Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Sarapan penghancur Usus


__ADS_3

Setelah masak semua, Yoga pergi naik ke atas untuk memanggil Raisa dan Titi.


Tuk!! Tuk!!


"Baby, ayo turun. Kita sarapan"


"Malas" sahut Raisa dari dalam.


"Kami dah masak Lo buat kalian. Special" sahut Yoga lagi.


Raisa dan Titi saling pandang, mereka jadi penasaran. Apa yang bisa dua laki laki itu masak.


Ceklek.


"Hem.. Baiklah"


Titi dan Raisa berjalan beriringan melewati Yoga, mereka masuk ke dalam dapur dan duduk bersebelahan.


Sebenarnya Titi sedikit canggung bersikap seperti ini. Apalagi dirinya hanya seorang pelayan.


Tapi, Raisa memaksa dan meyakinkan dirinya bahwa dirinya pantas dan tidak masalah untuk bersikap seperti itu.


Yoga dan Johan berdiri di depan kedua wanita pujaan. Seolah mereka adalah pelayan hari ini.


"Selamat pagi nona nona, kalian terlihat cantik hari ini" Puji Johan.


"Basoh!" balas Raisa.


Yoga dan Johan tidak putus asa, mereka berlari ke arah dapur. Kemudian kembali membawa masing masing satu nampan.


"Ini untuk Princess Titi"


"Dan ini untuk Baby Raisa"


Yoga dan Johan tersenyum kikuk, meskipun bentuk dan aromanya sedikit menyengat, tapi mereka berusaha untuk tetap tersenyum dan bangga.


"Apa ini?" Raisa mengambil sendok, melihat apa yang ada di dalam piring.


"Nasi goreng?" tebak Titi, raut wajah kaget.


"Iya lah, special kita yang masak" sorak kedua pria itu kompak.


Bentuk masakan mereka benar benar tidak menarik. Sepiring nasi goreng campur sayur, yang di cincang. Bukan di iris, tapi di cincang. Lalu topingnya ayam goreng crispy, warna nya sedikit menghitam.


Raisa dan Titi tampak ragu, tapi mereka tetap mencoba untuk menyicipinya.


Ketika satu sendok masuk ke dalam mulut mereka. Yoga dan Johan menatap penuh harap. Penasaran dengan reaksi sang pujaan.


1.


2.


3.


"Uwekkkk.... uwek...."


"Makanan apa ini???" Raisa meraih air minum, lalu meneguk habis hingga tak bersisa.


"Pahit, asin, pedas. Ahh rasa yang tak pernah ada!!!" sahut Titi.


"Huh, masa sih? tadi enak kok"


Yoga meraih sendok Raisa, kemudian menyendok kan ke dalam mulutnya.


"wueekkkk.... iya bener, gak enak!" kata nya.

__ADS_1


"Ini bukan sarapan sehat, tapi perusak usus!" omel Raisa.


Titi tertawa, melihat ekspresi lucu Johan ketika menyicipi masakan nya sendiri.


"Gagal deh" gumam mereka sedih.


"Yaudah, biar kami yang masak yah"


"Eh gak usah!" cegah Raisa menyambung perkataan Titi.


"Kenapa sih?" gemes Johan. Adik nya akhir akhir ini terlihat sangat menyebalkan.


"Enak saja kalian makan enak, nih makan ini aja!"


Raisa mendorong kedua piring nasi goreng itu ke hadapan Yoga dan Johan.


"Kalian harus makan ini, biar tahu rasanya pahit di khianati!. Bagaimana hancurnya rasa hati kami"


"Huh?"


"Nyindir lagi" lenguh Johan.


Titi tertawa, lalu mengikuti Raisa menuju ke dapur.


"Ini semua kary kamu, kenapa kamu membuat sakit hati adik aku!"


"Lihatkan, aku juga kena"


Gerutu Johan menyalahkan Yoga, ia terpaksa menghabiskan nasi goreng buatannya sendiri.


"Makan aja lah" sahut Yoga pasrah.


...----------------...


Yaisya melangkah cepat, ia terlihat tergesa gesah masuk ke dalam kamar Gladies.


Gladies yang tengah santai menonton tv serial kesukaannya menjadi kaget.


"Kamu ini yah, keadaan sudah seperti ini. Masih juga santai!"


"Kenapa lagi sih Tante, ada apa lagi?" balas Gladies malas.


"Lihat tuh, Raisa berhasil kembali dengan Yoga! dan kamu!!! masih tenang dan diem aja??"


"Tante kan udah bilang kemarin, ketika mereka renggang, maka kamu berusaha untuk mendapatkan hati Yoga"


Yaisya menarik nafas dalam, berbicara tanpa jeda membuat nafas nya sesak.


"Udah kah Tante, biarkan aja mereka bahagia dulu. Masa sih sedih mulu"


Yaisya memegangi kepalanya, tidak habis pikir dengan pemikiran Gladies yang santai.


"Kamu ini yah, selalu saja mensia siakan kesempatan"


Gladies tersenyum lembut, menuntun Yaisya untuk ikut duduk bersamanya di sofa kamar nya.


"Tante, tenang. Kita tidak perlu terburu-buru. Semuanya akan hancur berkeping-keping. Meskipun aku tidak bisa mendapatkan Yoga. Setidaknya wanita itu juga tidak bisa mendapatkan nya"


Yaisya menghela nafas berat,


"Dengan kamu santai begini? kamu bilang ingin menghancurkan mereka??"


"Aduh Tante....Slow baby. Biarkan mereka bahagia sebentar, sebelum kehancuran itu datang. "


"Tante tahu? akan lebih menyakitkan ketika kehancuran itu datang setelah bahagia dan penuh harapan"

__ADS_1


"Maksud kamu?" Yaisya tidak mengerti, penuturan Gladies terlalu berbelit.


"Makanya Tante tenang aja, biarkan aku yang mengurusnya" balas Gladies.


Ia tersenyum misterius, memikirkan keberhasilan rencana yang telah ia rancang untuk Yoga dan Raisa.


Gladies berkeyakinan penuh, jika rencananya akan berhasil.


"Persiapkan diri Tante untuk tertawa di atas hancur nya keluarga Jeland"


Deg.


Yaisya terdiam, ia pernah mendengar nama itu.


"Maksud kamu?"


"Tante gak tahu yah? Raisa itu adalah ratu di keluarga Jeland. Putri kecil keluarga Jeland yang hilang"


"What?? jadi wanita itu??"


"Yes Tante, wanita yang pernah keluarga kita hancurkan dengan membunuh menantu dan cucu keturunan Jeland"


Gladies tersenyum misterius, awalnya ia sangat kaget mengetahui fakta ini. Namun, akhirnya ia menjadi senang. Dengan menghancurkan Raisa, maka keluarga nya akan melepaskan dendam.


"Kamu kok gak bilang sama Tante soal fakta ini? huh, kayanya Tante harus aktif lagi di dunia mafia!"


"Ssttttt"


Gladies menenangkan tantenya, mereka tidak perlu bersusah susah Sekarang.


"Tante diam dan nikmati saja masa tua Tante. Keponakan mu ini, akan menyelesaikan semuanya"


Yaisya tersenyum bangga, akhirnya gadis lugu yang ia bina, bisa juga menjadi seperti nya.


"Tidak sia sia aku membesarkan mu"


Gladies tersenyum senang, lalu memeluk Tante yang sudah ia anggap seperti mamanya sendiri.


"Sekarang, mari kita menonton tv" sorak Gladies.


...----------------...


Kembali lagi ke duo pasangan yang baru akur.


Titi dan Raisa duduk di taman, menikmati sarapan pagi. Meskipun sekarang sudah tidak bisa di katakan masih pagi.


Sedangkan Yoga dan Johan berdiri tak jauh dari mereka duduk. Memperhatikan betapa lahapnya dua gadis itu makan enak.


"Kenapa lihat lihat?" sungut Raisa menatap sinis pada Yoga dan Johan.


"Gak papa.... Makan nya enak?" lirih Johan menyindir.


"Tuan mau?" tawar Titi. Ia sebenarnya tidak tega melihat Yoga dan Johan hanya melihat mereka makan.


Johan mengangguk cepat, tangannya sudah terulur untuk meraih paha ayam yang Titi kasih.


"Enak aja! makan aja tuh nasi goreng nya!" tukas Raisa merebut paha ayam itu dari tangan Titi sebelum Johan meraihnya.


"Hahahaha...." ledek Yoga tertawa keras, padahal dirinya juga menginginkan ayam bakar itu.


"Sorry" cicit Titi.


"Ayo, makan yang banyak. Kita tuh butuh energi yang banyak untuk menghadapi pria seperti mereka!" ujar Raisa. Ia kembali melontarkan kata kata sindiran untuk Yoga


"Gas teros!!!! sampai polll" teriak Yoga.

__ADS_1


Raisa tampak tak peduli, ia malah semakin menikmati makanannya.


__ADS_2