
"Mungkin kah dia??"
Yoga menatap lekat wajah Roy, memang sangat mirip dengan dirinya waktu kecil.
"Roy, apa aku boleh melihat foto mami mu?"
Roy dengan patuh mengeluarkan ponsel miliknya, kemudian mencari foto mami nya yang tersimpan di galeri.
"Ini mami ku, sangat cantik dan imut. Aku tidak yakin jika kau tidak menyukainya" ujar Roy bangga.
Duarrrrrr.....
Bak di sambar petir, dada Yoga terasa sangat sesak. Wajah yang di foto itu sangat mirip dengan Raisa.
"Apa mungkin dia putra ku? jadi, Raisa selama ini tidak meninggal??" batin Yoga. Matanya masih menatap layar ponsel milik Roy.
"Aku tahu, kau pasti akan terpesona. Apa kau melupakan wanita mu sekarang?" ejek Roy.
"Mami mu sangat cantik, aku jadi berubah pikiran " kekeh Yoga berusaha untuk menahan diri agar tidak gegabah. Yoga harus memastikan semuanya terlebih dahulu sebelum mengatakan pada Roy.
"Tentu saja, aku sudah tahu itu" kata Roy lagi, ia mengambil ponselnya, kemudian menyimpannya ke dalam saku celananya.
Yoga masih menatap lekat wajah Roy, ia tidak menyangka putranya sudah sebesar ini.
"Kenapa menatap ku begitu? apa kau sekarang ingin menjadi papa ku?" cibir Roy tanpa menoleh pada Yoga.
"Boleh kah?"
Roy menoleh, menatap Yoga tidak percaya.
"Apa kau sudah tidak mau dengan kekasih mu itu?" tanya Roy.
"Mereka memiliki kesamaan yang sangat besar, aku pikir kenapa aku tidak mau dengan mami mu"
"Tidak!" tolak Roy. Membuat Yoga malah bingung dan heran.Bukannya Roy yang lebih dulu menawarkan menjadi papa nya, Sekarang malah dia yang menolak.
"Ada apa dengan mu anak kecil? kau yang menawarkan nya lalu kau juga yang menolaknya"
"Aku tidak mau mami ku menjadi pelampiasan. Aku ingin mami mendapatkan cinta, dan kasih sayang, bukan menjadi pelampiasan mu!"
Deg!
Yoga tersenyum bangga, putranya sangat cerdas. Persis seperti dirinya.
"Kecil kecil tapi sudah tahu soal cinta" dengus Yoga.
"Aku harus tahu segalanya, karena aku adalah anak laki-laki, dan aku memiliki tugas untuk menjaga mamiku. Jika aku tidak tahu apa apa, maka mami ku dalam bahaya!" penuturan Roy sangat memukau, Yoga merasa senang dan sedih.
Mengapa begitu? ia sangat sedih karena anak seusia Roy malah terdorong untuk dewasa lebih cepat.
Sedangkan di sisi lain, Yoga juga merasa senang, karena memiliki putra yang cerdas dan bijak.
Wahh Pria ini sungguh sangat yakin yah, bahwa Roy adalah putranya. Padahal ia tidak memiliki bukti apapun.
"Apa aku boleh memeluk mu?"
"Kenapa? apa kau mencoba memberiku kenyamanan dan merebut hati ku agar aku menerima mu menjadi papa?"
__ADS_1
Yoga berdecak.
"kau ini, masih kecil tapi sudah berburuk sangka saja kepadaku. Aku hanya ingin memeluk mu, bukan untuk mencari muka"
"Yaudah boleh"
Yoga tersenyum senang, ia langsung merengkuh tubuh Roy dan memeluk erat tubuh mungil itu.
Roy memejamkan matanya, ia selalu merasa nyaman ketika Yoga memeluknya begini. Seolah olah ia merasakan hangat nya pelukan seorang ayah.
...----------------...
Raisa menyelesaikan tugasnya untuk beberapa hari ke depan. Jadi waktunya akan lebih banyak untuk Roy.
"Roy mami datang" Raisa meraih tasnya, kemudian berjalan cepat menuju ke lantai dasar dan mengambil kunci mobilnya yang di titip Julia pada resepsionis.
"Selamat siang Bos" sapa wanita resepsionis ramah.
Raisa membalas dengan senyum.
"Julia ada menitipkan kunci mobil saya yah?"
"Ada Bu, ini dia"
"Terimakasih" ucap Raisa.
"Sama sama Bos "
Raisa berjalan menuju ke parkiran mobil, dengan senyum manis dan rasa tidak sabar ia mulai mengendarai mobilnya.
Dalam perjalanan, Raisa menghubungi pengasuh putranya. Ia ingin langsung bertemu dengan Roy dan mengajak bocah kecil itu pergi jalan jalan.
"Hallo Non, tuan muda sedang di taman bermain non" jawab pengasuh di seberang sana.
"Oh baik kah, saya akan ke sana. Tolong jangan bilang sama Roy yah. Saya ingin memberinya kejutan"
"Baik non" jawab pengasuh, ia mengangguk mengerti di sana, meskipun Raisa tidak melihat nya.
Raisa meletakkan ponselnya, kemudian kembali fokus ke jalan yang terlihat sedikit macet.
...----------------...
Raisa tiba di taman bermain, ia menghampiri pengasuh putranya yang sedang duduk di kursi tunggu. Biasanya para orang tua akan mengawasi anak anak mereka dari sana.
"Bi, mana Roy?"
Pengasuh langsung berdiri, ketika mendapat suara Raisa dan berbalik menghadap ke majikan nya.
"Tuan muda ada di taman sebelah sana nona. Dia tidak mau di temani, dia ingin sendiri" jelas pengasuh itu.
Hati Raisa mendadak perih, rasanya ia benar-benar tidak becus menjadi seorang mami untuk Roy yang saat ini, sangat membutuhkan kedua orang tuanya.
"Maafin mami Roy" lirih Raisa dalam hati.
"Yaudah bi, saya mau lihat Roy dulu"
"Iya non" jawab pengasuh mengangguk patuh.
__ADS_1
Raisa langsung menuju ke arah yang pengasuhnya tadi katakan.
Sedangkan Roy dan Yoga tengah duduk sembari berpelukan. Mereka bercerita banyak hal, tentang bagaimana sikap maminya, bagaimana kesialan yang Yoga alami bersama kekasihnya. Semua mereka bicarakan saat itu. Tak khayal kadang keduanya tertawa bersama saat sesuatu yang lucu mereka bahas.
Langkah kaki Raisa terhenti, ia menyipitkan matanya melihat ke arah bangku taman yang di sana terdapat putranya sedang di peluk oleh seorang pria.
"Bersama siapa dia?" gumam Raisa bingung. Ia semakin melangkah mendekati mereka, dan.... Betapa kagetnya Raisa ketika melihat pria yang memeluk Roy adalah Yoga.
Raisa mempercepat langkahnya, lalu menarik Roy keluar dari pelukan Yoga.
"Siapa anda!" bentak Raisa penuh emosi.
"Mami" kaget Roy.
"Rai... Maksud ku Lina" ucap Yoga memperbaiki panggilan nya untuk Raisa.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Roy bingung.
"Kami rekan kerja Roy", jelas Yoga.
Raisa menatap putranya, ia berjongkok di depan Roy dan memegang kedua bahu mungil itu.
"Roy, mami kan selalu bilang. Jangan terlalu dekat dengan orang asing!" peringat Raisa.
"Mami, paman ini baik kok. Dia selalu temenin aku, dia juga yang sudah membantu ku agar tidak di bully lagi!"
Jleb.
Hati Yoga terasa seperti di robek, ketika Roy memanggil dirinya dengan panggilan Paman.
"Tetap aja Roy, kamu harus hati-hati. Kamu ingatkan, mami selalu bilang, musuh terbesar kita adalah orang terdekat!" jelas Raisa dan mengingatkan putranya.
"Salah tu, yang bener tu. Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri" sangga Yoga.
Raisa menoleh padanya, mata nya melotot seakan mengisyaratkan agar dirinya diam.
"Roy, belum tentu di awal baik. Bisa saja nanti lama lama menyakiti!" kata Raisa, seakan menyindir sikap Yoga kepadanya dulu.
"Baiklah mami, aku akan berhati hati" jawab Roy mengangguk patuh.
"Kalau begitu, ayo pulang"
"Ok boss"
Raisa menggandeng tangan putranya, ia hendak berbalik pergi. Tapi, ia kembali menoleh pada Yoga dengan tatapan tajam.
"Ku peringatkan, jangan mencoba coba mendekati putra ku!! Ini putra ku, kau tidak boleh mendekati nya!" ucap Raisa tajam.
Yoga tak menjawab, ia malah menangkap sebuah fakta dari kata kata Raisa tadi.
"Ayo pergi" ucap Raisa tersenyum pada Roy
Selepas Raisa dan Roy pergi, Yoga terhenyak kembali ke kursi yang tadi ia duduki bersama Roy.
Kata kata Raisa masih terngiang di benaknya.
"Kau berkata seolah olah dia itu putra ku juga" lirih Yoga merasa semakin Yakin.
__ADS_1
...----------------...