Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Hasutan Johan


__ADS_3

Di tempat yang sama, Mawar meratapi nasib nya. Karena perbuatan papa dan mama nya, ia harus menerima ini semua.


Seorang wanita masuk ke dalam ruangan di mana Mawar di sekap.


"Hei bangun!" teriak wanita itu sembari menggoyangkan kaki Mawar dengan kakinya.


Mawar menoleh, ia menatap wanita itu malas.


"Apa lagi yang kalian ingin kan??" lirih Mawar tak berdaya, tenaga nya sudah di kuras habis oleh Mr Bein semalaman.


"Kau harus pulang, Mr Bein menyuruh mu pulang seperti biasanya. Tapi, kau tidak boleh membuka mulut dan kabur darinya!"


Wanita itu tersenyum miring, ia tahu betapa menyedihkan nya mawar saat ini.


"Jika kau berpikir ingin kabur, pikirkan dulu foto foto dan video mu itu" tunjuk wanita pada deretan foto telanjang Mawar yang sengaja di tempel pada dinding ruangan ini.


Sekuat tenaga Mawar berusaha bangkit, lalu mencabut setiap lembar foto yang tertempel di sana.


"Kurang ajar!!?!" geram Mawar lemah.


"Cih, sok suci. Padahal kau sangat menikmati pergulatan mu dengan para bodyguard itu" decak wanita itu menatap Mawar jijik, lalu ia memutuskan untuk pergi.


Mawar ambruk di lantai, ia menyesal telah menerima tawaran Dea yang ternyata memang jebakan untuk dirinya.


"Kenapa aku harus melakukan semua ini hanya untuk papa tiri ku!!" teriak Mawar marah. Ia meraung meratapi nasibnya.


Pukul 10 siang, Mawar tiba di rumah. Melinda sudah menunggu putri nya yang semalaman tidak pulang.


"Dari mana saja kamu Mawar?"


Melinda menahan lengan putrinya yang terlihat sangat lelah.


"Apa kamu tidak mendengar ucapan mama??" tanya Melinda lagi karena di abaikan oleh Mawar.


"Aduh ma, mawar capek banget. Tolong biarkan mawar beristirahat " mawar menyingkirkan tangan mamanya, lalu kembali melangkah menuju ke kamarnya.


"Ada apa dengan bocah itu? tidak biasanya ia bersikap acuh terhadap ku!" gumam Melinda heran dan pemasaran dengan perubahan putrinya akhir akhir ini.


Malam hari nya, Melinda menceritakan pada suaminya tentang perubahan putrinya.


"Pa, apa papa tidak merasa aneh dengan sikap Mawar? dia lebih pendiam dan sering mengurung diri di kamar" kata Melinda mengadu.


"Masa sih, biasanya juga gadis itu seperti itu. Melakukan apapun sesuka hatinya" sahut Bram yang tengah sibuk dengan laptop nya. Bram harus merintis ulang perusahaan yang baru saja selamat dari ambang ke hancuran.


Merasa di acuhkan oleh suaminya, Melinda mengambil inisiatif untuk menutup layar laptop.


"Kamu kenapa sih pa, mengacuhkan aku yang tengah berdiskusi tentang putri kita!" sungut Melinda heran.


"Aduh, file nya belum tersimpan!" erang Bram.


"Biarin! kamu sih bikin aku kesel" dengus Melinda semakin merajuk.


"Kamu ini kenapa sih, aku kerja kenapa di ganggu!"

__ADS_1


"Abisnya kamu ngeselin!! " balas Melinda tak mau kalah.


"Yaudah ayo, tanya Mawar, kenapa sikapnya berubah!" ucap Bram pasrah, melawan Melinda sama saja melawan batu. Ia pasti akan terus mengganggunya hingga dirinya memperhatikan dan mengikuti apa yang ia mau.


Bram dan Melinda akhirnya pergi ke kamar Mawar. Ketika tiba di sana, mereka menemukan Mawar yang bersiap ingin pergi.


"Mau kemana kamu mawar?" tanya Bram tegas.


"Aku ada urusan"jawab mawar singkat.


"Sayang, ini sudah malam Lo. Kenapa gak besok aja?" cegah Melinda lembut.


"Tidak bisa " tolak Mawar lagi, tatapan nya datar, ekspresi nya tak ada gairah kehidupan.


Mawar melewati Bram dan Melinda begitu saja, ia bersikap seperti seolah olah kedua orang tuanya tidak ada di hadapan nya. Hal itu tentu saja membuat Bram geram.


"Kamu kenapa sih mawar? papa lihat kamu sudah berubah!"


Mawar berhenti, namun ia tidak berniat berbalik atau sekedar menoleh pada kedua orang tua itu.


"Aku juga tidak tahu, mengapa aku melakukan semua ini demi seorang yang jelas bukan ayah kandung ku!" balas Mawar.


Melinda dan Bram terkejut mendengar ucapan putri mereka.


"Apa maksud mu??" tanya Bram menarik lengan Mawar agar menghadap kepadanya.


"Yah!! aku mengalami semua ini karena kamu!!?? karena kamu dan kamu!!? demi memenuhi hawa nafsu kalian terhadap harta!!!" tangis Mawar pecah, mata nya sudah berlinangan air mata.


Melinda tidak tega, ia ikut sedih melihat putrinya menangis.


"Sayang, tenang lah. Mari kita bicara baik baik" bujuk Melinda.


Mawar menepis tangan mamanya, ia menatap Bram tajam.


"Kau bahkan bukan papa kandung ku. Tapi entah mengapa karma yang seharusnya kau terima, malah menimpah ku!!!"


"Apa maksud mu Mawar!!" bentak Bram.


"Mawar tenang!!" ucap Melinda menarik paksa tangan putrinya.


"Kenapa mama membela nya, jelas jelas aku tidak bahagia karena nya!!! nasib buruk menimpa ku karena nya!!!" teriak Mawar menunjuk Bram.


Plak!!


Satu tamparan mendarat di pipi Mawar.


"Mama menampar ku??" lirih Mawar tidak percaya.


"Kamu harus sadar sayang, orang yang kamu maki itu adalah ayah kandung kamu!!" jelas Melinda.


Duarrrrrrr!!


Seketika petir menyambar kehidupan Mawar, fakta apalagi ini.

__ADS_1


"Papa kandung ku??" ulang Mawar tersenyum miris.


"Kenapa aku menjadi anak nya??? kenapa bukan anak orang lain saja!!!!" Mawar ambruk di lantai, ia sudah tidak tahan dengan kehidupan nya sekarang. Dalam sekejap semuanya sirna dan hanya tersisa luka dan kepahitan. Tiada harga diri yang selama ini ia agung agungkan.


Bram yang sejak tadi diam bergerak pelan mendekati mawar, lalu ikut ambruk dan memeluk mawar yang menangis sejadi jadinya.


"Maafkan papa nak, papa pa tas di hukum karena semua nasib buruk yang menimpa mu" ucap Bram memeluk putrinya.


Mawar tak menyahut lagi, hanya tangis dan sesegukan yang terdengar dari bibirnya.


Beralih pada Raisa. Gadis mungil nan imut itu kini duduk di sofa ruang kerja Johan. Ia masih sulit mempercayai semua ini.


"Bagaimana mungkin aku tidak bisa mengingat apapun? aku hanya tahu sejak kecil aku bersama Bram dan juga mama" lirih Raisa frustasi. Sejak kemarin ia berusaha untuk mengingat sesuatu. Namun hasilnya tetap nihil.


"Sudah lah Raisa, kamu tidak perlu memaksakan diri" kata Johan.


"Tetap saja, aku menjadi penasaran" balas Raisa.


Johan mengangkat bahu, Raisa benar benar gadis keras kepala. Sifat keras dan pemberani nya sama persis seperti sifat mama nya.


"Jadi bagaimana?" tanya Johan.


" Apa nya?" sahut Raisa bingung.


"Kau akan tetap tinggal bersama Yoga, atau ikut bersama ku??"


Pertanyaan yang berat, Raisa sudah terbiasa dengan kehadiran Yoga. Bahkan mungkin benih cinta sudah tumbuh di relung hatinya. Hanya saja mereka masih saling menutupi perasaan masing-masing.


"Aku tidak tahu, aku sudah terbiasa dan nyaman dengan nya" jawab Raisa jujur.


"Kalian belum ada ikatan, tidak baik sudah satu atap bahkan satu kamar" jelas Johan.


Brak~


Yoga masuk ke dalam ruangan kerja Johan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Apa apaan ini?" serga Johan kesal, ia berdiri dari duduknya, lalu menghampiri Yoga dengan tatapan kesal.


"Kau yang apa apaan, kenapa kau menghasutnya!!!" marah Yoga.


"Aku tidak menghasutnya, lagi pula aku kakak nya!!" bantah Johan.


"Tapi aku...." ucapan Yoga terhenti, ia bingung ingin mengaku sebagai apa bagi Raisa, karena memang mereka tidak memiliki ikatan dan status yang jelas. Kekasih yang selalu mereka bicarakan hanya sekedar canda dan gurauan atau malah untuk saling meledek. Belum ada yang jelas di antara mereka.


Raisa menatap Yoga, menunggu kata kata selanjutnya yang akan Yoga ucapkan.


...----------------...


Hallo reader ku tersayang, selamat menikmati tulisan aku. Maaf jika ada kesalahan atau bahkan kata kata yang sulit kalian pahami.Kakiam boleh kok menulis di kolom komentar sebagai koreksi nya.


Jangan lupa like nya juga yah😘 dukungan kalian adalah penghargaan terindah dan terbesar bagi ku😘


Sekali lagi terimakasih sudah mau membaca karya Ku

__ADS_1


__ADS_2