
Di sebuah bandar udara, terlihat seorang wanita cantik tengah menarik koper besar nya.
Tak jauh di belakang wanita itu terlihat seorang anak laki laki yang sangat tampan dan lucu. Tapi sayang, raut wajah nya terlihat sangat dingin dan datar.
"Astaga, Roy. Kenapa wajah mu begitu kaku?" Raisa berjongkok di depan putranya. Memberi kecupan di tiap sisi wajah putra nya agar lebih relax dan tersenyum.
"Mami, wajah ku itu memang seperti ini. Bagaimana bisa di rubah"
"Setidaknya kamu tersenyum sayang" balas Raisa tersenyum, seolah mengajarkan putra nya untuk tersenyum.
Mereka berdua berdiri di pintu keluar bandara, menunggu jemputan dari Dave.
"Uncle kemana sih ma? kok dia gak datang datang"
"Sabar sayang, pria itu memang begini. Nanti mami kasih pelajaran" jawab Raisa menahan geram.
Penampilan ibu dan anak itu sangat kece, Raisa mengenakan dress di bawah lutut dan di padukan dengan jaket berbahan wol. Sedangkan Roy tetap tampil tampan dengan Hoodie dan celana panjang nya.
Mereka memakai masker dan kaca mata.
"Itu seperti nya uncle" sorak Roy menunjuk salah satu mobil Ferarri melaju kearah mereka.
Raisa menoleh, membuka kaca matanya untuk melihat lebih jelas lagi.
"Seperti nya begitu" balas Raisa tersenyum lega.
"Ya ampun....Maaf yah aku telat" ucap Dave dengan nada suara penuh penyesalan. Ia tidak bisa tepat waktu karena terjebak macet.
"Uncle, mami bilang akan memberi mu pelajaran!"
"Benarkah?" kaget Dave berakting takut mendengar ucapan keponakan nya.
"Tentu saja, aku akan membunuh mu jika kau datang lebih lama dari ini" ancam Raisa.
Wanita itu membuka masker dan kaca matanya, ia merasa gerah karena menahan emosi pada Dave.
"Yuk masuk sayang " ajak Raisa membawa Roy masuk ke dalam mobil, meninggalkan Dave bersama barang batang nya.
"Eh bantuin dong!!" teriak Dave minta tolong, koper Raisa terasa sangat berat jika di angkat sendiri.
"Itu hukuman untuk mu" sahut Raisa dari dalam mobil.
Dave mendengus kesal, ia berusaha sekuat tenaga mengangkat koper Raisa dan memasukkan nya ke dalam bagasi.
Fyuu....
"Ni orang bawa baju atau patung sih. Berat banget" gerutu Dave. Kemudian ia ikut masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil melaju meninggalkan bandara.
Setelah kepergian mobil Dave membawa Raisa dan putranya, tinggallah seseorang yang kini tengah mengucek ngucek mata. Meyakinkan dirinya tidak salah lihat.
"Aku seperti mengenali wanita itu, tapi siapa??" ia terus berusaha mengingat ingat di mana pernah bertemu dengan wanita yang ia lihat tadi.
"Haaa... non Raisa!" ungkap nya bersorak berhasil mengingatnya, lalu kemudian menutup mulutnya rapat.
__ADS_1
"Bukan kah nona sudah lama meninggal, tidak mungkin nona hidup lagi" ia malah menjadi bingung.
Perempuan itu adalah pelayan di rumah Yoga, ia datang ke bandara untuk menjemput teman nya yang datang merantau ke daerah nya.
Dave membawa Raisa dan Roy tinggal bersama nya di rumah besar milik nya. Di sana sudah ada Julia dan juga Handika. Atau sering di panggil Mr Bein.
"Kakek!!!!", teriak Roy berlari kearah Mr Bein, lalu memeluknya erat.
"Cucu ku" sambut Mr Bein.
Raisa memeluk Julia, kemudian menyalami Mr Bein yang sudah menurunkan Roy dari pelukannya.
"Pa" gumam Raisa.
Mr Bein mengangguk pelan,lalu tersenyum hangat. Akhirnya putri keluarga Jeland telah kembali. Namun ia menggunakan identitas palsu.
Sekarang Raisa bernama Lina, Janda beranak satu. Roy berhasil membujuk Mr Bein untuk membantunya agar mama nya kembali ke negara asalnya. Sehingga Roy bisa melacak dan menemukan siapa papa kandung nya.
Awal nya Raisa menolak, ia tidak mau ketika Mr Bein ingin memindahkan seluruh keluarga nya kembali ke tanah air. Setelah melalui berbagai proses pembujukan, akhirnya Raisa mau dan meminta identitas nya di perjelas dan di ubah.
"Aunty, aku haus" ujar Roy pada Julia.
"Kalau begitu, mari kita masuk!!!" sorak Julia. Ia membawa Roy masuk ke dalam. Kemudian di ikuti oleh Raisa dan yang lain.
...----------------...
"Apa aku salah lihat yah?" pikir wanita itu meragu. Ia berjalan menuju ke dapur, saat itu Niko berada di meja makan.
Wanita itu masih mengingat ingat dan mencoba meyakinkan dirinya jika ia salah lihat
Niko yang mendengar nya pun menjadi tertarik.
"Apa yang tidak dan nyata itu?" sahut Niko.
Wanita itu menoleh, kemudian mendekat pada Niko.
"Tuan, apa di dunia ini memang ada yang kembar tanpa ada hubungan darah?" tanya wanita itu penasaran.
Niko mengerut, kemudian menatap pelayan nya lekat.
"Menurut ku yah, orang kembar persis itu tidak Ada. Karena apa? orang yang kembar identik saja memiliki perbedaan. Entah dari sikap atau bagaimana aku juga kurang tahu. Lihat Upin dan Ipin, mereka mirip, tapi ada perbedaan nya!" jelas Niko malah sampai ke Upin Ipin.
Pelayan itu melirik jengkel pada tuannya. Bisa bisanya ia membahas film kartun" decak nya.
Niko terkekeh pelan, " memang nya ada apa?" tanya Niko mulai serius.
Pelayan itu terlihat ragu, ia takut jika dirinya membuat Niko tersinggung.
"Tadi di bandara, ketika saya menjemput teman saya tuan. Saya melihat seperti nona muda"
Deg.
Niko terdiam, lalu menatap pelayan itu lekat.
__ADS_1
"Apa kamu serius? Raisa kan sudah.."
"Iya tuan, Karena itu lah saya menjadi ragu untuk membicarakan nya dengan tuan Yoga." lenguh wanita itu kembali menunduk, ia takut Niko marah kepadanya.
"Kamu sebaiknya jangan, bicarakan sama Yoga. Biar aku selidiki Dulu", kata Niko.
"Selidiki apa?"
Deg.
Yoga memasuki ruang makan, ia menatap sinis pada Niko.
"Apa yang kalian sembunyikan!" ucap Yoga terdengar mengerikan di telinga pelayan itu.
"Tidak ada, kami tidak membicarakan apapun. Kamu boleh pergi" kata Niko menyuruh pelayanan untuk segera pergi.
Niko menatap ke arah Yoga, ia seakan tidak mengenali pria ini. Tubuh kurus kering, tidak terurus, Yoga terlihat sangat kacau sekali.
"Dari mana?" tanya Niko
"Dari kantor" jawab Yoga singkat.
Niko mengangguk pelan, ia memberikan Yoga tempat duduk di salah satu kursi di dekatnya.
"Duduk lah, temani aku makan" pinta Niko.
Yoga duduk di samping Niko, mulai meraih makanan. Ekspresi nya sangat datar, hampir tidak pernah senyum terbit di bibir nya.
"Kamu bagaimana kondisi nya?"
"Kondisi apa?" ucap Yoga balik nanya.
"Yah kamu, sehat atau tidak "
"menurut mu??"
Huffff
Niko mengerucutkan bibirnya, susah emang kalo punya teman gak ada ekspresi. Di beri perhatian malah kaya gini.
"Jangan pikirkan aku. Kamu cari lah wanita dan menikah. Umur mu sudah tua" kata Yoga, lalu ia beranjak dari duduk nya.
"Lalu kamu?"
Langkah Yoga terhenti, tanpa berbalik ia tersenyum.
"Aku sudah memiliki wanita dan anak, jadi aku gak akan pernah mencari wanita lain lagi!"
Niko berdiri dari duduknya, menatap Yoga tidak percaya. Mana mungkin pria ini tidak menikah, nanti hidup nya akan kesepian hingga ia tua.
"Sadar lah Yoga, dia sudah lama meninggal. Kau harus menyadari hal itu! dia akan semakin sedih di alam sana!"
"Tapi hati ku tidak ada lagi, aku tidak bisa menyukai wanita lain"
__ADS_1
Yoga melanjutkan langkah nya, meninggalkan Niko yang menatap nya kesal.
"Aku harus mencari wanita yang mirip dengan Raisa itu" tekad Niko.