
"Uwueeek.....uwueek....." Yoga berlari masuk ke kamar mandi, sudah 3 hari dirinya seperti ini. Bolak balik keluar masuk kamar mandi, hanya untuk memuntahkan cairan bening tapi sedikit kental.
"Apa yang terjadi pada ku?" gumam Yoga heran, ia menatap pantulan wajah nya yang terlihat sedikit pucat.
Sejak kepergian Raisa, Yoga semakin tidak memperhatikan dirinya. Bahkan Niko marah marah dan terus menasehati pria itu agar tetap hidup dengan baik.
Tapi, apa boleh buat. Yoga merasa hati dan semangat hidup nya ikut bersama kepergian Raisa.
"Mangga" gumam Yoga tiba-tiba teringat dengan buah itu.
Yoga berjalan keluar dari kamar mandi, lalu keluar dari kamarnya menuju ke kamar milik Niko.
Sekarang jam menunjukkan pukul 1 dini hari. Niko sudah tertidur 1 jam yang lalu. Kelelahan menghampiri dirinya, sehingga ia tidur cepat. Bagaimana tidak, semua pekerjaan Yoga harus ia kerjakan, pria itu terlalu larut dalam kesedihan.
Tuk!! Tuk!!
Sekali dua kali ketuk, tak ada tanda tanda dari Niko bangun.
Brak!!!, Brak!!
"Niko bangun!!!!!" teriak Yoga menggebrak pintu kamar Niko tidak sabaran.
Pria yang masih bergelut di dalam dunia mimpi itu tersentak kaget dan bangun dari tidurnya.
"Siapa!!!" teriak Niko dari dalam. Ia terdengar malas untuk bergerak, namun Yoga terus membujuk pintu kamarnya hingga ia keluar.
ceklek~
Pintu terbuka, dengan mengusap matanya yang masih mengantuk, Niko menatap Yoga.
"Ada apa membangunkan aku?" tanya Niko sembari menguap.
"Aku mau mangga muda Niko!" ucap Yoga.
"What??? kamu gila huh? udah jam berapa ini. Mana ada toko buah yang masih buka"
"Tapi aku mau, rasanya tidak tertahankan Niko!" rengek Yoga. Air liurnya bahkan sampai menetes keluar.
"Dasar gila, Samapi segitunya" heran Niko.
"Ayolah Niko, aku merasa ingin mati jika tak mendapatkan nya" ujar Yoga lagi. Ekspresi wajahnya datar, tapi nada suaranya terdengar sedikit manja.
Niko menatap Yoga heran, ada dengan pria ini?" pikirnya.
Niko kembali masuk ke dalam kamarnya, mengambil jaket dan kunci mobil.
"Ayo!" ajak Niko.
Mereka pergi berkeliling mencari toko buah atau kios kios di pinggir jalan.
"Aneh tau gak, aku udah kaya nemenin wanita ngidam" gumam Niko menggerutu.
Yoga tidak menyahut, ia malah melihat keluar kaca mobil mencari cari orang yang menjual buah buahan.
__ADS_1
"Kita sudah berkeliling Yoga, tapi toko buah gak ada yang buka. Karena memang ini jadwalnya tidur" kata Niko menatap Yoga jengah. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Yoga saat ini.
"Kamu kenapa sih, apa kamu terbawa suasana sedih sama Raisa lagi? aku mohon yah sama kamu. Raisa itu udah tenang di alam sana. Jadi kamu harus ikhlas yoga. Biar dia tenang dan bahagia. Jika kamu gini terus nanti dia semakin sedih melihat mu seperti ini" nasehat Niko panjang lebar.
"Aku tahu!" balas Yoga singkat. Membuat Niko mendesah berat, mau berbusa pun mulutnya. Yoga tetap masih bersikap seperti ini.
"Belok ke rumah Johan. Aku pernah lihat ada pohon mangga di rumah nya. Aku rasa saat ini sedang berbuah"
"Huh.. baiklah" jawab Niko pasrah. Ia memutar arah mobil menjadi menuju ke rumah Johan.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di kediaman keluarga Jeland. Yoga turun dengan tergesa-gesa dari mobil. Kemudian berlari kearah pohon mangga yang terlihat berbuah lebat.
"Hei, minta dulu sama pemiliknya. Jangan maling!" teriak Niko.
Yoga terlihat tidak peduli, ia terus mencoba menggapai buah mangga yang terjuntai rendah.
"Dasar!" dengus Niko. Ia berjalan menuju ke rumah Johan, ia harus membangunkan pria itu. Enak saja dia tidur enak, sementara dirinya harus menderita menemani pria telat ngidam ini.
Ting Tong!!!
Niko mencoba menekan bel, tapi tak kunjung pintu terbuka.
Seorang satpam menghampiri Yoga, ia bermaksud ingin membantu teman bos nya ini.
"Mau saya bantu tuan?" tawar nya.
Yoga menoleh sebentar, kemudian kembali fokus menggapai buah mangga itu.
"Tidak perlu, pergilah tidur" kata Yoga.
"Berdirilah di situ, jangan bantu aku. Atau kau di pecat!" ancam Yoga saat satpam itu hendak bergerak membantu nya meraih buah mangga yang sedikit lagi mereka dapatkan.
"Baiklah tuan" lirih Satpam takut, ancaman Yoga tidak sembarang ancaman. Ia sangat tahu sifat pria ini.
Sedangkan di dalam rumah, pemilik pohon mangga itu masih enak enak tidur.
Lama kelamaan suara bel mulai mengganggu kenyamanan nya.
"Siapa sih!" dengus Johan mengerang kesal. Ia turun dari ranjang nya, kemudian keluar dari kamarnya.
Ketika keluar, Johan menoleh ke arah kamar adiknya. Ternyata Titi juga terganggu oleh suara bel itu.
"Kok ada tamu sih malam malam gini" kata Titi. Johan mengangkat bahu, ia juga tidak tahu siapa yang sudah mengerjai nya.
"Kita lihat saja" kata Johan.
Mereka berjalan menuju ke pintu utama, mengintip sebentar melihat siapa yang bertamu selarut ini.
"Niko?" ujar Johan langit membuka pintu.
"Ahh Akhirnya kalian bangun juga" ucap Niko bernafas lega.
"Ada apa? kenapa malam malam begini ganggu orang aja" omel Titi.
__ADS_1
"Kalian lihat saja itu!" tunjuk Niko pada Yoga yang masih melompat lompat berusaha menggapai buah mangga.
Johan dan Titi saling melempar tatapan aneh, apa yang terjadi pada pria itu.
"Dia sedang apa?" tanya Titi.
"Malam malam begini ambil mangga " sambung Johan.
"Hufff...Aku juga tidak mengerti, tiba tiba saja dia menginginkan nya. Bahkan air liurnya sampai meleleh saat ia meminta tadi" jelas Niko.
Titi terdiam, ia mantap lekat pada Yoga.
"Apa mungkin tuan Ngidam? tapi kan, nona sudah meninggal " pikir Titi dalam hati.
"Aku sepemikiran dengan mu!" ujar Niko menebak pemikiran Titi.
"Apa?" seru Titi. Johan menatap keduanya bingung.
"Kau pasti berpikir dia sedang ngidam kan?" tebak Niko.
Titi mengangguk, Yoga memang terlihat seperti orang ngidam.
"Ngidam? gak mungkin lah, adik ku sudah meninggal mana mungkin Ngidam. Lagi pula Yoga cowo, masa ngidam sih" sangkal Johan.
"Itulah yang kami bingung kan tuan. Bukan masalah cowo atau cewe nya. Tapi masalahnya kenapa baru sekarang? setelah nona tidak ada" ucap Titi.
"Cowo ada juga loh yang ngidam, jangan salah kamu" celetuk Niko.
"Aneh aneh saja, ngidam kok telat" cibir Johan.
Mereka menghampiri Yoga, menatap pria yang baru satu Minggu saja sudah segila ini. Apalagi seumur hidup?.
Rasa bersalah yang Yoga rasakan pada Raisa, membuat setengah jiwanya terbawa oleh Raisa.
"Kalo mau bengong, mending pergi aja!" ketus Yoga.
"Hei, nyindir kami?" sungut Johan.
"Lalu, siapa lagi. Apa aku menyindir hantu?" balasnya semakin membuat Johan kesal.
"Terserah kau saja, pria aneh!" Johan berlalu pergi dari sana, masuk ke dalam rumah dengan membawa hati yang kesal.
Titi menghela nafas berat, ia menatap mantan majikan nya, raut wajah nya sedih melihat keadaan yoga seperti ini, hati Titi terasa sangat iba.
"Tuan, masuk lah. Di dalam ada yang sudah di petik" ajak Titi.
"Tidak mau, aku mau petik sendiri " tolak Yoga.
Hup.
Sekali loncat, buah mangga masuk ke dalam genggaman tangan Yoga.
"Akhirnya dapat juga" gumam Yoga dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Cih, dia senang sekali " decak Niko melihat Yoga senang. Persis seperti wanita hamil yang sedang ngidam, tingkah Yoga benar benar aneh.
...----------------...