
"Tempat ini sudah di kepung, kita tidak bisa lari kemana mana"
"Apa? Bagaimana bisa???"
Anak buah Mawar menggeleng, ia juga tidak tahu mengapa bisa banyak team mafia mengelilingi tempat ini.
"Gagal sudah balas dendam ku" batin Mawar.
"Cegah mereka! setidaknya ulur lah waktu!"
"Baik boss!!"
Mawar kembali ke dalam gedung tua itu, ia harus merubah kembali rencana nya.
"Tidak, aku tidak boleh tertangkap" gumam Mawar panik, ia memikirkan bagaimana cara untuk membawa Raisa pergi.
Mawar mengeluarkan ponselnya, menghubungi Bram untuk segera membantunya.
Tak menunggu waktu lama, Bram langsung menerima panggilan dari putrinya.
"Hallo, pa tolong aku. Mereka mengepung tempat ini" kata Mawar panik.
"Ka-Kamu... Berhati hatilah" ucap Bram terbata.
"Bagaimana mungkin pa, aku tidak bisa bergerak lagi"
"Hallo!! Hallo!!"
Tut...Tut.....
Panggilan terputus, Mawar mendengus kesal. Ia menggigit jari jarinya sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan. Bagaimana cara untuk mencegah mereka masuk ke dalam dan membebaskan Raisa yang mungkin belum di apa apakan.
...----------------...
Di tempat lain, Bram dan Melinda berlutut di hadapan Mr Bein. Kedua nya bergetar ketakutan melihat beberapa pistol yang menunjuk ke arah mereka.
"Maafkan kami Mr Bein. Kami tidak tahu jika gadis itu adalah keponakan anda" lirih Bram mohon ampun.
Mr Bein tersenyum kecut.
"Kau pikir aku bodoh??? kau sejak dulu sengaja membawa adik ipar dan juga keponakan ku bersama mu!!! dan kau dengan kejam nya menjadikan mereka sebagai tambang emas!"
"Tidak seperti itu Mr Bein"bantah Bram menggeleng kuat.
"Anda salah paham, aku tidak pernah ikut campur. Tapi wanita ini yang melakukan nya!"
Melinda melotot, bagaimana mungkin suaminya menyalahkan dirinya.
"Kau ingin menyelamatkan diri mu sendiri??" bentak Melinda.
"Cih...Sampah tetap sampah!!"
Mr Bein berdiri dari duduk nya, berjalan mengelilingi Bram dan Melinda.
"Aku sudah berbaik hati membiarkan kalian untuk menikmati hidup enak. Nyaman. Tapi putri mu!"
Mr Bein mendekat dan mencengkram dagu Bram. Tatapan nya tajam seakan menusuk ke ulu jantung Bram.
"Wanita sampah itu, dengan berani nya membangunkan singa lapar!" sambung Mr Bein.
Melinda menggeleng, ia tidak mau Mr bein menghukum putrinya.
__ADS_1
Melinda merangkak ke kaki Mr Bein, memohon agar putrinya tidak di lukai.
"Dia gadis malang, tolong ampuni dia. Dia tidak tahu apa apa, maafkan putri ku tuan"
Brak~
Mr Bein menendang kakinya, menjauhkan Melinda dari nya.
"Kau menyuruh ku untuk memaafkan putri mu?? lalu bagaimana sikap mu terhadap keponakan ku huh???"
"Kalian tidak akan mendapatkan maaf dari ku, akan aku pastikan kalian menderita hingga mati!!!"
"Bawa mereka ke penjara!!" titah Mr Bein tak terbantahkan.
"Baik boss!"
Para anak buah Mr Bein langsung bergerak menyeret Bram dan Melinda.
"Tuan!!! toko ampuni kami tuan!!!"
"Tuan!!!"
Melinda dan Bram terus berteriak meminta ampun, namun Mr Bein tidak berniat untuk memberinya.
...----------------...
Johan dan Yoga tiba di lokasi yang paman Johan katakan.
Mereka menatap bangunan tua itu sejenak, lalu bergegas masuk ke dalam.
"Periksa segala tempat!!" titah Johan.
Dari arah sebuah ruangan, terdengar teriakan seorang gadis meminta pertolongan.
"Tolong!!!!! Pergi!!?? jangan mendekat!!!!!"
Raisa melempar apa saja yang ada di dekatnya ke sembarangan arah. Ia tidak bisa melihat apapun. Ia hanya mendengar suara langkah kaki dan suara gelak tawa menjijikan dari pria hidung belang itu.
"Sebelah sana!!!" seru Yoga. Mereka langsung berlari menaiki anak tangga yang terdapat banyak akar akar dan semak semak liar.
"Bagaimana cantik, apa kita main gelap gelap ??" ucap sala satu pria itu, ia mencoba mendekati Raisa dan menarik tangan Raisa agar mendekat padanya.
"Lepaskan aku brengsek!!! Tolong!!! Tolong!!!"
Mereka tertawa mendengar teriakan Raisa, bahkan mereka ada yang mencibir mengejek Raisa
"Jangan munafik sayang, nikmati dan kamu akan enak"
"Singkirkan tangan mu dari wajah ku!!!!" bentak Raisa menggelengkan kepalanya, ia juga berontak saat pria pria itu memegangi tangan dan juga kakinya.
"Johan!!!! Yoga!!! tolong aku!!!",
"Berteriak lah sayang, tidak akan ada yang menolong mu"
Raisa terus berusaha menghindar, ia mengeluarkan semua tenaganya uy melawan pria pria itu.
Air mata Raisa sudah bercucuran mengaliri pipinya, suaranya juga sudah hampir habis.
Raisa merasa hidup nya akan hancur, tidak ada harapan lagi.
Krakkk~
__ADS_1
Di dalam ke gelapkan, mata Raisa melebar saat merasakan baju yang ia kenakan di tarik dan sobek di bagian depan nya.
Beruntung ruangan itu tidak ada pencahayaan nya, jadi Raisa tidak terlalu malu.
"Sensasi gelap gelapan memang sangat beda" seru salah satu pria yang berhasil meraba bahu Raisa.
"Bajingan!!!" maki Raisa menepis tangan itu.
Brak!!!!
Pintu gudang terlempar dan terbuka lebar. Seketika cahaya rembulan menyinari seisi gudang.
Raisa menarik dan berusaha menyatukan bajunya yang sobek. Tubuhnya ambruk di lantai ketika melihat Yoga dan Johan datang menyelamatkan nya.
"Berani sekali kalian!!??" bentak salah satu pria suruhan Mawar.
"Serang mereka!!!" serunya lagi.
Yoga melirik Raisa, keadaannya sangat buruk.
"Sialan kalian!!!!"
Yoga dan Johan berlari dan langsung menyerang setiap pria yang mencoba melawannya.
Tak lama kemudian anak buah Yoga langsung masuk dan melumpuhkan pria pria itu.
"Raisa!!" Yoga menghampiri Raisa, ia sudah terduduk lemas.
"Tuan, tolong- aku...." Suara Raisa melemah, lalu akhirnya pingsan.
"Raisa!!! Raisa!!!"
Yoga menggendong tubuh mungil Raisa yang terasa dingin.
Melihat hal itu, Johan langsung ikut berlari menghampiri Yoga. Lalu membuka jas hitam yang ia kenakan untuk menyelimuti Raisa yang berada di dalam gendongan Yoga.
"Ayo bawa Raisa pergi!!" seru Johan.
Yoga mengangguk, lalu mereka bergegas membawa Raisa Kelu dari gedung itu, lalu membawanya pergi menuju ke rumah sakit.
"Bertahan lah sayang " lirih Yoga. Ia menggenggam tangan Raisa, sesekali ia mengecup nya.
Sementara Johan hanya bisa menatap Raisa dari kaca spion depan. Ia harus fokus menyetir agar mereka segera tiba di rumah sakit.
...----------------...
Di gudang tua itu, Mawar bergetar ketakutan saat ia melihat beberapa anak buah Mr Bein juga ada di sana.
"Mengapa mereka yang ada di sini???" pikir Mawar bergetar. Ia bersembunyi di salah satu ruangan yang sangat kecil. Saking kecilnya, ruangan itu hanya muat untuk dirinya saja.
"Ayo, cari di semua tempat. Aku yakin, gadis itu masih di sekitar sini!" seru anak buah Mr Bein.
Mawar menutup mulutnya sendiri, agar ia tidak menimbulkan suara. Mata nya mengintip dari balik cela pintu kayu yang menyembunyikan dirinya.
Mata mawar melebar, ia melihat anak buah Mr Bein berjalan ke arah tempat persembunyian nya.
"Coba cek pintu ini!" titah nya.
"Mati aku..... Mereka pasti akan menemukan aku di sini!!!" erang Mawar dalam hati. Jantung nya berdetak kencang, ia pasti akan celaka jika Mr Bein berhasil menangkap dirinya.
...----------------...
__ADS_1