
Titi dan Johan telah menikah, mereka mempunyai 1 anak perempuan yang lucu. Nama anak mereka adalah Ratu Anglina. Nama belakang nya di ambil dari nama Raisa.
Titi sangat merindukan sahabat nya, jadi ia sengaja memakaikan nama belakang Raisa pada nama putrinya.
Hari ini Ratu minta di temani oleh mama nya main di taman bermain.
"Ratu, main nya jangan jauh jauh yah!!!" teriak Titi memperingati putrinya.
"Iya ma!!" sahut Ratu sembari terus berlari bersama teman temannya.
Titi tersenyum melihat putrinya bahagia bermain. Usia nya yang masih 3 tahun membuat dirinya tampak lucu dan imut.
"Ihh Gak nyangka yah, dari pembantu jadi nona muda. Wahhh aku yakin dia pakai pelet"
"Pasti nya"
Titi menunduk sedih, ia sudah biasa mendengar ucapan miring dari mulut orang orang tentang dirinya.
"Hei bibi, apa kau menangis?"
Titi menoleh, ia menatap anak laki-laki yang sangat tampan tersenyum kearahnya.
"Tidak, aku tidak menangis" bantah Titi berbohong, sudah jelas ada air mata di pelupuk matanya.
"Cih" Bocah itu berbalik, menatap ibu ibu yang tadinya membicarakan Titi.
"Maaf Tante Tante, apa kalian tidak punya kerjaan lain? dari pada membicarakan bibi ini, lebih baik kalian membantu anak anak kalian belajar!"
"Hei kok ngomong gitu?" sanggah Titi.
"Tidak masalah Bibi, mereka saja membicarakan mu di depan mu. Kenapa aku tidak boleh mengatakan hal itu kepadanya? contoh yang baik itu kan dari para orang tua" sindir bocah itu.
"Hei dasar anak nakal, tidak ada sopan nya" omel salah satu wanita yang di panggil Tante oleh bocah itu.
"Lalu? apa membicarakan keburukan orang lain di depan nya itu sopan Tante?"
Para wanita itu mendumel tidak jelas, mereka merasa malu di hadapan bocah kecil yang sok mengajari orang yang lebih tua.
"Dasar anak kecil" dengus mereka,lalu pergi.
Titi tersenyum, lalu mengusap pipi bocah laki-laki yang sangat menggemaskan.
"Kamu pintar sekali dalam berbicara"
"Tentu saja bibi, mami ku sangat pintar dan bijak. Aku belajar darinya"
"Wah benarkah? siapa nama mu?" decak Titi kagum.
"Namaku Roy, umur 4 tahun"
Titi menatap lekat wajah Roy, ia seakan melihat seseorang dalam diri anak laki-laki ini. Tapi siapa?.
"Wajahnya terlihat tidak asing" gumam Titi dalam hati.
__ADS_1
"Mama hiks...Hikss...."
Titi kaget, putrinya berteriak menangis.
"Astaga putri ku!!" pekik Titi berlari menghampiri Ratu, kemudian memeluknya erat berusaha menenangkan nya.
"Sakit ma...Hiks...Hiks.."
"Cupp cupp...Fyuuu....Fyuu...." Titi meniup niup luka di kaki putrinya, jatuh dari perosotan membuat lutut nya lecet.
Setelah ratu diam, Titi kembali teringat pada anak laki-laki tadi. Ia menoleh ke sana kemari mencari keberadaan bocah itu, namun tidak ada.
"Kemana dia?" tanya Titi heran.
"Cari siapa ma?"
"Tidak ada sayang, ayo kita pulang" ajak Titi sembari menggendong putrinya.
...----------------...
Raisa kalang kabut mencari putranya, tadi ia tinggal sebentar untuk pergi membeli es krim. Ketika kembali Roy sudah tidak ada di tempat.
"Roy!!!"teriak Raisa ketika netranya melihat sosok putranya berjalan di taman bermain.
"Mami."sahut Roy pelan.
"Dasar anak nakal, mami suruh tunggu tapi malah keluyuran kemana mana" omel Raisa mencubit pipi Roy.
"Hanya berjalan sebentar saja kok" balas Roy mengeles.
"Raisa!" panggil Titi, suaranya sudah mulai bergetar.
Deg.
Langkah Raisa awalnya sempat terhenti, tapi ia tetap terlihat acuh dan pura pura tidak peduli karena namanya bukan Raisa, tetapi Lina.
"Raisa!!!!"
Titi mencegat lengan Raisa, membuat gadis itu berbalik.
"Bibi" ujar Roy.
Raisa menoleh pada putranya, bagaimana Roy bisa mengenali Titi.
"Kamu Raisa kan?" tanya Titi memastikan.
"Maaf nyonya, seperti nya anda salah orang " jawab Titi menunduk memberi hormat, kemudian berbalik pergi.
"Tidak, mungkin. Aku tidak mungkin salah lihat." gumam Titi menggeleng kuat.
Penampilan Raisa memang sangat berbeda, tapi Titu sangat yakin jika itu memang sahabat nya Raisa.
"Bagaimana dia bisa mengenali ku?" batin Raisa. Ia sudah merubah segalanya, bahkan dagu nya yang membulat sudah menjadi runcing. Gaya rambut, style berpakaian, semua nya sudah berubah. Tapi Titi masih saja mengenalinya.
__ADS_1
Titi pulang ke rumah, ia menitip Ratu pada pengasuh nya, kemudian ia berlari naik ke lantai atas masuk ke ruang kerja suaminya.
Brak~
"Astaga!" pekik Johan kaget. Ia terkejut mendengar suara hempasan pintu oleh Titi.
"Sayang, kamu kok menghempaskan pintu sih, aku kan jadi kaget" lirih Johan mengusap dada.
Titi tidak menyahut, ia berjalan lurus kemudian memeluk Johan erat. Tanpa Johan duga, istri nya menangis.
"Hei...Kamu kenapa? kok nangis?"
"Hiks...Hiks...Aku melihat Raisa Johan. Aku melihat nya!!!!"
Gini lagi, Johan menghela nafas berat. Istrinya sangat terluka karena kepergian Raisa, ia selalu mengingat sahabat nya itu. Bahkan kadang Titi tiba-tiba menangis dan berteriak memanggil nama Raisa ketika ia sedang menonton tv.
"Titi, sayang. Kamu harus sadar, Raisa tu udah gak ada. Adik aku tuh udah tenang di alam sana" ucap Johan menjelaskan pada istri nya.
"Tapi, aku beneran lihat dia Johan. Aku lihat dia sama anak kecil!!!"
"Sttt.....STT...Sayang udah yah, sebaiknya kamu istirahat. Aku yakin kamu kecapean" ucap Johan menuntun istri nya masuk ke dalam kamar, kemudian menidurkan nya.
"Johan percaya lah, dia benar-benar Raisa Johan. Memang sedikit perubahan. Rambut dan Style nya. Tapi aku memiliki feeling kalau itu dia" ucap Titi lagi, ia terus berusaha untuk meyakinkan suaminya bahwa Raisa masih hidup.
Johan tidak menjawab, ia memeluk istrinya erat. Sebegitu sayang kah Titi pada Raisa? Samapi sudah 4 tahun berlalu masih terluka dan tidak percaya bahwa Raisa sudah tiada.
Awal nya dulu Johan sempat percaya dengan omongan istri nya, saat Titi berteriak melihat Raisa di sebuah acara serial Tv. Mereka bahkan pergi ke sana dan mencari informasi tentang bintang tamu serial itu.
Tapi, hasilnya nihil. Ternyata itu adalah orang lain. Titi meminta ingin bertemu dengan orang itu, tapi sayangnya orang itu tidak memiliki waktu. Johan pun akhirnya menduga istri nya berkhayal.
Semua itu hanya sebuah halusinasi Titi, bahkan mereka juga sudah pergi ke dokter untuk memeriksa kondisi Titi.
"Aku yang Abang nya, tidak separah ini. Memang yah persahabatan seorang wanita" batin Johan.
Sedangkan di rumahnya, Raisa mengintrogasi putranya.
"Roy, mami gak mau yha. Kalo kamu berlaku kasar lagi pada orang tua!" peringat Raisa tegas.
"Tapi mami, para orang tua itu tidak sadar jika dia menyakiti hati bibi itu!" kata Roy membela diri.
"Tetap saja, kamu itu anak kecil. Tidak pantas seperti itu!",
"Sama aja dong, mereka juga gak pantas bersikap seperti itu. mereka kan orang tua" balas Roy gak mau kalah. Raisa sampai pusing ingin mengatakan apalagi pada putranya yang dewasa lebih awal.
"Pokoknya bersikaplah seperti anak kecil. Kamu itu kan masih kecil!" ucap Raisa lagi. Perdebatan mereka semakin sengit.
Roy berdiri dari duduknya, menatap mami nya dengan tatapan dingin. Persis seperti tatapan dingin Yoga.
"Aku begini karena aku hidup tanpa papa!" kata Roy, lalu berlari masuk ke dalam kamar nya.
Raisa terdiam, ia merasa jantungnya tertusuk beribu jarum setelah mendengar ucapan putranya.
Yah benar, sikap Roy terbilang dewasa di bandingkan dengan anak anak seusia nya. Hidup tanpa sosok ayah, membuat Roy secara tidak di sengaja harus menjadi dewasa karena berpikir harus menjaga mami nya. Apalagi ia adalah anak laki laki, rasa tanggung jawab terhadap maminya sangat besar.
__ADS_1
Dave dan Julia menutup mulut menyaksikan perdebatan ibu dan anak itu. Mereka tidak mau ikut campur dalam hal ini. Karena Raisa ingin dirinya mendidik putranya sendiri. Jika ada orang lain, maka nanti putra nya akan merasa di menangkan dan akan semakin menjadi perangai nya.
...----------------...