Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Niko Harus Baik Baik saja


__ADS_3

"Apa dok, kanker otak stadium akhir? Dokter ga salah?" ucap Yoga terkejut. setelah mendengar pernyataan dokter tentang apa yang di alami oleh Niko. Selama ini pria itu terlihat baik baik saja.


"Iya tuan, pasien sudah mengetahui ini sejak lama. Saya tidak tahu mengapa beliau merahasiakan nya dari anda"


"Gak gak mungkin dok, coba periksa sekali lagi. Niko gak mungkin mengalami hal separah itu!" ucap Yoga, ia masih tidak bisa menerima kenyataan ini.


"Kami tidak salah tuan, pasien juga sudah sering menjalani terapi dan checkup, berkonsultasi soal kesehatan di sini." jelas sang dokter.


Yoga menjambak rambutnya sendiri, ini benar benar sulit di percaya. Niko sakit?? dan penyakitnya sangat serius.


Gak, gak...Yoga menggeleng kuat. Ia tidak mau kehilangan Niko secepat ini.


"Saya permisi!" pamit Yoga. Ia kembali berlari menuju ke ruangan Niko yang sudah di pindahkan ke ruangan VVIP di rumah sakit itu.


Raisa melihat kedatangan Yoga, ia menghampiri pria yang terlihat tidak bersemangat.


"Bagaimana, apa yang dokter katakan??" tanya Raisa.


Yoga tidak menjawab, tatapan matanya lurus ke arah wajah damai Niko yang belum sadarkan diri.


Mulut Yoga seakan terkunci, ia sudah tidak tahu harus berkata apa. Semuanya secara tiba-tiba menghancurkan kebahagiaan nya. Padahal ia baru saja damai dengan Raisa, tapi malah malapetaka baru menghampiri nya.


"Niko!! Niko!!" Draison masuk ke dalam ruangan inap Niko, ia terlihat panik dan terburu-buru.


"Papa?" ujar Yoga.


"Bagaimana keadaan nya? apa dokter sudah memastikan nya?"


tanya Draison.


Yoga heran, apa yang papa nya bicarakan.


"Memastikan apa om?" tanya Raisa.


"Huh? astaga!!! mati aku, Niko akan mengamuk jika akan aku mengasih tahu kalian!" pekik Draison.


Raisa mulai curiga, ia menatap Niko yang terbaring lemah dan Draison secara bergantian.


"Apa sih sebenarnya? kenapa dengan Niko? apa yang kalian sembunyikan!" teriak Raisa


Yoga menghela nafas, perlahan kristal bening meleleh dari sudut matanya.


"Niko mengidap penyakit kanker otak stadium akhir "


Duar!!!!


Raisa merasa petir seakan menyambar dirinya ketika mendengar ucapan Yoga.


Semua permintaan Niko, ucapan Niko, semuanya terngiang di benak Raisa. Ia baru sadar sekarang, maksud dari Niko memohon kepadanya.


"Gak, ini gak mungkin. Niko gak mungkin mengidap penyakit itu!" lirih Raisa.


"Dokter mengatakan Niko sudah lama mengetahui ini, dia sengaja menyembunyikan nya dari ku. Agar aku tidak khawatir " jelas Yoga.

__ADS_1


"Papa tahu Yoga, tapi Niko memohon agar papa tetap diam!"


Raisa menangis, meskipun mereka tidak terlalu dekat. Setidaknya dulu mereka pernah dekat dan Niko sering membantu dirinya.


...----------------...


3 hari Niko di rawat di rumah sakit, ia masih belum sadarkan diri. Entah apa yang membuat pria itu betah berlama lama di alam mimpi.


Dengan setia Yoga duduk menemani kakak angkatnya.


"Kamu gak istirahat?" tanya Raisa. Ia tahu Yoga sangat khawatir pada Niko, selama satu Minggu ini Yoga tidak memikirkan apapun. Dia hanya ke kantor dan langsung ke rumah sakit.


"Aku gak akan istirahat sebelum brengsek ini bangun, aku akan memaki makinya jika sudah sadar nanti!" gumam Yoga.


Huff....


Raisa menghela nafas, selalu itu yang pria ini katakan setiap kali dirinya menyuruh istirahat.


Raisa berdiri di samping Yoga, menatap lekat wajah pucat Niko


"Dia pernah memohon pada ku, meminta ku untuk melakukan sesuatu. Tapi, aku tidak akan mengabulkan nya. Aku tidak akan mau melakukan apa yang ia minta!" tegas Raisa.


"Apa yang dia minta?" tanya Yoga tanpa mengalihkan tatapan nya dari wajah Niko.


"Kau akan tahu jika dia bangun!" jawab Raisa.


"Engs. .."


Yoga berdiri, mata nya membulat melihat salah satu jari Niko bergerak.


"Cepat panggil dokter!!!" teriak Raisa lagi.


Yoga bergegas keluar dari ruangan Niko, lalu berlari sembari memanggil manggil Dokter


"Dokter!!! Dokter!!!"


"Dokter!!!!"


...----------------...


Di dalam ruangan nya, Niko perlahan membuka mata, menyesuaikan pencahayaan.


"Niko, kamu jangan bergerak dulu yah. Yoga lagi memanggil Dokter" ucap Raisa.


Niko kaget, ia melirik ke arah Raisa.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Niko lemah.


"Aku di sini bersama Yoga, kami merawat mu dan menunggu dirimu sadar!" dengus Raisa merajuk.


"Cih...Aku tidak meminta nya" cibir Niko masih dengan keadaan lemah, tapi dia sudah bercanda seperti itu.


Yoga datang bersama dokter dan suster pendamping.

__ADS_1


"Biarkan kami memeriksanya a dulu" ucap sang dokter.


Raisa memberi jarak, ia berdiri di samping Yoga. Tanpa di kasih aba aba, Yoga langsung memeluk Raisa.


"Akhirnya dia sadar" ungkap Yoga lega.


Seakan ikut merasakan apa yang Yoga rasakan, Raisa turut senang dan merasa lega. Ia membalas pelukan hangat Yoga.


"Aku turut senang" balas Raisa.


Niko tersenyum tipis, ia senang melihat Raisa dan Yoga kembali saling membuka hati.


Dokter selesai memeriksa Niko, ia menghampiri Yoga dan Raisa. Sehingga Yoga dan Raisa melepaskan pelukan.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya, pasien juga dalam kondisi baik" jelas sang Dokter. Ini sungguh kondisi yang luar dugaan, baru saja melewati masa kritis, langsung saja keadaan pasien baik baik saja.


"Benarkah dok???" ucap Raisa tidak mempercayai ini. Yoga kembali memeluk Raisa, begitu juga sebaliknya.


"Kalau begitu kami permisi" ucap dokter.


Raisa dan Yoga menghampiri Niko, mereka menatap Niko dengan tatapan bahagia.


"Aku senang kamu sudah siuman" ucap Yoga.


"Cih, kau senang karena aku atau karena bisa memeluk Raisa!" balas Niko mencibir


"Hei, aku sejak tadi diam, kenapa kalian membawa bawa nama ku!" ucap Raisa garang.


"Aku benci pada mu Niko, kau membuat ku hampir menyesali hidup ku!" gerutu Raisa dengan bibir manyun.


"Memangnya apa yang kalian sembunyikan dari ku?" tanya Yoga bingung.


Niko dan Raisa saling melirik, kemudian menggeleng bersama.


"Aku semakin curiga!" celetuk Yoga.


"Aku tidak peduli!" balas Raisa dan Niko bersamaan.


"Aku marah!!!", ungkap Yoga melipat kedua tangan di depan dada, seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Mama, apa kau juga melihat nya? Yoga kembali bahagia. Aku senang melihat nya ma. Apa aku sudah bisa menyusul mu??" lirih Niko dalam hati, matanya tampak berkaca kaca melihat tingkah Yoga dan Raisa.


"Mama...Aku ..." batin Niko terhenti, matanya tiba-tiba tertutup, bibirnya tersenyum seakan dia sangat bahagia.


Teettttttttttt................


"Niko!"


"Niko?"


Raisa dan Yoga yang sedang berdebat seketika menoleh kearah Niko. Melihat mesin pendeteksi jantung Niko berbunyi datar.


"Tidak!! Tidak mungkin!!!!" teriak Raisa dengan mata yang mulai berkaca kaca melihat kearah Niko yang seperti orang tertidur.

__ADS_1


Bibir Yoga bergetar, ia berlari keluar mencari dokter. Ia tidak mau kehilangan Niko.


"Dokter!!!! Dokter!!!!" Suara Yoga kembali bergema di lorong rumah sakit.


__ADS_2