
Bruk~
Tubuh Raisa terhenyak di tanah yang berumput, taman itu terlihat sepi. Air mata perlahan kembali mengaliri pipinya.
Masih terdengar jelas di telinganya perkataan dokter, bahwa dirinya positif hamil 6 Minggu. Raisa bingung, apa yang harus ia lakukan dengan keadaan ini.
"Kenapa?? kenapa kamu hadir di saat kondisi ku begini?" lirih Raisa sambil memegangi perutnya.
Beberapa orang lewat menatap aneh pada nya, berbagai macam pemikiran menghinggapi mereka.Namun, Raisa terlihat tidak perduli, ia terus menangis dalam diam.
"Kamu kenapa? apa perut mu sakit?"
Raisa menoleh, menatap pria yang akhir akhir ini mengganggunya.
"Pergilah, aku sedang tidak mau bertengkar" usir Raisa.
"Aku tidak bermaksud mengganggu mu, tapi aku mau membantu mu" kata Dave.
"Ayo duduk di bangku itu, " ucap Dave lagi, sembari menuntun Raisa ke arah bangku.
Raisa menurut, ia duduk di bangku dalam keadaan masih menangis. Ia juga menutup wajahnya agar tidak di lihat oleh Dave.
"Kamu ada masalah apa? jika berkenan kamu boleh cerita padaku"
Raisa tidak peduli, ia masih menangis.
Hufff... Cukup lama Raisa menangis dengan di temani oleh Dave. Akhirnya ia bisa mengendalikan dirinya.
Matanya yang membengkak, menatap Dave tajam.
"Apa?" tanya Dave.
"Kenapa kamu masih di sini, aku kan sudah menyuruh mu pergi!"
"Bagaimana aku bisa pergi, sedangkan kamu masih menangis. Pria macam aku, membiarkan seorang wanita menangis sendirian."
Raisa memalingkan wajahnya mendengar ucapan Dave barusan. Ia sedikit malu pada Dave.
"Aku sudah baik baik saja, kamu boleh pergi"
Dave tidak bergerak, ia malah menatap Raisa lekat.
"Apa seseorang mengganggu mu?" tanya Dave.
"Itu bukan urusan mu!" ketus Raisa, ia segera bangkit dan bergegas pergi tanpa tersadar ,surat hasil pemeriksaan nya tertinggal di bangku itu.
"Apa ini?" gumam Dave melihat sebuah map di samping nya.
"Ini pasti milik Lina" ucap Dave, ia berdiri dan hendak mengejar Raisa, tapi gadis itu sudah lebih dulu masuk ke dalam taxi.
"Yah, dia sudah." lenguh Dave.
Ia pun melihat map coklat itu, rasa penasaran mulai menggerogoti hatinya.
Karena tidak tahan menahan rasa penasaran, akhirnya Dave membuka dan melihat isi map itu.
Mata Dave melebar, ia melihat keterangan dan pernyataan surat yang mengatakan bahwa gadis itu tengah hamil.
__ADS_1
"Jadi dia hamil?" gumam Dave. Setengah hatinya mulai retak, dirinya tertarik pada istri orang.
"Eh tapi kenapa dia menangis? apa dia belum menikah?? apa dia?? ahh....Kenapa otak ku selalu saja menerka-nerka."
Dave kembali memasukkan hasil pemeriksaan Raisa kedalam map, lalu membawa nya pergi bersamanya. Dave berniat akan mencari Raisa besok dan memberikan ini pada nya.
...----------------...
Di dalam taxi, Raisa mengirimkan pesan singkat pada Yoga. Ia berpikir ingin memberitahu yoga hari ini juga.
To My Yoga
Aku ingin bicara, apa bisa?
Raisa menatap pesan yang ia kirimkan pada Yoga. Ia menunggu yoga membaca nya dan membalas.
Sudah hampir 30 menit, Raisa juga sudah sampai di depan kantor Yoga. Tapi, pria itu masih belum membalasnya.
"Apa dia dalam meeting?" pikir Raisa hanya berpositifthinking.
"Nona, mau turun di sini atau bagaimana?" tanya supir taxi. Sudah lama mereka berdiam diri di depan kantor Yoga, tapi Raisa tak kunjung keluar.
"Maaf pak, saya akan turun di sini saja" jawab Raisa sembari memberikan ongkosnya.
"Baik, terimakasih nona"
Raisa turun, ia mulai memasuki gedung kantor Yoga. Sudah lama ia tidak datang ke kantor ini sejak kejadian 1 bulan yang lalu.
Keadaan masih sama, semua orang yang melihat kedatangan nya memberi hormat padanya.
From Yoga
Aku di ruangan kerja
Senyum manis terbit di bibir Raisa, ia melangkah cepat masuk ke dalam lift.
Ting~
Pintu lift terbuka, Raisa langsung menuju ke ruangan kerja Yoga.
Tanpa mengetuk pintu, gadis itu masuk dan mendapati Yoga tengah sibuk dengan pekerjaan nya.
Raisa masih tersenyum, ia berjalan pelan menghampiri Yoga.
"Mau bicara apa?" tanya Yoga ketus.
Seketika senyum itu berganti dengan rasa ketakutan. Hati Raisa mulai gelisah, ia takut Yoga tidak mempercayainya. Apalagi sikap pria itu sangat dingin Sekarang.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu" ujar Raisa bergetar.
"Katakanlah, aku tidak punya waktu banyak" ungkap Yoga berdiri dari duduknya, kemudian berdiri di hadapan Raisa.
"Dia masih marah pada ku" batin Raisa. Ia berusaha menahan air mata yang saat ini hampir terjatuh dari pelupuk matanya.
"Kamu masih marah?" tanya Raisa.
"Tidak." jawab Yoga singkat. Tidak ada tatapan hangat yang biasa ia tunjukkan pada Raisa.
__ADS_1
"Apa hanya itu? kalau begitu pergi lah" usir Yoga hendak kembali ke kursinya. Namun Raisa menahan nya.
"Ada hal lain" kata Raisa berusaha meyakinkan hatinya bahwa Yoga pantas tahu.
"Apalagi?" tanya Yoga kembali menatap Raisa datar.
"Aku...A-ak-ku..."
Ceklek~
"Wah ada apa ini?" tanya Gladies berjalan masuk. Ia tersenyum sinis pada Raisa.
"Apa kau tidak lihat kami lagi bicara?" bentak Raisa marah pada Gladies.
"Lalu, apa hubungannya dengan ku? bicara saja!" ketus Gladies sembari bergelayut manja pada lengan Yoga.
Raisa tidak percaya, pria itu hanya diam dan membiarkan gadis itu melakukan hal itu di depan nya.
"Kau sudah gila?" maki Raisa pada Yoga.
"Menurut mu?" sinis Yoga.
Gladies merasa menang, ia sangat senang melihat reaksi Yoga dingin pada Raisa.
"Kak, aku di suruh om Draison untuk menjemput mu" ucap Gladies manja.
"Hm" dehem Yoga menjawab. Ia menatap pada Raisa.
"Apa ada lagi? aku banyak urusan"
Raisa menggeleng pelan, air matanya sudah mengalir membasahi pipi nya. Keberanian nya menciut, ia mulai berpikir bahwa Yoga tida perlu tahu.
"Baiklah, ayo pergi" ajak Yoga pada Gladies.
Raisa terkejut, ia menatap tidak percaya dengan sikap Yoga. Pria itu sudah berubah.
Blam~
Pintu ruangan Yoga tertutup rapat, bersama dengan ambruknya tubuh Raisa di lantai. Ia menangis sejadi jadinya meratapi nasib nya sembari memegangi perut yang sudah ada calon anak nya.
Di saat seperti ini, pria itu malah pergi. Sekarang, dia tinggal seorang diri.
"Aku menyesal sudah mempercayai mu, aku terluka untuk kedua kali nya pada orang yang sama"
"Ku mohon Yoga, kembali lah. Aku membutuhkan mu. Kenapa kau tidak tahu itu? ku mohon...Hikss...."
Rasa kecewa dan sakit yang dulu pernah hampir tertutupi, kini kembali terbuka dan kembali berdarah. Raisa merasa sangat terluka, untuk kesekian kalinya.
Ia berusaha bangkit, mengumpulkan seluruh kekuatan nya yang tersisa sedikit.
Raisa mendekat pada meja kerja Yoga, mengambil pena dan Kertas. Ia akan menulis sesuatu di sana. Menulis sebuah pesan terakhir sebelum ia melakukan sesuatu.
Dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya, Raisa meletakkan kertas itu ke dalam laci meja Yoga. Lalu melangkah pergi dari sana.
"Selamat tinggal Yoga. Semoga kau bahagia setelah kepergian ku. Pastikan kau tidak mencari ku!" Raisa memejamkan matanya,membiarkan Ari mata semakin mengalir deras.
...----------------...
__ADS_1