Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Pria aneh itu lagi


__ADS_3

1 Minggu setelah Yoga dan Raisa berkencan.


Mood Raisa turun naik, kadang ia merasa sedih, dan kadang merasa senang secara tiba-tiba. Sikap nya berubah drastis, dirinya yang dulu tidak suka sendiri, kini malah lebih sering menghabiskan waktu sendiri.


Raisa sering menolak ajakan Yoga untuk bertemu, atau sekedar jalan jalan sebentar. Ia beralasan sedang malas dan tidak ingin ke mana mana. Padahal, setelah menolak ajakan Yoga, mood Raisa tiba tiba membaik dan malah ingin pergi sendiri.


Seperti saat ini, Raisa pergi nongkrong sendirian di salah satu cafe. Ia merasa tenang dan damai.


"Lina!" panggil seseorang.


Raisa tidak menoleh, ia tidak tahu jika orang itu memanggil namanya.


"Aku baru tahu, kamu itu tuli!"


Raisa kaget, ia menoleh ke kiri dan kanan. Melihat dengan siapa pria di depan nya ini bicara.


"Hei! aku bicara sama kamu" sungut pria itu kesal. Ia duduk di meja yang sama dengan Raisa tanpa seijin gadis itu.


"Siapa yang bolehin kamu duduk di situ!" bentak Raisa menatap kesal pria yang beberapa waktu lalu memaksanya untuk berkenalan.


"Aku panggil kamu, kenapa tidak menjawab" tanya Dave cemberut.


"Aku tidak tahu!" sahut Raisa malas. Ia sedang malas berdebat, mood nya mulai memburuk.


Dave menatap wajah Raisa lekat, ia tahu jika gadis itu menipu dirinya. Tapi Dave malah suka dengan nama palsu Raisa. Menurutnya itu panggilan special darinya untuk Raisa.


"Hei Lina, kenapa kamu cemberut?" tanya Dave mencoba mencairkan suana, ia ingin terlihat lebih akrab dengan Raisa.


"Bukan urusan mu!"ketus Raisa.


Raisa meraih gelas minuman nya, lalu meneguk hingga habis seperti orang kehausan.


Setalah habis semua, Raisa bangkit dan beranjak pergi.


"Eh mau kemana?" teriak Dave bergegas mengikuti Raisa.


"Tunggu aku!!!", teriak Dave. Raisa terus melangkah cepat, ia terpaksa berjalan kaki menuju halte. Sial sekali gadis itu malah tidak membawa mobil, jadi sangat sulit untuk menghindar dari pria ini.


Dari arah yang berbeda, seseorang berdiri dengan senyum menyeringai melihat Raisa dan pria lain. Ia memikirkan sebuah rencana untuk menghancurkan Raisa.


Siapa lagi, kalau orang itu bukan Gladies. Gadis pengejar harta dan tahta, bahkan sekarang dendam nya pada Raisa tak lagi soal memperebutkan Yoga, tapi karena rasa iri dan sakit hati melihat Raisa terus melawan dan menantangnya.


...----------------...


Tepat disaat Raisa tiba di halte, bus datang dan berhenti di depan halte.

__ADS_1


Sebagian penumpang turun di halte itu, kemudian penumpang yang ingin menumpangi bus itu segera masuk kedalamnya, termasuk Raisa. Ia berharap Dave tidak bisa mengejarnya.


"Eh tunggu!!! Tunggu!!" teriak Dave berlari cepat, ia berusaha melangkahkan kakinya lebih cepat agar tidak ketinggalan bus.


Hub.


Dave berhasil naik dan masuk ke dalam bus. Tepat setelah itu pintu bus pun tertutup rapat.


"Makin sial!" umpat Raisa melihat Dave berhasil masuk.


Dave mengatur nafasnya, kemudian tersenyum kearah Raisa. Ia duduk di samping Raisa, hanya kursi itu yang kosong. Jadi, mau tidak mau Raisa tidak bisa protes.


"Hai nona, keberuntungan berpihak pada ku" ujar Dave bangga. Raisa malah memutar bola mata nya acuh.


Raisa mengambil handset dari dalam tas nya, lalu menghubungkan handset itu dengan ponselnya.


Dave mengerucutkan bibirnya, melihat Raisa mengacuhkan nya. Kadang ia merasa kurang tampan, Raisa tidak terpesona melihatnya. Tidak seperti gadis gadis yang ada di bangku belakang mereka.


Sejak Dave masuk, gadis gadis yang duduk di belakang kursi nya malah tersenyum dan bersorak seperti orang gila.


...----------------...


Di tempat lain, Yoga duduk termenung di balkon kamarnya. Pemikiran nya menerawang ke perubahan Raisa akhir akhir ini.


"Kamu memikirkan apa?" tanya Niko. sejak tadi ia memperhatikan Yoga yang menarik buang nafas gusar.


"Apa menurut mu aku melakukan kesalahan fatal? Raisa terlihat sangat berubah" Kelu Yoga.


"Yah, maklum lah. Dia itu masih muda. Beda sama kita yang sudah tua." tukas Niko.


"Kamu aja, aku gak" sela Yoga. Ia tidak mau di anggap sudah tua, menikah saja belum. Malah di anggap sudah tua.


"Maksud aku kita sudah dewasa, sementara gadis seusia Raisa itu masih labil dan mood nya berubah ubah" jelas Niko dengan wajah geram, antara ingin menggigit Yoga dan membanting nya ke lantai.


"Tapi, ini aneh Lo. Dia berubah ubah gitu Nik. " kata yoga lagi, ia berpikir jika Niko belum mengerti maksud dari ucapan nya.


"Aku ngerti Yoga. Tapi Raisa itu masih kecil. Kamu harus belajar sabar dengan nya". Nasihat Niko.


Yoga mengangguk membenarkan ucapan Niko. Ia harus lebih bersabar dan bertahan untuk membahagiakan Raisa.


"Yaudah, samperin sana. Coba aja hibur dia. Siapa tahu dia lagi suntuk" ucap Niko memberi usulan. Ia tahu Yoga sangat merindukan Raisa.


"Bener juga tuh, kok kamu tahu sih isi hati aku" kata Yoga senang, ia segera bersiap untuk pergi ke rumah Raisa.


"Yah tahulah, namanya juga Niko"

__ADS_1


"Narsis!" dengus Yoga.


Setelah siap, Yoga berlalu pergi.


"Hati hati!?!" seru Niko setengah berteriak. Namun tak di jawab oleh Yoga.


...----------------...


Bus berhenti, Raisa segera turun. Ia tidak memperdulikan Dave yang juga ikut turun dengan nya.


Sebenarnya ini bukan halte dekat rumah nya, Raisa berniat turun dan meminta jemput oleh Yoga.


Dave terus mengiringi langkah nya, membuat Raisa semakin risih dan kesal.


"Huh!! pria aneh! mau kamu apa sih sebenarnya?" tanya Raisa berbalik dan menatap Dave kesal.


"Aku?" tunjuk Dave pada diri nya sendiri.


Raisa mengusap kasar wajah nya, pria ini benar benar membuatnya darah tinggi.


"Siapa lagi coba, pria aneh yang ngikutin aku huh?"


"Yah kali aja ada orang lain" kekeh Dave.


Raisa tak membalasnya lagi, ia hanya menatap Dave datar.


"Aku, hanya ingin mengenal mu. Aku ingin berteman dengan mu" ungkap Dave serius.


"Sayangnya aku gak mau!" tolak Raisa tanpa perasaan.


Dave meraih tangan Raisa, yang langsung di tepis oleh Raisa.


"Kenapa sih, susah banget dapetin kamu. Padahal aku tampan!" ungkap Dave. Ia tidak tahu Raisa ini beneran wanita atau apa. Di saat semua orang mengaguminya, gadis ini malah bertolak menatapnya sinis. Karena itulah ia semakin penasaran dan berusaha untuk mendapatkan gadis ini.


Raisa mendecih dan menggeleng kepala menatap pria aneh yang tengah bersedih.


"Kamu itu tampan, tapi kekasih ku lebih tampan. Aku tidak akan berpaling dari kekasih ku! dia baik dan mempesona" kata Raisa sembari tersenyum membayangkan kekasihnya.


"Kau bahkan tersenyum saat menceritakan nya" ujar Dave.


"Tentu saja, karena aku sangat mencintai nya" jawab Raisa cepat.


Sleesssssttt.....


Sebuah mobil berhenti tepat di dekat Raisa dan Dave berdiri. Raisa kaget, ia mengenali mobil itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2