, ia mengelilingi mall tanpa tujuan. Kekesalan dirinya terhadap mbak kasir tadi masih menghinggapi hatinya.
Bruk~<
Raisa terhuyung ke belakang, seseorang dengan sengaja menubruk dirinya.
__ADS_1
...----------------...