
Terik matahari hari mulai terasa, karena memang sekarang sudah hampir jam 10 pagi. Panas nya lumayan terasa membakar kulit yang terjangkau oleh nya.
Meskipun begitu, Raisa masih betah dan enggan untuk beranjak dari bangku taman.
"Kenapa aku malah merindukan pria itu?" gumam Raisa pelan.
"Siapa?"
"Eh copot copot!!" kaget Raisa terlonjak mendengar suara seseorang secara tiba tiba.
"Iss kau ini Titi, kenapa mengagetkan aku!" dengus Raisa mengusap dada nya, memeriksa apakah jantung nya masih berada di posisi yang aman atau tidak.
Sedangkan Titi malah terkekeh pelan.
"Aku datang untuk memanggil mu nona, panas matahari sudah tidak baik bagi kulit mu. Berbeda jika kau ingin kulit mu terbakar"
Raisa mencibir, ia masih ingin berada di taman ini.
"Aku masih betah di sini"
"Tapi nona harus segera masuk" ucap Titi lagi. Gadis itu menatap wajah nona muda nya yang terlihat lesuh.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu nona?"
Hufffff....
"Kamu tahu Titi, saat ini aku tiba-tiba merindukan kak Johan" lirih Raisa.
"Kenapa begitu? apa kalian sangat dekat?"
Raisa menggeleng.
"Dia adalah malaikat penyelamat ku, dia selalu ada untuk ku. Kesusahan ku, selalu bisa ia atasi"
Titi terdiam, dalam hati ia mengungkapkan betapa beruntungnya Raisa.
"Apa kau menyukai tuan Johan??"
"Tentu saja tidak!" jawab Raisa cepat, ia tahu Titi menyukai Johan.
"Aku tidak menyukainya, pria itu selalu saja menganggap ku seperti adiknya yang sudah tiada" kelu Raisa.
Titi tersenyum, tangan nya tergerak mengusap bahu Raisa.
"Kalian itu memiliki kemiripan yang luar biasa nona, mungkin aja nona adalah titisan dari mendiang adik nya"
"Eh nona, ayo masuk ke dalam. Sebelum kulit kita terbakar dan gosong". Titi menarik lengan Raisa dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Eh eh..." teriak Raisa yang belum siap karena Titi menariknya begitu saja.
Hari ini adalah hari Senin, Yoga pergi ke kantor pukul 8 pagi. Setiap hari Senin di perusahaan Yoga selalu di adakan rapat untuk semua pegawai, mau pegawai biasa ataupun OB sekali pun. Semuanya harus hadir tepat waktu.
__ADS_1
"Rumah besar tapi tidak ada orang " lenguh Raisa.
Titi yang mendengar nya malah tersenyum. "Menikah lah dengan tuan Yoga, dan buat anak yang banyak"
Raisa melotot marah padanya, masa dirinya menikah dengan es batu seperti Yoga.
"Kamu mau aku membeku Hem??"
"Siapa tahu, es di campur api jadi laut" kekeh Titi lagi.
"Lalu menenggelamkan mu!" sahut Raisa kesal.
Tawa Titi terhenti, lalu ia menggeleng cepat. "Jangan non, aku tidak bisa berenang"
"Aku tidak peduli, huh" Raisa melenggang pergi, berbicara dengan Titi hanya membuat mood nya semakin buruk, apalagi berbicara tentang Yoga yang selalu membolak balik kan hati nya.
"Aku tunggu kabar baik nya!!!" teriak Titi dari bawah. Menatap Raisa yang sudah berada di anak tangga terakhir lantai atas.
Raisa menoleh dan menjulurkan lidahnya . " Mimpi saja kau!!"
"Enak saja aku menikah dengan Yoga, aku tidak mau mati kedinginan" gerutu Raisa.
Kembali merenung, Raisa berdiri menumpukan lengan nya pada pembatas balkon kamar. Menatap luas nya langit semesta yang tiada batas.
"Mama.... Aku rindu" jerit Raisa dalam hati. Dari sorot matanya tersirat rasa rindu yang mendalam pada sosok malaikat yang tega meninggalkan nya.
"Kenapa mama meninggal Raisa seperti ini? Raisa kesepian ma. Raisa kangen peluk mama" perlahan air mata mengalir i pipi bulat Raisa.
Sementara itu, Johan baru saja tiba di rumah Yoga. Ia terlihat terburu buru memasuki rumah Yoga.
"Titi, di mana Raisa?"
Trakkk, jantung hati Titi retak ketika sang pujaan hati mencari wanita lain.
"Nona ada di kamar nya tuan" jawab Titi lirih.
Johan langsung berlari menaiki anak tangga, ia sudah tidak sabar ingin memeluk adik nya yang selama ini ia cari.
"Kenapa kamu berharap banyak sih Titi, kamu harusnya sadar dengan posisi kamu" Titi kembali melanjutkan pekerjaannya.
Johan berhenti di depan pintu kamar, ia mengatur nafas dan mempersiapkan diri untuk melihat kenyataan ini.
Ceklek~
Saat Johan hendak membuka pintu, tapi pintu itu malah sudah di buka lebih dulu oleh Raisa.
"Kak Johan? kamu kenapa ada di sini?" tanya Raisa kaget, seingatnya Johan pergi dinas ke Luar negeri dalam beberapa bulan kedepan.
Johan tidak menjawab, ia malah menarik Raisa masuk ke dalam pelukan nya.
"Kak, ada apa? kenapa tiba-tiba begini?" ucap Raisa sembari berusaha melepaskan dekapan Johan. Ia juga takut di lihat oleh orang lain dan mengadu pada Yoga. Sungguh Raisa tidak ingin mendapat masalah lagi dengan pria itu, meskipun saat ini sikap Yoga sudah berubah menjadi manis.
__ADS_1
"Kak!!!" teriak Raisa mendorong kuat dada Johan.
"Maaf" lenguh Johan tersadar dengan apa yang ia lakukan. Johan terlalu larut dalam rasa bahagianya.
"Kak Johan kenapa sih! datang datang meluk aku gitu!!"
"Maaf Raisa, kakak kelepasan" jawab Johan jujur.
Raisa melihat Titi di ujung tangga, seperti nya Titi salah paham dengan apa yang di lihat nya.
"Titi, kemari lah" panggil Raisa ketika gadis itu hendak berbalik pergi.
"Iya nona?" sahut Titi menunduk dan berjalan menghampiri Raisa.
"Kamu jangan salah paham yah" jelas Raisa.
Titi mengangkat kepala nya, menatap Raisa terkejut. "Maksud nona? kenapa saya harus salah paham?"
"Pokoknya jangan salah paham, aku dan kak Johan itu hanya sebatas kakak dan Adik saja. Gak akan pernah lebih!" tegas Raisa meyakinkan Titi.
"Nona..." lirih Titi menunduk.
Johan menatap kedua nya bingung, memang sejak kapan dirinya menganggap Raisa lebih dari adik. Karena memang Raisa adalah adik kandung nya.
"Dia ini adik saya Titi, bukan kekasih saya" jelas Johan.
"Adik angkat, bukan adik yang telah meninggal" tambah Raisa memperjelas. Ia sangat tidak suka menjadi bayangan orang yang sudah meninggal.
"Tapi kamu memang dirinya Raisa" jawab Johan. Membuat kedua wanita itu tersentak menatap nya.
"Maksud tuan??" seru Titi bingung.
"Jangan bercanda kak, aku paling tidak suka dengan topik pembicaraan ini" ungkap Raisa dengan raut wajah masam.
Johan menggeleng, ia mengeluarkan selembaran foto keluarga nya dari dalam dompet nya, lalu memberikan pada Raisa.
"Ini foto keluarga kita" ucap Johan.
Raisa tidak percaya, mengapa foto mamanya dan foto dirinya waktu kecil ada di dalam foto keluarga Johan.
"Tidak mungkin..." Raisa menggeleng, ini sulit untuk di percaya.
"Ceritanya panjang Raisa, tapi kenyataannya memang benar. Kamu adalah adik ku yang hilang 9 tahun yang lalu" jelas Johan.
Merasa ini bukan lingkup nya, Titi hanya menyimak dan membiarkan kakak dan adik ini berbicara. Sejujurnya ia turut senang dengan kebenaran ini. Bukan karena agar Johan dan Raisa tidak menyatu, tapi senang karena Johan menemukan adiknya.
"Kamu adik ku Raisa" ucap Johan bergetar, rasa bahagia membuat nya menangis.
"Jadi.... Aku beneran adik mu???"
Johan mengangguk, ia merentangkan tangannya menyambut Raisa.
__ADS_1
"Apa aku mimpi???" ucap Raisa sebelum ia masuk ke dalam pelukan Johan.
"Akhirnya kita kembali bersama" gumam Johan memeluk erat adik nya.