Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Hasrat yang tertunda


__ADS_3

Malam yang sangat indah, tampak rembulan di temani oleh ribuan bintang yang mengelilingi nya.


"Sangat indah" gumam Raisa tersenyum menatap langit malam.


"Loh, sayang. Kenapa masih di luar? nanti masuk angin Lo"


Raisa menoleh, ia tersenyum pada Yoga yang kini berubah 100% dari sikap nya yang dulu. Entah apa yang menyebabkan pria ini berubah. Dari yang dingin, berubah menjadi Yoga yang hangat dan perhatian.


"Aku hanya ingin menghirup udara malam"


Yoga mendekati Raisa, kemudian memeluk Raisa dari belakang.


"Aku senang, trauma mu sudah tidak ada lagi" bisik Yoga pelan.


Raisa kembali tersenyum, ia juga senang tidak terlalu merasakan ketakutan itu. Namun, kadang kadang ia masih merasa takut ketika melihat para bodyguard berbaris di hadapan nya.


"Sudah selesai lembur?"


Yoga mengangkat bahu, ia malah menenggelamkan wajahnya di sela ceruk leher Raisa.


"Aku tidak nyaman jika jauh dari mu" balas Yoga gombal.


Raisa tidak menjawab, ia masih menatap langit yang dihiasi bintang dan rembulan.


"Kenapa diam?" tanya Yoga. Perlahan ia membalikkan tubuh Raisa menjadi menghadap kearahnya.


"Apa aku membuat kesalahan?"


Raisa menggeleng, mana mungkin Yoga membuat kesalahan padanya.


"Lalu apa? kenapa kamu diam?" desak Yoga sangat khawatir.


"Aku hanya heran, dan takut"


"Takut kenapa?" tanya Yoga lagi, ia tidak mau Raisa merasa gelisah apalagi merasakan ketakutan.


"Aku takut sikap mu ini tidak bertahan lama, aku juga heran. Apa yang membuat mu menjadi berubah seperti ini??"


Yoga tersenyum, ia kembali memeluk Raisa. Namun, kali ini dari depan.


"Sejak kamu hilang, sejak kamu lemah, sejak kamu terbaring di rumah sakit, aku mulai menyadari perasaan ku. Aku sangat takut dan khawatir. Aku sadar,..." Yoga menjeda ucapan nya. Ia kembali menatap wajah Raisa lekat.


"Aku sadar, jika aku mencintai mu Raisa" lanjut Yoga.


Raisa terdiam, kata kata Yoga membuat jantung nya seakan berhenti berdetak.


"Kau membuat ku gila" dengus Raisa memukul dada Yoga. Kemudian mendorongnya pelan dan pergi meninggalkan Yoga di balkon.


"Hei, ada apa???" teriak Yoga. Ia mengejar Raisa dan menarik tangannya.


Raisa terhuyung ke belakang, tubuhnya yang tidak seimbang membuatnya hampir terjatuh.


Beruntung Yoga pria yang sigap, jadi ia bisa menangkap Raisa dengan cepat.


"Maaf" cicit Raisa.


"Tidak masalah honey, aku akan melakukan apapun untuk mu"


Raisa kembali cemberut, kata kata Yoga selalu membuat nya tersipu malu.

__ADS_1


"Kenapa kamu tiba tiba marah?" tanya Yoga penasaran.


Raisa tidak menjawab, ia kembali menjauh dan naik ke atas ranjang.


Lagi lagi Yoga bingung di buatnya, sikap Raisa begitu labil.


Yoga ikut naik ke atas ranjang, berbaring di samping Raisa yang tidur membelakangi nya.


"Jangan dekati aku!" tegas Raisa ketika Yoga hendak memeluknya.


Yoga mendesah frustasi, ia tidak bisa tidur jika Raisa tidak berada di dalam pelukan nya.


"Aku sangat sangat tidak bahagia" lirih Yoga mendesah kecewa.


Raisa terdiam, ia mendengar ucapan Yoga barusan. Ingin rasanya ia berbalik dan memeluk pria itu. Tapi, Raisa tidak kuat. Tidak kuat menahan debaran yang begitu kuat di dalam hati nya. Saking kuat nya, Raisa merasa dada nya akan meledak.


Suasana kamar menjadi sunyi, Raisa pikir Yoga sudah tertidur.


Perlahan ia mulai bergerak berbalik menghadap Yoga yang ternyata tidur menyamping menghadap padanya.


Mata Yoga terpejam, Raisa pikir pria itu sudah tertidur pulas.


"Tuan.." panggil Raisa memastikan apa yoga sudah tidur atau belum.


"Dia sudah tidur" pikir Raisa.


Di tatap nya wajah tampan Yoga lekat. Tangan nya tanpa tersadar terangkat menelusuri tulang pipi Yoga.


"Kau sangat lucu tuan, dalam sekejap kau hampir membuat jantung ku meledak. Bahkan kau mampu membuat aku tidak bisa berkata kata lagi."


Raisa tersenyum, jari telunjuknya terhenti pada hidung Yoga.


"Pria tampan, siapa yang tidak jatuh hati pada mu" kekeh Raisa pelan.


Tatapan nya terhenti pada bibir Yoga, tanpa di perintah wajahnya bergerak mendekat pada bibir tebal itu.


Cup.


Raisa menempelkan bibirnya pada bibir Yoga. Awal nya ia berniat untuk mengecupnya saja. Namun, siapa sangka Yoga terbangun dan menahan tengkuknya ketika dirinya hendak menjauh.


Cup~


Mata Raisa terbuka lebar, ia melihat mata Yoga masih terpejam.


"Bagaimana ini???" pekik Raisa dalam hati. Ia merasakan bibir Yoga mulai bergerak mempermainkan bibirnya.


"I love you" lirih Yoga di sela sela ciuman nya.


Perlahan Raisa pun mulai terbuai, ia mulai berani membalas dan mengikuti permainan Yoga.


Ciuman mereka semakin panas, raisa tidak sadar jika dirinya sudah berada di atas tubuh Yoga.


"Ahh..."Desah Raisa ketika Yoga menggigit kecil bibirnya.


"Nikmati baby"


Yoga terus menyerang bibir Raisa, bahkan kini tangan nya sudah tidak tinggal diam. Tangannya bergerak ke arah gunung kembar milik Raisa.


"Ahh...Tuan..." lirih Raisa merasakan sensasi yang luar biasa. Rasa ini sungguh asing baginya, Raisa belum pernah merasakan sensasi seperti ini.

__ADS_1


"Tidak!" cegat Raisa. Ia menahan tangan Yoga yang hendak membuka pengait Bra nya.


"Kenapa sayang?" tanya Yoga heran, matanya sudah di kelabui oleh kabut nafsu.


"Aku tidak mau lebih jauh lagi, kita tidak memiliki ikatan apapun!" ucap Raisa.


"Aku tidak akan meninggalkan mu sayang" bujuk Yoga, ia benar-benar menginginkan Raisa saat ini.


"Aku tidak mau, janji manis pria memang sangat menggoda" cibir Raisa. Ia mendorong tubuh Yoga dan memperbaiki posisi baju nya.


"Ahh... tanggung sekali" lenguh Yoga frustasi.


"Cium aja deeehh" rengek Yoga.


Raisa menggeleng, ia tidak mau kebablasan seperti tadi.


"Aku mau tidur" ujar Raisa menarik selimut, lalu memejamkan mata. Meskipun sebenarnya ia juga tidak bisa tidur. Raisa merasakan gejolak nafsu yang sangat besar dalam dirinya. Tapi, ia juga harus menahan diri.


Yoga turun dari ranjang, dengan lesuh ia berjalan ke kamar mandi.


"Mau kemana?" tanya Raisa heran.


"Mau menuntaskan ini" tunjuk Yoga pada adik kecilnya.


"Ohh"


Yoga terpaksa menenangkan adik kecilnya dengan mandi air dingin. Lalu, ia baru bisa kembali tidur bersama wanita yang sangat ia cintai.


Sekembalinya Yoga dari kamar mandi, ia menemukan Raisa sudah tertidur pulas.


"Dasar bocah" decak Yoga ikut bergabung dengan Raisa di atas ranjang, kemudian menarik gadis itu masuk ke dalam dekapan nya.


"Good night baby"


Cup.


...----------------...


Di tempat lain, di waktu yang berbeda. Yaisah menggeram marah setelah mendengar laporan dari anak buahnya yang memata matai Yoga.


"Bagaimana mungkin gadis itu adalah keturunan Jeland"


"Menurut informasi yang akurat, tuan muda Johan baru saja menemukan adik nya yang selama ini ternyata di sembunyikan oleh tuan Bram" jelas anak buahnya.


"Bram??" ulang Yaisya.


"Iya boss, pria yang satu keluarga menghilang sejak 2 minggu yang lalu!"


"Bagaimana bisa mereka menghilang?" tanya Yaisya penasaran.


Anak buah Yaisya mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan informasi akurat kepada Yaisya.


Informasi itu berubah sebuah berita, lalu anak buah Yaisya mencari kebenaran nya.


"Berita itu benar adanya, mereka menghilang bagai di telan bumi"


Yaisya memejamkan matanya, ia berusaha memikirkan bagaimana cara untuk memisahkan Yoga dan Raisa. Semua harta Yoga harus ia kuasai, setelahnya ia baru akan menyingkirkan suami tidak berguna nya itu.


"Pergilah, tetap awasi mereka!"

__ADS_1


Anak buah Yaisya menunduk hormat, lalu ia pergi keluar dari rumah Yaisya.


...----------------...


__ADS_2