Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
KECEWA


__ADS_3

Keesokan hari nya Titi berhasil membujuk Raisa untuk pergi menjenguk Yoga ke kantor. Pria itu sudah 2 hari tidak pulang ke rumah.


Yoga beralasan jika dia saat ini sedang sibuk dengan pekerjaan kantor.


Ragu ragu Raisa turun dari mobil, ia terlihat enggan untuk menemui Yoga.


"Ayolah Nona, jika seperti ini terus nona tidak akan bisa mengetahui sebenarnya apa yang terjadi" bujuk Titi.


"Baiklah" Raisa akhirnya mau turun dan berjalan beriringan bersama Titi menuju ke lift.


Semua orang yang melihat kedatangan Raisa langsung menunduk hormat.


...----------------...


Di dalam ruangan kerjanya, Yoga tampak marah dan geram dengan Gladies.


Gadis itu sejak tadi mengganggu nya dan berusaha untuk menggodanya.


"Aku tahu, kak Yoga sudah bosan dengan gadis itu" ucap Gladies bergelayut manja pada lengan Yoga.


"Gladies!" bentak Yoga sembari menghentakkan lengan gadis itu.


"Aku bilang minggir! jangan ganggu aku jika kau tidak ingin terluka!" bentak Yoga.


Gladies tersenyum kecut, ia tahu Yoga bukan tipikal pria kasar.


"Kenapa? apa kakak tidak tergiur dengan tubuh ku? aku lebih berisi dari gadis kurus itu" cibir Gladies menjelekkan Raisa.


Gadis ganjen itu terus berusaha menggoda Yoga dengan melepaskan jaket kulit nya, menyisakan dress selutut dengan tali kecil di bahu.


Terlihat jelas belahan dada nya yang seakan ingin melompat keluar.


Yoga tidak melirik nya, ia berusaha fokus pada pekerjaan nya dan mengabaikan gadis ini hingga ia capek sendiri.


Gladies tidak putus asa, ia malah menarik tangan Yoga dan duduk di atas pangkuan pria itu.


Ceklek~


Deg.


Yoga menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka lebar.


Terlihat Raisa berdiri mematung di ambang pintu melihat sajian pemandangan yang mampu menghancurkan hatinya.


"Astaga" pekik Titi menutup mulut.


"Raisa" panggil Yoga panik, ia tidak mau gadis itu salah paham kepadanya.


Sedangkan Gladies malah tersenyum senang, ini jauh dari rencananya.


"Sekali dayung, 2 3 pulau terlampau" batin Gladies.


"Maaf, aku sala masuk ruangan" gumam Raisa kembali menutup pintu, lalu pergi secepatnya dari sana.


"Nona!!!" panggil Titi berlari mengejar Raisa.


"Bagus deh, kalau dia sadar" gumam Gladies memeluk Yoga dan berusaha menggoda pria itu.


"Gladies Cukup!!??"


Yoga mendorong gadis itu menjauh dari tubuhnya, menatap gadis manja yang selalu membuat masalah di hidup nya.


"Urusan kita belum selesai" ancam Yoga menunjuk wajah Gladies. Lalu ia berlari keluar dari ruangan nya mencari Raisa.


"Yahhh.... di tunda deh. Gak papa lah, setidaknya dia sudah melihatnya"


Gladies kembali memakai jaket nya, kemudian dengan senyum lebar ia keluar dari ruangan Yoga.

__ADS_1


"Tugas hari ini selesai" gumamnya lagi.


Raisa terus melangkah cepat menuju ke parkiran. Air matanya terus mengalir deras membasahi pipi yang kian bergetar menahan tangis.


"Nona!! Nona tunggu!!!", teriak Titi meraih tangan Raisa.


Raisa tersentak, ia berhenti dan menatap Titi.


"Apa lagi Titi? ini yang kamu inginkan?? "


Raisa menghapus air matanya, mengangguk pelan di sela getaran tangisnya.


"Kau benar, jika aku tidak menjenguk nya. Maka aku tidak akan tahu apa yang terjadi.


Sekarang lihat, aku sudah tahu apa yang terjadi. Aku sudah tahu yang sebenarnya!" teriak Raisa.


"Raisa!", panggil Yoga dari arah lift.


Mendengar panggilan Yoga, Raisa kembali berbalik dan berlari menjauh. Ia tidak mau bertemu dengan pria itu.


"Nona!" panggil Titi menyusul Raisa.


"Jalan pak" ucap Raisa pada supir ketika ia sudah masuk.


Beruntung Titi sempat masuk sebelum pintu di kunci dan mobil melaju.


"Raisa!!! tunggu!!!!" teriak Yoga berlari mengejar mobil yang menumpangi Raisa.


Niko baru sampai, ia kaget melihat Yoga berlari mengejar sebuah mobil.


"Yoga! hei ada apa?" tanya Niko mengejar pria itu, ia menarik lengan Yoga agar segera berhenti.


"Niko, gue pinjam mobil Lo!" ucap Yoga merebut kunci mobil yang Niko pegang.


"Eh mau kemana???"


Niko ikut berlari, lalu masuk ke dalam mobil bersama Yoga.


"Raisa?? dia ada di sin" kaget Niko.


"Aduhh diam lah Niko, nanti kau juga akan tahu" desah Yoga semakin panik. Ia sangat khawatir jika Raisa sampai berpikir hal yang tidak tidak.


"Aku semakin penasaran" lenguh Niko.


Yoga tidak menggubris Niko, ia fokus pada jalanan, bahkan Yoga melajukan mobilnya dalam kecepatan yang lumayan tinggi.


Yoga bingung ingin pergi kemana, ia sudah kehilangan jejak Raisa. Ia pikir Raisa pulang ke rumah nya.


"Pulang?" tanya Niko.


"Mungkin dia langsung menuju ke rumah" balas Yoga.


Melihat Yoga yang sangat panik begini, membuat Niko semakin penasaran.


Sesampainya di rumah, Yoga langsung tergesa gesa turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sembari memanggil manggil nama Raisa.


"Raisa!!! Raisa!!!"


Teriakan Yoga sangat kuat, sampai seisi rumah berhamburan keluar menghadap padanya.


"Maaf tuan, nona belum pulang. Tadi nona pergi bersama kepala pelayan. Katanya pergi ke kantor tuan untuk makan siang bersama" jelas salah satu pelayan yang menunduk takut di depan Yoga.


Deg-


Jantung Yoga kembali berdetak kencang, ia semakin merasa bersalah pada Raisa.


"Bagaimana ini???" erang Yoga menarik rambut nya kuat. Berharap sesuatu melintas di benaknya dan membantunya menemukan Raisa.

__ADS_1


"Jadi Raisa ke kantor? trus. Kabur?" gumam Niko berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


"Raisa salah paham, tadi Gladies datang dan mencoba merayu ku. Aku belum sempat mengusirnya Raisa sudah datang membuka pintu. Dan melihat Gladies menempel padaku" jelas Yoga.


"Apa????" pantas saja Yoga terlihat sangat panik.


Dalam situasi seperti ini Raisa pasti akan berpikir yang tidak tidak. Apalagi mereka dalam keadaan renggang.


"Bagaimana ini Niko???" erang Yoga mulai takut.


"Aku akan menghubungi Johan, siapa tahu Raisa bersama nya" ujar Niko.


Yoga mengangguk, ia memperhatikan Niko yang mencoba menghubungi Johan


Beberapa detik menunggu, akhirnya Johan menerima panggilan telfon dari Niko.


"Halo! ada apa?" tanya Johan to the poin di sebrang sana"


"Kau di mana?" tanya Niko basa basi, ia tidak bisa langsung menanyakan Raisa apakah bersama nya atau tidak. Bisa saja Johan masih belum mengetahui nya.


"Aku ada urusan, sebentar lagi selesai. Kenapa?", tanya Johan lagi.


"Tidak ada, aku hanya merindukan mu" ucap Niko asal.


"Sialan, buang buang waktu ku saja" umpat Johan langsung memutuskan panggilan.


Para pelayan dan Bodyguard yang juga mendengar percakapan Niko menahan tawa. Pria itu selalu terlihat kocak dalam situasi apapun.


"Raisa tidak bersama nya" ucap Niko.


"Dia pasti bersama Titi"seru salah satu pelayan.


"Aku tahu, tapi Raisa pasti melarang Titi untuk tidak menerima panggilan dari kita" jelas Yoga.


"Arrrgggggg!!!!!!" Yoga mengerang frustasi, otak nya benar benar buntu sekarang.


...----------------...


"Hikss....Hikss.... Jahat!!!, pria jahat!!!",


Raisa terus menangis, mereka sekarang berada di tepi danau tempat biasa Raisa menenangkan diri ketika terdapat masalah dari Bram dan juga Melinda.


"Sudah lah non, belum tentu juga yang terjadi seperti yang kita lihat" bujuk Titi mencoba menenangkan Raisa.


"Kau buta? mau seperti apa lagi? sudah jelas gadis itu sudah duduk di pangkuan nya. Jika dia tidak ingin, kenapa dia tidak menolaknya, mengusirnya, atau bahkan mendorong nya dan melemparkannya ke lantai bawah" cerocos Raisa penuh emosi.


"Buset...Ngeri juga yah. Orang yang lagi patah hati ini" pikir Titi menelan ludah. Ia harus bersikap baik nih, bisa bisa Raisa melemparnya ke tengah danau ini.


"Jangan sadis sadis lah non, kan tuan tidak ada di sini. Kita happy happy aja yah" hibur Titi tersenyum lebar.


"Hiks...Hiksss... Mamaaaaaaaaa" teriak Raisa malah makin menangis keras.


"Kenapa aku dapat teman sebodoh dirimu Titi!!!! aku patah hati, kecewa, tapi kau malah bersikap seolah olah mengejek ku!" maki Raisa masih dalam tangisan nya.


"Aku hanya mencoba menghibur mu nona" lirih Titi pelan.


"Kau mau menghibur ku?" Ujar Raisa menghapus air matanya.


Titi mengangguk cepat.


"Berdirilah, aku akan menendang mu ke tengah danau sana. Baru aku akan merasa terhibur" ungkap Raisa kesal.


"Iss.. Jangan nona, kalau aku mati bagaimana??", ungkap Titi bergidik ngeri.


"Huaaaaa..... Mama.... Jemput aku!!!" teriak Raisa kembali menangis, rasa sakit di hatinya teramat dalam. Kekecewaan yang ia khawatir kan akhirnya menghampiri dirinya.


Ternyata dugaannya selama ini benar, ada orang lain yang lebih menarik perhatian Yoga. Makanya pria itu berubah dan mengacuhkannya.

__ADS_1


"Ternyata cinta nya musiman" pikir Raisa, ia menangis sejadi jadinya di pinggir danau dengan bertemakan Titi dan semilir angin.


...----------------...


__ADS_2