
Di sepanjang jalan Raisa menangis, langkah goyah nya memperlihatkan betapa rapuh dan lemah nya dia saat ini.
Pikiran Raisa melayang entah kemana, semuanya berkecamuk menjadi satu. Hatinya terasa sangat sakit, bisa bisa nya Yoga kembali melakukan hal ini padanya.
Harus nya ia sadar sejak awal, bahwa dirinya hanya di anggap sebagai hewan peliharaan. Mainan yang kapan saja bisa di buang oleh pemiliknya.
"Hikss...Hiks...Kenapa aku bodoh! kenapa!!!!" teriak Raisa di tepi jalan, ia tidak peduli dengan pantangan orang yang melihat dirinya.
Raisa melangkah menuju ke sebuah bar, dulu sempat pernah salah satu teman sekelas di SMA nya mengajak dirinya pergi ke bar ini.
Tampa banyak berpikir panjang, Raisa melangkah masuk ke dalam bar.
"Minum nya 2" kata Raisa pada bartender nya.
Seluruh mata tertuju pada nya, banyak pria pria setengah mabuk menatap lekat dan tersenyum menyeringai melihat kearah Raisa.
"Cantik" gumam mereka.
Raisa meraih botol minuman yang sudah di buka oleh bartender nya. Lalu menuangkan ke dalam gelas kecil.
Saat Raisa meraih gelas dan hendak meminum minuman itu. Tiba-tiba sebuah tangan merampas nya dan membuang ke lantai.
"Apa yang kamu lakukan!" bentak Raisa. Ia menatap pecahan gelas itu, kemudian beralih menatap orang yang telah mengganggunya.
"Cih, kamu lagi" decak Raisa.
"Kenapa kamu lakukan ini?" tanya Dave.
"Ini bukan urusan mu, apapun yang aku lakukan kamu tidak perlu ikut campur!" kata Raisa.
"Minta satu gelas lagi!" teriak Raisa.
Dave menoleh pada bartender, ia menggeleng agar pria bartender itu tidak memberikan apa yang Raisa minta.
"Mana gelasnya!! aku sudah lama menunggu!" teriak Raisa tidak sabaran.
"Kamu tidak boleh melakukan ini!" kata Dave lagi, ia berusaha membujuk Raisa agar tidak minum, ini akan membahayakan janin nya.
"Hei bung, kenapa kau mengacaukan gadis itu? minum sedikit gak papa lah" ujar pria hidung belang yang sudah setengah sadar.
"Diam kau!" kecam Dave dingin.
"UPS...Dia marah. hahahha...." ledek pria itu tertawa bersama teman teman nya.
Dave mengacuhkan pria pria itu, ia menarik Raisa untuk keluar dari sana. Namun Raisa menolak dan mengusir Dave.
"Ayo pergi, kamu tidak cocok di sini!" ajak Dave.
"Kamu jangan ikut campur!" peringat Raisa lagi.
Karena gelas yang ia minta tak kunjung datang, akhirnya Raisa meraih botol minuman itu, dan meminumnya langsung dari botol tanpa gelas.
Dave melotot, ia merebut botol itu, kemudian membuangnya.
Prang~
"Aku sudah bilang, Jai minum! ini tidak baik untuk kesehatan janin mu!!" teriak Dave emosi.
Pria pria yang ada di sana terkejut mendengar ucapan Dave. mereka mengerti sekarang mengapa pria itu melarang wanita nya minum.
Raisa tak kalah terkejut, dari mana pria itu tahu kalau dia sedang hamil.
__ADS_1
"Kamu..."
"Sudah, jangan banyak bicara. Ayo pergi!"
Dave menarik tangan Raisa, membawa gadis itu keluar dari tempat terkutuk itu.
...----------------...
Di dalam mobil, Raisa masih terdiam. Dave menanyakan dimana dirinya tinggal, ia akan mengantar Raisa pulang ke rumah.
"Katakan, di mana rumah mu!"
Raisa tak menjawab, membuat Dave semakin bingung.
"Apa kau tidak punya rumah?"
Lagi lagi Raisa masih diam, ia menunduk dan saat itu juga Dave melihat air mata Raisa jatuh membasahi celana nya.
Hiks .... Hiks....
Hiks.... Hiks.....
"Kamu pasti jijik kan sama aku? aku hamil dan belum menikah" ucap Raisa di sela sela tangisnya.
"Siapa yang bilang, kalo aku jijik mana mungkin aku mencegah mu minuman alkohol itu!" bantah Dave.
Hiks....Hiks...
"Memangnya pacar kamu gak tanggung jawab?" tanya Dave penasaran.
Raisa menggeleng, bukan gak mau tanggung jawab. Tapi, dia belum memberitahunya.
"Aku belum memberitahunya"
"Aku takut dia tidak mengakuinya, karena saat itu dia memaksaku dalam keadaan mabuk. Tapi akunya malah suka" jelas Raisa jujur. Dave Samapi hampir tertawa mendengar jawaban gadis ini. Terlalu polos dan lugu pikir Dave.
"Dia itu pria yang sangat baik, tapi dia malah mengkhianati aku dengan bersama wanita lain. Dia terlihat membenci aku, aku jadi tidak mau memberitahu nya. Aku takut dia menolak nya" sesegukan Raisa menjelaskan.
"Lalu, apa rencana mu selanjutnya?" tanya Dave.
"Aku akan membesarkan janin ini sendiri "
"Keluarga mu?"
"Aku tidak peduli. Apa kamu bisa membantu ku?" tanya Raisa menghapus air matanya, kemudian menatap Dave penuh harapan.
"Aku bisa bantu kamu, tapi..." jawab Dave ragu.
"Kamu tidak perlu khawatir, soal uang aku punya banyak. Aku salah satu putri terkaya di negara ini" kata Raisa.
"Anak siapa?" tanya Dave penasaran.
"Aku keturunan keluarga Jeland yang terakhir " kata Raisa.
Deg.
Tubuh Dave menegang saat mendengar nama yang Raisa sebutkan tadi.
"Baiklah, aku akan membantu mu!"
...----------------...
__ADS_1
"Aku tidak pernah melakukan itu dengan Raisa " kata Yoga. Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga milik Yoga.
"Tidak mungkin Raisa hamil sama orang lain!", bantah Titi.
"Tapi, aku benar benar tidak tahu. Karena di dalam mimpi aku pernah melakukan nya" lirih Yoga.
Bruk~
"Itu mimpi basah!" dengus Niko.
Yoga menggeleng, ia merasa semua itu sangat nyata.
"Tuan, apa anda yakin? saat anda mabuk tidak melakukan nya sama nona?" tanya Titi.
"Aku tidak tahu Titi, saat aku mabuk aku tidak sadar, tapi ketika pagi aku sudah berada di dalam kamar hotel"
"Siapa yang membawa mu ke sana?" tanya Joha .
Yoga menggeleng " aku tidak tahu, kata pelayan hotel, aku pergi sendiri dan menginap sendiri, bahkan mereka memperlihatkan data data siapa yang melakukan check-in."
"Apa anda yakin Tuan?" tanya Titi lagi, ia yakin jika Raisa malam itu pergi menemui Yoga yang mabuk.
"Aku lupa Titi, aku tidak tahu saat mabuk melakukan apa"
"Tuan, malam anda mabuk seorang pelayan bar menghubungi nona muda, ia meminta untuk menjemput anda! Aku mendengar nya sendiri. Bahkan aku memastikan bahwa itu bukan jebakan dengan menghubungi ponsel mu dan melakukan video call"
Yoga berdiri, lalu bergegas pergi begitu saja.
"Aku harus ke hotel itu lagi" ujar Yoga.
"Aku ikut!!", teriak Titi dan Johan . Mereka berlari menyusul Yoga, begitu juga dengan Niko.
Sesampainya di hotel, kebetulan resepsionis yang bertugas hari ini adalah resepsionis yang melayani Yoga dan Raisa waktu itu.
"Selamat pagi tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucap resepsionis ramah.
"Saya mau bertanya kepada mu, apa kamu masih ingat dengan ku?" Yoga.
Pria itu tampak mengingat ingat, lalu kemudian ia mengangguk.
"Yah, saya ingat. Saya selalu mengingat pelanggan berharga seperti anda" balas pria itu tersenyum bangga.
"Bagus!" ungkap Johan.
"Sebenarnya ada apa yah tuan?"
"Begini, waktu malam itu. Apakah pria ini datang kesini sendiri atau bersama seorang wanita?" jelas Niko sembari bertanya dan menunjuk Yoga.
"UMM...." pria resepsionis itu terlihat berpikir dan ragu ragu.
"Katakan saja, jika kamu masih mau hidup aman" ancam Titi Tajam.
Johan dan Yoga sempat kaget mendengar suara Titi yang terdengar mengerikan.
"Maaf tuan, tapi saja sudah berjanji dengan wanita itu" cicit pria resepsionis.
"Siapa wanita itu! cepat katakan!!!", desak Titi.
Karena takut, akhirnya pria resepsionis itu pasrah dan mengatakan yang sebenarnya. Bagaimana tidak, Niko malah mengeluarkan pistol nya dan mengusap usapnya di depan pria itu.
"Wanita itu cantik, sangat cantik. Dia juga ramah. Tuan ini mengatakan kalau dia adalah calon istri. Mereka menginap bersama, tapi wanita itu pergi lebih dulu sebelum tuan bangun. Dia mengatakan pada ku untuk tidak mengatakan pada tuan bahwa dirinya bersama tuan. Dia juga menyuruh ku untuk mengatakan kalau tuan datang sendiri ke hotel ini dalam keadaan mabuk." jelas pria resepsionis itu panjang lebar.
__ADS_1
"Arrrggggg!!!!! kenapa aku bodoh sekali!!!" erang Yoga memaki dirinya sendiri. Ia sudah menyakiti Raisa untuk kedua kalinya.
Mereka kembali ke rumah, menunggu informasi dari anak buah yang kini menyebar ke segala penjuru.