
Pagi hari nya, Raisa terbangun lebih dulu dari Yoga. Ia kaget melihat tubuh polosnya di peluk oleh Yoga.
Untuk beberapa saat ia terdiam dan mencoba mengingat apa yang telah terjadi.
Perlahan butiran air mata lolos dari sudut mata bulat milik nya. Raisa teringat dengan apa yang telah Yoga lakukan tadi malam.
Raisa menahan tangis, ingin rasanya ia berteriak sekencang mungkin pada pria yang saat ini masih nyenyak dalam tidur nya.
"Kau benar-benar jahat!" maki Raisa pelan, sorot matanya menatap Yoga kecewa. Pria itu sudah mengambil hartanya yang paling berharga tanpa persetujuan dari nya.
Raisa turun dari ranjang, memunguti pakaian nya yang masih berserakan di lantai.
Pergerakan gadis itu lambat, rasa sakit pada inti kewanitaan nya membuatnya berjalan pelan.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi, Raisa memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar hotel. Meninggalkan Yoga yang masih tidur nyenyak di sana.
1 jam setelah Raisa pergi, Yoga pun mulai bergerak gelisah. Meraba raba ranjang sebelahnya mencari sosok Raisa.
Sudah kosong, tidak ada siapapun di sana. Yoga terbangun, ia duduk dan menatap seluruh sudut ruangan.
"Di mana dia??" gumam Yoga.
"Akhh...." kepalanya terasa sangat sakit, efek ia minum terlalu banyak tadi malam.
Yoga memunguti pakaian nya, lalu memakainya asal. Mencari keberadaan Raisa di kamar hotel itu.
Yoga memeriksa kamar mandi, balkon, dan seluruh kamar ini. Namun Raisa tetap tidak ada.
Yoga mulai berpikir jika kejadian yang ia alami tadi malam adalah mimpi.
Jika itu mimpi, mengapa ia merasa sangat nyata. Bahkan kehangatan yang Raisa berikan kepadanya sangat nyata.
Pria itu terduduk di tepi ranjang, memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
...----------------...
Sesampainya di rumah, Raisa langsung masuk ke dalam kamar.
Raisa kembali merendam dirinya di dalam bathtub yang berisi dengan air hangat. Rasa perih itu masih menggerogoti **** ********** nya.
Wajar saja, karena tadi malam adalah yang pertama bagi Raisa. Yoga adalah orang pertama yang merenggut keperawanan nya.
Tuk!! Tuk!!
"Nona, apa kau sedang di dalam kamar mandi?" suara Titi dari luar.
Raisa tidak menjawab, ia menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar oleh Titi.
"Aku sudah hancur Titi, pria brengsek itu telah menghancurkan aku seutuhnya" lirih Raisa di dalam hati.
Mendengar suara guyuran air jatuh di lantai, menjawab pertanyaan Titi. Ia yakin Raisa berada di dalam kamar mandi.
Gadis itu kembali keluar dari kamar Raisa, ia pergi ke dapur untuk mengambil ayam bakar kesukaan Raisa, lalu membawanya masuk ke dalam kamar Raisa.
__ADS_1
Seperti mayat hidup, Raisa keluar dari kamar mandi dengan tatapan kosong.
"Nona, ada apa?" tanya Titi heran.
"Titi tolong keringkan rambut ku" titah Raisa pelan. Ia seperti tidak memiliki hasrat untuk hidup.
Titi menurut, ia mengambil pengering rambut. Tapi Raisa melarang nya, ia meminta Titi untuk mengeringkan rambut nya menggunakan handuk saja.
Selama Titi mengeringkan rambut nya, Raisa tidak bersuara, ia duduk sembari memeluk kedua lututnya di atas ranjang.
Untuk mencairkan suasana, Titi mencoba mengajak Raisa mengobrol.
"Tadi malam nona kemana?" tanya Titi iseng.
Raisa menggeleng, lalu tak lama kemudian bahunya bergetar.
"Eh... Nona kenapa menangis??"
"Hiks...Hiks...Titi....." Raisa berbalik, lalu memeluk Titi erat. Menumpahkan semua air mata dalam pelukan wanita itu.
"Ada apa, kenapa nona menangis??" balas Titi memeluk Raisa.
Raisa tak menjawab, ia hanya menangis keras dalam pelukan Titi.
Ayam bakar yang Titi siapkan untuk Raisa, sudah menjadi dingin dan terlihat hambar.
...----------------...
Yoga kembali ke kantor, ia masuk ke dalam ruangan nya.
"Dari mana saja kau? kenapa kau tidak menghubungi ku??? lihat!!! kau mengabaikan perusahaan!" omel Niko.
"Sudah lah, aku sedang malas berdebat" tukas Yoga acuh. Ia masih memikirkan tentang kejadian tadi malam.
Niko menekuk wajahnya berlipat lipat kali, yoga benar benar menyebalkan.
Sedangkan Yoga malah mengingat, ketika check in hotel, Raisa lah yang melakukan nya. Tapi, ketika ia hendak check out, resepsionis itu mengatakan jika Yoga sendiri lah yang melakukan nya.
"Apa aku berkhayal?" pikir Yoga bingung.
Niko memperhatikan Yoga, pria itu terlihat seperti orang gila. Mengangguk, kemudian menggeleng tidak karuan.
"Apa kau sudah gila?" seru Niko.
"Ahh... Aku pusing, tadi malam terlalu banyak minum" keluh Yoga.
"Kau selalu begitu, memangnya kau pikir Raisa akan kembali dengan kau yang bersikap seperti itu" cibir Niko.
Yoga menatapnya sinis.
"Kau ini, bukan nya mendoakan yang terbaik tapi malah kau bicara seperti itu!"
Gladies masuk ke dalam ruangan Yoga tanpa rasa tahu malu.
__ADS_1
"Ah gadis ini lagi" gumam Niko malas.
"Hai kak Yoga tampan ku" sapa Gladies manja. Ia berusaha ingin mendekati Yoga, namun pria itu langsung menepisnya.
Yoga mengeratkan giginya, terlihat tulang pipinya tercetak membuat wajahnya terlihat semakin tampan.
"Kenapa kau datang lagi ke sini!" sinis Yoga tajam.
Gladies tersenyum manis, ia tidak mempan dengan tatapan dan sinis nya ucapan Yoga kepadanya.
"Ya ampun kak, sebentar lagi kita kan akan menikah. Kenapa aku tidak boleh datang ke sini" balas Gladies sok manja
"Mimpi ketinggian" cibir Niko. Ia memang tidak suka dengan gadis ini.
"Apaan sih, sibuk aja!" balas Gladies.
Yoga memijat keningnya, masalah dengan Raisa belum kelar, gadis ini malah kembali membuat kekacauan.
"Sebaiknya kau keluar!" ucap Yoga dingin.
Gladies menoleh pada Niko.
"Gak denger?" ucap Gladies. Ia mengira Yoga mengusir Niko.
"Gak sadar yah? yang di usir tu kamu. Bukan aku!" balas Niko.
Gladies tidak percaya, ia balik menatap Yoga dan pria itu sudah berdiri dan menyeret nya keluar dari ruangan itu.
"Eh eh... Kok aku sih. Kak...Kak..." rengek Gladies berusaha menahan diri agar tidak terseret oleh Yoga keluar.
Blam~
Pintu tertutup rapat tepat di depan wajah Gladies.
Wanita resepsionis yang melihat Gladies di seret keluar, menahan tawa.
"Apa!!" bentak Gladies menatap wanita itu tajam.
Wanita resepsionis menutup mulutnya rapat rapat, ia tidak mau berurusan dengan gadis gila itu.
"Iss... Lihat saja nanti!" gumam Gladies menghentak hentakkan kakinya pergi dari sana.
"Huh, dasar cewe tidak tahu malu" umpat Niko mengungkap rasa ketidaksukaan nya pada Gladies.
Yoga kembali diam, bayangan dan suara ******* Raisa terasa nyata di telinganya.
"Ahhh!!! Aku bisa gila!!? kenapa semua ini terjadi pada ku!" teriak Yoga frustasi. Ia terus saja mengingat apa yang terjadi, namun semua bukti dan ingatannya terlihat seperti mimpi.
Niko melongo, melihat Yoga berbicara dan marah marah sendiri.
"Kau sudah gila? sejak tadi tingkah mu sangat aneh" ucap Niko.
"Iya, gila karena punya saudara seperti mu" dengus Yoga beranjak keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Dasar tidak bersyukur!" decak Niko menatap kepergian Yoga.
...----------------...