
Di sebuah taman bermain itu lagi, Roy tampak berdiri di depan gerbang. Langkah nya tampak enggan untuk memasuki taman bermain itu. Matanya menatap semua anak anak yang tengah asik bermain dengan papa mereka. Sementara dirinya, datang selalu dengan pengasuh, atau dengan maminya.
"Tuan muda, kenapa masih berdiri di sini saja? apa tuan muda tidak jadi masuk?" tanya pengasuh menatap heran pada anak majikan nya.
"Aku...."
"Hei, teman ku!" sapa Yoga. Pria itu berjalan cepat menghampiri Roy.
Roy menoleh, senyum manis terbit di bibirnya.
"Ngapain ke sini?" tanya Roy.
"Aku tidak sengaja lewat sini menuju ke cafe ujung sana. Eh liat kamu!" jawab Yoga.
"Kenapa gak masuk?" tanya Yoga lagi.
Roy tidak menjawab, ia kembali menatap teman teman nya yang tengah asik bermain bersama papa mereka.
Yoga mengikuti arah tatapan mata Roy, kemudian berjongkok di samping Roy untuk mensejajarkan tinggi mereka.
"Kamu pengen main bareng papa mu? seperti mereka?" tanya Yoga.
"Tidak mungkin terjadi" sahut Roy terdengar pilu.
Pengasuh Roy sampai terharu mendengar jawaban Roy barusan.
"Kenapa tidak mungkin? papa mu di sini!" Roy menatap Yoga tidak percaya.
"Mulai hari ini, aku adalah papa mu. Kamu bisa memanggil ku kapan aja dan di mana saja. Aku akan selalu ada untuk mu" ucap Yoga begitu saja, entah mengapa ia merasa ingin bersama Roy setiap saat dan menyayanginya.
"Kamu serius?" tanya Roy dengan mata berbinar.
"Hei... apa begitu cara mu memanggil papa mu?" decak Yoga mendengar Roy memanggilnya dengan kata Kamu.
"Wahhh makasih Papa!" Roy melompat ke pelukan Yoga.
"Ayo kita bermain" ajak Yoga. Roy melepaskan pelukan nya, lalu mengangguk setuju.
"Makasih tuan" ujar pengasuh menunduk hormat pada Yoga. Meskipun begitu, pengasuhnya harus tetap mengawasi tuan mudanya. Ia tidak mau membuat kesalahan lagi.
Roy berjalan sembari menggenggam tangan Yoga dengan bangga. gerombolan anak laki laki yang selalu membully nya tampak terkejut.
"Dia datang bersama papa nya" gumam salah satu dari mereka.
Roy melirik kearah mereka, kemudian tersenyum sinis. Seolah olah melalui tatapan nya ia berkata pada mereka bahwa dirinya memiliki seorang ayah, bukan anak haram.
"Aku mau main itu!!"
"Aku mau main itu!!"
__ADS_1
"Aku mau main itu!!"
Yoga terus menemani Roy bermain di setiap permainan yang Roy inginkan.
"Yang mana lagi?" tanya Yoga terengah, mereka baru saja selesai main kejar kejaran.
"Aku mau beli eskrim" ujar Roy.
"Baiklah, kita akan beli eskrim" jawab Yoga mengangkat tubuh Roy masuk ke dalam gendongan nya.
Roy merasa hari ini adalah hari yang paling indah, ia baru tahu rasanya bermain bersama seorang papa itu sangat menyenangkan.
"Papa pura pura saja menyenangkan seperti ini, apalagi beneran" pikir Roy mengulum senyum.
Yoga membawa Roy ke toko es krim yang terletak tidak jauh dari taman bermain itu.
Keduanya duduk di salah satu meja dekat jendela kaca. Menurut Roy, ini mempermudah pengasuhnya untuk mengawasinya, agar pengasuhnya tidak mendapatkan masalah jika terjadi sesuatu terhadap dirinya.
Cukup bijak pemikiran nya, anak seusianya memiliki pikiran yang bijaksana. Patut di apresiasikan.
"Bagaimana, apa kau merasa senang Roy?" tanya Yoga sembari menatap bocah imut yang kebanyakan orang mengatakan mirip dengan dirinya. Bocah itu sibuk memakan eskrim nya.
Roy mengangguk, tentu saja ia sangat senang.
"Aku sangat senang, papa mengabulkan mimpi ku" jawab Roy di sela sela ia memakan es krim.
Yoga terdiam, sungguh miris nasib Roy. Anak seusianya harus terpisah dengan ayah nya.
"Apa itu?"
"Kenapa mau menemani ku? kenapa mau menjadi papa ku?" tanya Roy serius.
Yoga tidak tahu, ia hanya merasa ingin melindungi Roy. Hanya itu, Yoga merasa ada rasa tanggung jawab terhadap Roy.
"Kamu anak yang tampan, dan orang banyak mengatakan kita mirip. Jadi apa salahnya aku menjadi papa mu" jawab Yoga.
Roy mengangguk setuju, ucapan Yoga memang benar. Mereka sama sama tampan dan di gemari, Roy sangat akui itu.
"Apa papa sudah punya istri? atau kekasih?"
Yoga menggeleng, raut wajahnya berubah sedih, membuat Roy heran melihat perubahan nya.
"Kenapa wajah mu berubah sedih? apa kau jomblo abadi?" tebak Roy.
"Yah boleh di bilang begitu, sudah 4 tahun aku jomblo. Sebelumnya jomblo juga tapi kali ini beda" lirih Yoga sedih.
"Kenapa?" Roy mulai penasaran.
"Dulu aku punya kekasih, tapi dia sudah meninggal dan aku tidak bisa mencari pengganti nya" jelas Yoga.
__ADS_1
Roy terdiam sejenak, kemudian mengeluarkan usulan yang membuat Yoga kaget.
"Apa kau mau menjadi papa sesungguhnya untuk ku?" Tanya Roy penuh harapan.
"Maksud mu? " tanya Yoga bingung.
"Kau ternyata bodoh, itulah perbedaan kita" decak Roy kesal.
"Mami ku sangat cantik, dia juga idaman para lelaki, tapi dia tidak mau menikah dengan orang lain. Tapi, jika kau mau aku akan mengurusnya bersama mu" jelas Roy sembari menawarkan diri.
Yoga tercekat, anak ini sungguh berani.
"Mana mungkin mami mu mau, apalagi aku juga tidak mau mencari wanita lain. Aku setia dengan kekasih ku!" balas Yoga.
Roy langsung muram, ia sangat kecewa mendengar jawaban Yoga.
"Eh eh maksudnya bukan begitu" bujuk Yoga berusaha menjelaskan.
"Aku mengerti, silahkan habiskan es krim nya. Aku mau pulang!" Kata Roy dengan muka dingin.
Setelah menghabiskan es krimnya, Roy langsung pamit pergi dan mengucapkan terimakasih pada Yoga telah menemaninya bermain.
"Aku mau pulang dulu, terimakasih untuk semuanya hari ini" ucap Roy, ekspresi nya tidak berubah, masih datar dan dingin.
"Baiklah, hati hati " balas Yoga. Ia tidak bisa berbuat apa apa selain membiarkan Roy pergi.
"Kau memang sangat cerdas, aku bangga memiliki anak seperti mu. Tapi, aku juga tidak bisa menerima mami mu, karena wanita ku telah kembali" gumam Yoga tersenyum miring, ia mengingat bagaimana tatapan sinis dari Raisa kemarin padanya.
"Aku akan mendapatkan mu lagi Raisa! harus!!", tekad Yoga penuh keyakinan dan semangat. Jiwa yang telah mati selama 4 tahun kembali hidup.
...----------------...
Roy tiba di rumah, wajah nya masih tampak murung. Kesenangan yang ia rasakan tadi hilang seketika Yoga menolak permintaan nya.
"Loh, kok prince aku pulang main cemberut?" ujar Julia kaget melihat wajah Roy menekuk.
"Aku capek, jangan ganggu aku" sinis Roy berjalan lurus menuju ke kamarnya, ia melewati Julia begitu saja.
"Hei, apa yang terjadi???" teriak Julia, namun Roy tidak membalas nya. Julia menatap pengasuhnya, lalu menariknya ke arah sofa.
"Jelaskan, apa yang terjadi pada pangeran ku???" desak Julia.
Pelayan itu menunduk, kemudian menceritakan apa yang Roy alami hari ini.
"Tadi tuan muda sangat happy, pria itu terlihat sangat menyayanginya. Bahkan mereka terlihat seperti ayah dan anak. Namun, setelah keluar dari cafe, entah apa yang telah mereka bicarakan, tuan muda Kelu dengan wajah yang seperti tadi" jelas pelayan itu panjang lebar.
Hati Julia tersentuh, ia tahu apa yang Roy rasakan saat ini.
"Kasian dia" lirih Julia.
__ADS_1
...----------------...