Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Misi Mencari Papa di mulai


__ADS_3

"Hiks...Hiks...."


Bocah yang berumur 4 tahun itu menangis tersedu sedu di dalam kamar nya. Ia memeluk bantal guling dan menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut tebal.


Tampak matanya sudah terlihat membekal karena terlalu lama menangis.


"Mami jahat!" gumam nya di sela sela tangis.


Ceklek.


Tangis Roy semakin mengencang, ia tahu siapa yang masuk ke dalam kamar nya.


"Boleh kah mami masuk?" tanya Raisa lembut.


Roy tidak mau menjawab, ia terus menangis di dalam selimut.


"Maaf deh....Mami salah, mami udah jahat sama Roy."


"Hiks...Hiks...Emang!" teriak Roy marah, ia masih menangis keras.


"Mami janji, gak bakal Jahat lagi..." bujuk Raisa berjanji.


"Bohong, mami selalu saja seperti itu, mami itu bodoh!"


Mata Raisa melotot, tega sekali putra nya mengatai nya bodoh.


"Hei, aku ini mami mu. Kenapa kamu mengatai mami? mau jadi batu Hem??"


Roy membuka selimutnya, menatap maminya dengan tatapan marah. Air mata masih terus mengalir dari pelupuk matanya. Raisa sampai tidak tega melihat putranya begini. Ia malah ikut menangis bersama putranya.


"Hikss.....Kenapa mami malah menangis!!", teriak Roy semakin keras menangis.


"Bagaimana tidak, putra mami kaya gini" jawab Raisa semakin menangis sejadi jadinya.


Roy berhenti menangis, ia langsung memeluk maminya erat. Berusaha untuk mendiamkan maminya agar tidak menangis lagi.


"Stttt....Mami gak boleh nangis" lirih Roy, tangan mungilnya bergerak menghapus air mata yang mengalir pelan di pipi Raisa.


"Kamu juga jangan nangis, kalau kamu nangis, mami jadi ikutan nangis"


Roy mengangguk, ia berhenti menangis. Lalu memeluk mami nya.


"Makasih sayang" ungkap Raisa memeluk erat tubuh mungil putranya. Raisa bersyukur kepada Tuhan, ia di berikan malaikat yang sangat baik dan lucu.


Mereka berdua berbaring di ranjang milik Roy, sama sama terlentang menatap langit langit kamar Roy yang terdapat banyak stiker bintang.


"Roy, kenapa tidak ada bulan di antara bintang bintang itu?" tanya Raisa heran. Ia merasa kemarin membeli stiker bukan dan bintang, tapi kenapa bukan tidak Roy tempel.


"Sudah aku buang!"


Raisa kaget, ia menoleh pada putranya.


"Kenapa di buang sayang? mami belinya mahal loh. Itu yang bagus"


Roy menoleh, menatap lekat maminya dan tersenyum.


"Di dunia ini, bulan hanya satu. Dan di hidup ku bulan ku juga hanya satu. Yaitu, mami"


Tes...Tes ..


Perlahan air mata Raisa kembali menetes haru mendengar ucapan romantis dari putranya.

__ADS_1


"Mami jadi baper deh" lenguh Raisa mencubit pipi putranya. Mendengar gombalan Roy, Raisa malah jadi teringat dengan gombalan Yoga.


"Aku tidak ngegombal mami, itu tulus" jelas Roy serius.


"Kamu ini yah, calon buaya kelas katak" decak Raisa.


"Terserah" balas Roy.


Kemudian, mereka kembali menatap langit langit itu lagi. Keduanya hening sementara, hingga Roy kembali membuka mulut dan menanyakan sesuatu yang Raisa tidak suka.


"Jawab aku Mami, satu saja pertanyaan ini" lirih Roy.


"Apa, pasti mami jawab" balas Raisa, ia kembali menoleh pada Roy.


"Apa,,, Papa masih hidup? atau sudah meninggal?"


Jleb~


Pertanyaan ini lagi, Raisa sangat tidak suka jika putra nya kembali menanyakan hal ini.


"Kenapa sih, nanya itu lagi!" ketus Raisa.


"Hidup atau mati!" ulang Roy.


Raisa terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia takut jika menjawab Yoga masih hidup, maka Roy akan meminta bertemu dengan nya. Jika jawab sudah mati, Raisa tidak begitu tega.


"Mami..."panggil Roy lagi.


"Masih hidup" jawab Raisa singkat.


"Sudah kamu tidur, nanti mami bangunkan makan malam!" kata Raisa turun dari ranjang putranya. Memperbaiki posisi baring Roy dan menyelimuti nya.


Setelah Raisa keluar, Roy kembali bangun dan turun dari ranjang nya, kemudian membuka pintu secara perlahan.


"Aman"


Roy bergegas keluar dari kamar, kemudian berjalan pelan menuju ke kamar Julia.


Tuk!! Tuk!!!


"Aunty!!", panggil Roy pelan. Namun, tidak ada jawaban.


"Apa dia tidak di kamar?" gumam Roy bingung. Lalu mencoba membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.


"Sayang...Mau lagi....." Desah Julia pada Dave. Mereka tidak tahu jika Roy ada di kamar mereka.


Teg.


Lampu menyala, Julia dan Dave terlonjak kaget. Sementara Roy menatap datar kearah mereka. Beruntung keduanya berada di dalam selimut.


"Pantes tidak menjawab saat aku panggil!" lirih Roy.


"Apa yang kau lakukan bocil!" serga Dave melotot.


"Uncle cepat lah keluar, aku ingin berbicara dengan princess ku!" usir Roy santai.


"What?? kau mengusir ku? aku ini suami princess mu!" geram Dave. Bagaimana ia tidak geram, bocah tengil itu selalu saja menggagalkan rencana nya untuk berduaan dengan istri nya. Bahkan mereka yang akan melakukan satu ronde lagi menjadi gagal.


"Ahh..." Desah Julia pelan saat Dave memisahkan persatuan mereka.


Roy berdiri di balkon kamar Julia dan Dave, jadi ia tidak melihat mereka yang sedang berpakaian.

__ADS_1


"Tanggung banget" lenguh Dave tidak rela.


"Udah gak papa, malu tahu beginian depan Roy"


"Ihhh besok besok kunci pintu" gerutu Dave cemberut.


Julian terkekeh pelan melihat raut wajah suaminya. Tapi, mereka juga tidak bisa melanjutkan nya. Roy ada di sini, sangat tidak boleh jika mereka melakukan di depan bocah ini.


Setelah mengenakan pakaian nya, Julia menghampiri Roy. Menggendong bocah tampan itu lalu memangku nya duduk di atas sofa balkon.


"Ada apa my prince, datang mencari ku?"


Roy turun dari pangkuan Julia, lalu duduk di samping nya.


"Aku dapat informasi, papa aku masih hidup." ucap Roy serius.


"Lalu?" tanya Julia bingung.


"Bantu aku untuk menemukan nya"


Julia terdiam, ia tidak tahu siapa papa Roy. Ia juga tidak tahu namanya, jadi akan sulit bagi mereka untuk menemukan papanya.


"Begini Roy, aku sebenarnya tidak tahu papa mu itu siapa. Karena memang selama ini mami mu dan paman mu tidak pernah membahas hal ini demi menjaga perasaan mami mu" tutur Julia.


Roy juga tahu akan hal itu, karena itulah ia menjadi sulit untuk mencari siapa papa nya.


"Begini Roy, sebaiknya tujuan utama kita jangan mencari papa mu dulu. Kita cari dulu teman teman terdekat mami mu. Jadi kita bisa mencari informasi dari mereka tanpa mami mu tahu!" jelas Julia.


Roy tersenyum, ide aunty Julia benar benar sangat sangat bagus.


"Aku memang bisa mengandalkan mu Aunty " ungkap Roy memeluk Julia.


"Asal kau bahagia Roy, aku akan selalu membantu mu" balas Julia.


...----------------...


Malam yang sepi, Yoga menatap langit malam dari kaca jendela ruangan kerja nya di kantor. Sudah malam begini ia masih betah berada di ruangan itu. Berada di rumah nya juga akan membuat hatinya sakit.


Setiap melihat kamar dan tempat tempat yang pernah ia lewati bersama Raisa, membuat dirinya kembali teringat pada gadis malang itu.


"Kenapa aku tidak bisa melupakan mu?"batin Yoga.


Drrttt .....


Drrtttt......


Yoga berbalik, melirik ke atas meja kerja nya. Di sana terlihat ponselnya berkedip dan bergetar pertanda ada panggilan masuk.


Yoga berjalan dan merai ponselnya. Lalu menerima panggilan yang ternyata dari Johan.


"Ada apa?" ucap Yoga to the point.


"Hei... Apa kau tidak merindukan aku? ayolah bergabung bersama kami di sini, kita happy happy" ucap Johan di sebrang sana


"Aku sedang tidak ingin minum" tolak Yoga.


"Nongkrong saja, di sini ada Niko dan Titi" jelas Johan.


"Humm....Baiklah, share lokasi" putus Yoga menerima ajakan para sahabat nya.


"Baiklah"

__ADS_1


Yoga memutuskan panggilan telfon nya dengan Johan. Kemudian tak lama kemudian sebuah pesan masuk.


"Tidak jauh dari sini" gumamnya, lalu bergegas pergi.


__ADS_2