
"Mami!!!!!!!!" teriak seorang anak laki-laki yang tampan dan juga lucu. Ia berlari menghampiri seorang wanita yang dulu terlihat lugu dan seperti ABG. Kini sudah terlihat seperti wanita dewasa.
Raisa tersenyum, kemudian merentangkan kedua tangan nya menyambut putra yang teramat ia sayang.
"Putra tampan ku"
Raisa memeluk Roy Alaska, putra kecil yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang.
Kini Raisa sudah menjadi seorang ibu dan seorang desainer terkenal. Namanya sering muncul di majalah majalah style di dunia.
Bukan Raisa Anglina, namun Lina Khan.... Di ambil dari ujung nama Dave.
"Mami, tadi uncle cariin mami, katanya mau ngomong penting" kata Roy dengan logat anak anak nya.
Meskipun masih kecil, tapi Roy memiliki pemikiran yang bijak, ia tidak seperti anak anak pada umumnya.
"Benarkah? kalau begitu. Mari kita pulang"
Raisa menggendong putranya, kemudian membawa nya pulang ke rumah nyonya Turhan.
Di depan rumah, Raisa melihat Dave tengah duduk di bangku taman.
"Roy sayang, masuk dulu yah. Mami mau bicara sama uncle Dave"
"Baik mami" jawab Roy mengangguk patuh. Raisa tersenyum melihat tingkah putranya, ia mengelus pelan rambut putra nya sebelum putra nya berlari masuk ke dalam rumah.
Raisa berjalan menghampiri kakak sepupunya.
"Ada apa mencari ku?"
Dave tersentak, ia menoleh kemudian tersenyum.
"Kamu sudah di sini" gumam Dave.
Raisa tidak membalas, ia ikut duduk di samping Deva, menatap lurus ke depan.
Keduanya sama sama terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Bagaimana? apa kamu masih betah di sini? apa kamu tidak berniat untuk kembali?"
Huffff....
Raisa menarik nafas dalam, sejujurnya ia sempat pernah berpikir ingin kembali. Bertemu dengan kak Johan dan Titi. Mereka sangat Raisa rindukan. Tapi, apakah bisa? ia kembali bersama putra nya dan bertemu orang itu?.
Raisa takut, ia takut bertemu dengan pria yang sudah menghancurkan hidup nya.
Apalagi nanti, jika pria itu tahu soal putra nya. Maka ia pasti akan berusaha memisahkan mereka.
"Aku tida berani" lirih Raisa menunduk.
"Kenapa Lina? kamu sudah berubah, identitas mu juga tidak sama. Aku yakin mereka tidak akan mengenali mu, setidaknya kamu bisa bertemu dengan Johan dan sahabat mu. " ucap Dave.
Dave sudah tidak tahan melihat adik sepupunya hidup dalam kesepian, seringkali Dave memergoki Raisa tengah menangis seorang diri. Entah apa yang ia tangisi Dave tidak tahu.
"Aku sudah bahagia begini kak, aku tidak mau merusak kebahagiaan ku bersama putra ku" lirih Raisa lagi.
Dave menarik bahu Raisa, menghadapkan Raisa kearahnya.
"Apa menurut mu melihat Roy di ejek teman temannya membuat mu bahagia?"
Raisa menggeleng, bukan karena itu ia bahagia.
__ADS_1
"Lalu apa Raisa? kamu hidup selalu dalam kesepian, dalam tangisan!! "
"Tidak kak!! Aku sangat bahagia, aku sudah tenang!" bantah Raisa, ia merasa dirinya sudah bahagia bersama putranya.
Dave menggeleng, ia tahu Raisa berbohong. Melihat air mata jatuh di pipi nya saja Dave sudah tahu artinya.
"Kamu tahu? Roy selalu bermimpi ingin bertemu dengan papa nya. Dia selalu membanggakan pada teman teman nya jika dia memilik seorang papa yang hebat"
Deg.
Raisa menggeleng, ia tidak mau menyerahkan Roy pada Yoga. Tidak akan pernah.
"Kamu jangan salah paham dulu. Roy berhak mengetahui siapa papa nya, apa salahnya dia tahu." ucap Dave lagi.
Tak jauh dari sana, Roy mendengar semua pembicaraan mami nya dengan uncle Dave nya.
Meskipun masih kecil, tapi Roy sudah mengerti maksud dari pembicaraan mereka.
"Jadi papa ku masih hidup dan memiliki permasalahan dengan mami?" gumam Roy dalam hati.
"STT.... " kode Julia dengan desisan. Roy menoleh, ia langsung menarik Julia menjauh dari sana agar tidak ketahuan jika dirinya sedang menguping.
"Eh eh...Kenapa aunty di tarik ke sini sih" dengus Julia melepaskan tangannya yang di tarik oleh Roy masuk ke dalam rumah.
"Aunty kenapa ada di sini sih? ganggu aku tahu" marah Roy menatap Julia tajam.
"Selebew.... kenapa malah marah marah? kan aunty gak tahu tadi"
Roy mendengus kesal,lalu pergi masuk ke kamarnya dengan langkah kaki sengaja di hentak hentakkan.
"Lah tu bocah kenapa?" gumam Julia heran.
Julia menyusul Roy ke dalam kamarnya, ia melihat anak laki-laki tampan itu duduk di tepi ranjang dengan wajah di tekuk.
"Pangeran Roy kenapa sih? kok lesuh dan bete gitu? cerita dong sama princess Julia"
Roy masih diam, rayuan Julia tidak mempan. Bocah itu benar benar badmood saat ini. Bukan karena Julia mengganggu nya, tapi karena memikirkan bagaimana cara ia bisa bertemu dengan papa nya.
"Pangeran, jangan diemin aku dong....Aku kan jadi takut" rengek Julia lagi.
"Sudah lah aunty, aku lagi tidak mau bermain!" lirih Roy.
"Kenapa? apa ada sesuatu yang mengganggu mu?"
Roy terdiam, ia mulai meragu. Antara ingin menceritakan pada Julia atau tidak.
"Aku menguping pembicaraan mami sama uncle. Papa ku masih ada" ucap Roy menatap Julia
"Lalu?" sahut Julia penasaran.
"Aku ingin menemuinya, tapi aku tidak tahu caranya. Apa aunty bisa membantu ku?" tanya Roy penuh harap.
"Hemm...Aku tidak yakin Roy, tapi kamu bisa kok buat diri mu bertemu dengan papa mu"
Mata Roy berbinar, ia terlihat semakin bersemangat.
"Bagaimana cara nya?" tanya Roy penasaran, ia sangat tidak sabaran.
"Telfon kakek Handika, lalu minta bantuan darinya. Setelah itu, kamu buat cara agar mami mu mau kembali ke negara nya" jelas Julia.
"Wah ide bagus, terimakasih Julia. Aku cinta kamu" ungkap Roy girang, ia mengecup kedua pipi Julia secara bergantian.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu pangeran kecil ku" balas Julia. Ia merasa sangat senang bisa melihat Roy kembali bersemangat.
Sebenarnya Julia tidak mau membantu Roy, pasti Raisa akan marah padanya jika ia tahu dirinya membantu Roy. Tapi, Julia juga tidak tahan melihat seorang anak terpisah dari papanya.
Bukan Julia tidak mengerti perasaan Raisa, tapi Roy masih anak kecil. Roy sangat butuh kasih sayang dari papa dan mami nya.
"Maafkan aku Raisa..." lirih Julia.
...----------------...
Di kantor Yoga.
Yaisya masuk ke dalam ruangan Yoga, ia terlihat sangat marah dengan anak angkat nya itu.
"Susah empat tahu Yoga! kami seperti ini! kapan kamu akan sadar!" bentak Yaisya.
Yoga terlihat santai, ia lebih terlihat mengacuhkan keberadaan Yaisya.
"Sampai kapan kamu akan melajang Yoga? setidak nya kamu menikah dengan Gladies. Dia cantik dan cocok dengan mu!"
Yoga masih diam, ia tidak memperdulikan Yaisya. Membuat wanita yang semakin tua itu menjadi geram.
"Yoga! apa kamu tidak dengar mama huh?. apa kamu masih menunggunya??
Iya??? menunggu gadis yang sudah meninggal itu" teriak Yaisya.
Brak!
"Cukup! saya minta anda keluar! berhenti ikut campur dengan hidup saya!" bentak Yoga mengusir Yaisya.
"Kamu usir mama huh? apa kamu mau di pecat dari perusahaan ini?" ancam Yaisya ikut marah, mata nya melotot menatap Yoga marah. Sudah 4 tahun ia menunggu agar Yoga mau menikahi Gladies. Tapi Yoga tetap tidak mau.
Yaisya pikir, setelah gadis bodoh itu mati. Yoga akan menerima perjodohan nya dengan Gladies. Tapi ternyata ia salah. Kepergian gadis itu malah membuat Yoga semakin kejam, tidak ada senyum di bibirnya. Yoga yang kejam kembali ke sifat aslinya. Bahkan lebih parah lagi.
"Bereskan semua barang barang anda! dari rumah ataupun perusahaan ini!" ujar Yoga tanpa melihat kearah Yaisya.
"Kamu gila yah!" balas Yaisya tidak percaya mendengar ucapan Yoga.
"Pergi sebelum aku menyuruh polisi untuk menangkap mu! semua bukti bukti sudah ada di tangan ku, kau bisa kapan saja ku masukkan di dalam penjara!" jelas Yoga tanpa ras hormat.
Yaisya hendak menampar Yoga, namun dering ponselnya menghentikan niat nya.
Yaisya melihat layar ponselnya, tertulis nama Gladies di sana.
"Halo Tante, gawat!!! kita sudah ketahuan. Kelompok kita juga sudah di tangkap! Kakek tewas di tembak karena mencoba melarikan diri saat di kejar polisi "
"Apa?"
Klik!
Yaisya menatap Yoga tajam, lalu berbalik pergi
"Awas kamu yah!" ancam Yaisya sebelum pergi.
Yoga menghembuskan nafas berat, bertahun tahun ia menghabiskan waktu sendiri, memikirkan kenangan bersama kekasihnya Raisa.
4 tahun laku, Yoga merasakan bagaimana rasanya ngidam. Ia berpikir ini aneh dan janggal. Mana mungkin ia merasakan ngidam, sementara anaknya meninggal bersama ibunya.
Sejak saat itu, Yoga mulai menyelidiki kasus kecelakaan yang di alami oleh Raisa. Hingga dirinya mencium kebusukan yang di lakukan oleh Yaisya.
Penyelidikan tentan Raisa berubah menjadi penyelidikan Yaisya dan Gladies. akhirnya Yoga terbebas dari wanita itu. Ia juga bisa melihat papa nya tersenyum bahagia.
__ADS_1
Yoga baru tahu, ternyata papanya selama ini hidup tertekan. Hanya demi dirinya, papanya rela terlihat seperti budak oleh Yaisya.
...----------------...