
Roy pergi keluar dari cafe, meninggalkan Yoga yang masih bingung.
Menurut Roy, ngapain dia dekat sama pria itu jika dia tidak mau menjadi papa aslinya.
"Hei....Bocil!!!" Yoga mengejar Roy yang malah semakin mempercepat langkahnya, bahkan bocah laki-laki itu berlari keluar dari cafe.
Saat hampir terkejar, seorang pelayan mencegat Yoga, minuman Roy ternyata belum di bayar.
"Maaf tuan, bill nya" kata pelayan itu.
Yoga terpaksa terhenti dan membayar minuman Roy dulu, mata nya terus mengawasi kemana Roy pergi.
"Ada apa tuan muda?" pengasuh mengejar Roy dan mengikuti langkah anak kecil itu menuju ke mobil.
"Tidak ada,aku mau pulang" jawab Roy singkat, lalu masuk ke dalam mobil.
Pengasuh itu tidak banyak bertanya lagi, meskipun mengasuh anak umur 4 tahun, tapi pengasuh itu merasa tengah mengasuh anak remaja.
Yoga berlari keluar, mencari keberadaan Roy.
"Hei tunggu!!!" teriak Yoga ketika melihat Roy masuk ke dalam mobil, kemudian mobil itu melaju cepat.
"Aiss...." Yoga pun ikut buru buru masuk ke dalam mobil miliknya,lalu menancap gas melaju mengikuti mobil Roy.
Entah perasaan apa, dan atas dorongan apa. Yoga merasa sangat kacau bila bocah kecil itu marah padanya.
"Arrrggg!!!!!" erang Yoga memukul stir. Ia terjebak di lampu merah, mobil Roy sudah melaju entah kemana.
Tak jauh dari situ, Yoga melihat mobil wanita yang selama ini ia rindukan.
"Raisa?" gumam Yoga sembari menajamkan penglihatan nya. Ia melihat Risa dari balik kaca mobil Raisa yang terbuka sedikit.
Lampu merah berganti menjadi hijau, mobil Raisa pun mulai bergerak melaju.
Tanpa berpikir panjang, Yoga memutar arah tujuannya. Yang awal mengikuti Roy, menjadi mengikuti Raisa. Yang pria itu tidak tahu jika saat ini ia mengejar ibu dari anaknya sendiri.
"Kemana dia??" gumam Yoga bertanya pada dirinya sendiri. Matanya terus mengawasi kemana arah mobil Raisa melaju. Yoga tidak mau sampai kehilangan jejak Raisa.
Mobil Risa melesat masuk ke sebuah gerbang, Yoga sempat heran saat membaca palang nama di atas gerbang itu.
"Danau kedamaian??"
Yoga masih mengikuti Raisa tanpa gadis itu tahu. Pria itu sangat pandai, ia sangat menjaga jarak agar terlihat tidak mencurigakan dan membuat Raisa menyadari keberadaan nya.
Apalagi di sana bukan hanya dirinya yang masuk ke dalam gerbang itu. Ada banyak mobil yang ikut ke sana.
Raisa berhenti, ia memarkirkan mobilnya di tepi Danau tempat biasanya ia menenangkan diri.
Bukan di sana, tetapi Raisa malah berjalan kaki menyusuri tepian danau hingga ke sebuah tempat yang terdapat pohon besar dan rindang. Akar akar pohon terlihat cantik timbul di permukaan tanah, bahkan bisa di jadikan alas duduk.
Yoga melihat Raisa dari balik pohon yang terletak sedikit jauh dari Raisa.
Namun, pria itu mampu mendengar ap yang Raisa katakan. Karena wanita itu berbicara sangat keras.
"Apa yang terjadi huh??? apa maksud dari semua ini???????" teriak Raisa keras, seolah ia sedang melampiaskan kemarahannya pada danau yang terlihat sangat luas itu. Bahkan tepian yang di sebrang sana tidak terlihat.
"Aku sudah lelah!!!!! Aku tidak mau sakit itu lagi!!!!! kenapa dia muncul dan malah membuat hidupku kacau lagi!!!"
Yoga merasa kurang jelas mendengar ucapan Raisa, ia hanya mendengar suara Isak tangis Raisa saja.
Ketua pria itu hendak melangkah sedikit lebih dekat dengan posisi Raisa berdiri, tiba tiba seseorang memanggil namanya.
"Tuan Yoga?"
__ADS_1
Deg.
Yoga kaget, ia berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya.
"Anda ngapain di sini??" tanya Titi. Ternyata orang itu adalah Titi.
Yoga kebingungan menjawab pertanyaan Titi, karena kaget ia menjadi tidak Fokus.
Yoga kembali menoleh kearah Raisa berdiri tadi, ternyata wanita itu sudah tidak ada di sana.
"Lihat siapa?" ulang Titi mengikuti arah pandang mata Yoga. Tidak ada siapapun di sana.
"Tuan!" panggil Titi lagi.
"Tidak ada Titi, kamu sendiri ngapain ke sini?" ucap Yoga bertanya balik.
Titi tidak langsung menjawab, ia malah tersenyum dan menunduk. Lalu berjalan ke tepian danau, menatap betapa luasnya danau itu.
"Dulu, ketika Nona masih hidup. Dia sering mengajak ku ke Danau ini. Dia sangat menyukai tempat ini sebagai tempat menenangkan diri. Atau tempat nongkrong nya.
Pertama aku kesini bersamanya di saat dia mengalami sakit hati yang pertama dari tuan"
Deg. Jantung Yoga berdetak lebih cepat. Pikirannya melayang ke masa lalu.
Titi tersenyum, mata nya mulai berkaca kaca.
"Aku melihat betapa hancurnya hati nona muda saat itu. Dia menangis dan berteriak. Aku benar benar melihat dirinya rapuh." Titi menoleh, menatap Yoga lekat.
"Hatinya sudah sepenuhnya milik tuan. Dan aku yakin, dia lebih hancur dari itu saat tuan kembali menghancurkan hatinya. Dia hamil, dia.... Dia pasti ketakutan. Dan tuan tahu, apa yang membuat aku sampai hari ini masih belum bisa ikhlas??".
Yoga tak menjawab, ia tidak tahu kata apa yang bisa ia katakan lagi.
Titi menghapus air matanya, kemudian berjalan mendekat pada Yoga.
Titi tidak tahan lagi, ia berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangan nya. Wanita satu anak itu menangis sejadi jadinya.
"Aku jahat!!! Aku jahat!!!" tangis Titi.
Yoga terdiam, dunianya seakan kembali tergoncang. Ucapan Titi sangat menyayat hati Yoga.
Tanpa mereka sadari, Raisa mendengar semuanya. Ia bersembunyi di balik pohon besar sembari berusaha menahan tangis agar tidak terdengar oleh Yoga dan Titi.
Raisa sangat sedih mendengar rintihan hati Titi. Ia tahu wanita itu tidak salah, ia juga sangat merindukan kebersamaannya dengan Titi.
"Maafin aku Titi, aku tidak memberitahu mu" lirih Raisa dalam hati.
...----------------...
Raisa kembali ke kantor, hatinya masih terguncang setelah mendengar percakapan Titi dan Yoga tadi.
"Hai nona..."
Deg.
Raisa berbalik badan, menatap Yoga yang sudah berdiri di belakang nya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Raisa sinis.
"Apa hari ini masih belum bisa membicarakan proyek itu?" tanya Yoga lembut, ia berusaha terlihat hangat dan bersikap seolah olah Raisa menyukai kehadiran nya.
"Keluar!" usir Raisa tegas.
"Bagaimana ini nona? kita harus secepatnya membahas proyek terbaru kita. Jika tidak, nanti kita tidak akan bisa mengejar target!" jelas Yoga.
__ADS_1
Raisa tidak perduli, ia menarik lengan Yoga dan menyeretnya menuju ke arah pintu ruangannya.
"Keluar!!!" ucap Raisa. Namun, Yoga malah tidak bergerak sedikit pun. Pria itu masih berdiri tegap berusaha agar tidak terseret oleh Raisa.
"Nona...."lirih Yoga pelan. Raisa tetap tidak peduli, ia terus berusaha, meskipun usahanya terlihat sia sia.
Srett... Bug~
Yoga menarik tangan nya yang di tarik kuat oleh Raisa, mengakibatkan tubuh Raisa terhuyung ke depan dan menubruk tubuh Yoga.
Pria itu kaget dan malah tidak menahan tubuh Raisa, sehingga mereka jatuh ke lantai.
Posisi Raisa terbaring di atas Yoga dengan jarak wajah yang sangat dekat.
Jantung Yoga berdetak sangat kencang, bahkan tubuhnya bergetar saat ini.
Kalian tahu kenapa??
Mata Raisa melirik ke arah telapak tangan Yoga yang tidak sengaja terletak pada buah dada Raisa.
"Apa yang kau sentuh?" kata Raisa melotot.
Yoga yang polos malah menggerakkan jarinya seperti meremas begitu.
"Apa ini?" lirih Yoga polos.
"Singkirkan!!!" titah Raisa dengan suara menggeram tertahan.
Yoga tidak melepaskannya begitu saja. Ia malah kembali menggerakkan jarinya seperti tadi, ia sangat penasaran.
"Apa ini, kenyal!!" goda Yoga.
"Kau!!!!" Raisa berusaha bangkit, namun Yoga menahannya.
Sless.......
Posisi mereka langsung berubah, kini Yoga berada di atas tubuh Raisa.
"Apa begini lebih bagus??" goda Yoga tersenyum manis.
Raisa menatap nya tajam, ia ingin menyingkirkan pria itu dari tubuhnya, tapi kekuatan Yoga tidak sebanding dengan dirinya.
"Menyingkir lah bodoh!!!" maki Riasa.
"Sangat beda, dulu kau sangat suka jika aku dekat dekat dengan mu!" ujar Yoga.
Emosi Raisa menjadi memuncak.
"Itu karena aku bodoh!" jawab Raisa dalam hati. Ia berusaha mendorong tubuh Yoga, terus berusaha hingga tanpa di sengaja.
Bug.
"Oug..." Yoga mengasuh kesakitan. Benda pusaka nya di sodok oleh lutut Raisa.
Raisa menggunakan kesempatan itu untuk mendorong tubuh Yoga dari tubuhnya, lalu berdiri cepat.
"Aduhh ...."erang Yoga meringkuk di lantai.
"Makanya jangan kurang ajar!!! Wanita mu itu terlalu bodoh karena mau berdekatan dengan pria seperti mu!" ucap Raisa berlalu pergi dari sana.
Yoga terdiam, ia menatap kepergian Raisa.
"Bukan dia yang bodoh. Tapi aku yang bodoh!" lirih Yoga. Lalu ia kembali meringis kesakitan.
__ADS_1