Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Kesempatan ke dua?


__ADS_3

Malam itu, Raisa dan Titi tengah duduk di ruang tv sembari menonton serial kesukaan mereka. Yaitu drama Korea.


Johan datang, ia baru saja selesai mandi, lalu bergabung dengan kedua gadis itu.


"Nonton apa dek?" tanya Johan basa basi.


"Gak liat tuh" jawab Raisa acuh.


Johan mengerucutkan bibirnya, sikap Raisa benar benar berubah sekarang.


"Benar kata orang, rasa sakit mampu merubah segalanya. Tapi, yang jadi masalahnya adalah. Kenapa aku yang terkena imbas nya?" Kelu Johan dalam hati.


Johan melirik Titi, saat itu Titi juga melirik ke arah nya.


"Love you " ucap Johan dengan gerakan bibir tanpa bersuara. Bibir nya manyun seperti memberi kecupan.


Titi merona, ia menunduk malu melihat ungkapan hati Johan secara sembunyi sembunyi.


Ketika hendak membalasnya, Raisa malah menoleh dan melempar Johan dengan bantal sofa.


"Jangan rayu dia!!" serga Raisa.


"Kenapa sih dek. Dulu kamu mendukung hubungan kami. Sekarang kenapa malah kaya gini?" protes Johan.


"Kamu sama aja kaya Yoga!" jawab Raisa.


Johan berdiri, bertepatan saat itu Yoga tiba dan masuk ke dalam rumah. Ia kaget melihat ekspresi marah Johan.


"Jika kamu merasa sakit, kenapa kamu harus bawa orang untuk merasakan sakit itu? kenapa harus!"


Raisa terdiam.


"Lagi pula, Yoga juga sudah membuktikan rasanya pada mu. Kenapa kamu jadi keras kepala dan malah ngelunjak. Aku kakak mu, aku tahu yang baik dan buruk untuk kamu Raisa!" ucap Johan panjang lebar, dada nya turun naik, ia benar-benar harus meluruskan semua ini.


"Kamu itu sudah gede, kenapa sih harus bersikap seperti anak anak kaya gini?"


Johan menarik tangan Titi, ia mengajak Titi pergi bersamanya. Meninggalkan Raisa yang terdiam mencerna setiap ucapan nya barusan.


Awalnya Titi tidak mau, ia takut Raisa sedih lagi. Tapi, Yoga memberi kode agar Titu menurut pada Johan.


Kini tinggallah Yoga dan Raisa berdua di ruang tv itu.


Raisa masih diam, ia syok mendengar ucapan Johan. Sebelumnya kakaknya tidak pernah berkata seperti ini, membentaknya saja tidak pernah.


"Apa aku keterlaluan?" lirih Raisa pelan, air matanya juga sudah mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Aku rasa tidak, kamu hanya sedikit kurang memahami" jawab Yoga.


Pria itu mengambil posisi duduk di samping Raisa. Memeluk gadis itu dari samping.


"Kamu gak salah kok, semuanya terjadi karena aku. Kamu berubah juga karena aku. "


"Tapi, kenapa dia malah marah sama aku?" gumam Raisa terdengar sedih.


"Itu karena kamu memisahkan mereka" jawab Yoga seadanya.


Kedua nya sama sama terdiam, yang terdengar hanya Isak tangis Raisa saja.


"Raisa" panggil Yoga pelan.


"Hm"

__ADS_1


"Apa aku terlalu jahat untuk di maafin?"


Diam. Raisa tak menjawab. Hingga Yoga menarik bahu Raisa dengan kedua tangannya, lalu menghadapkan kearahnya.


Raisa menunduk, ia masih dalam keadaan menangis.


"Aku tahu, selama ini aku bodoh. Aku salah, membiarkan duri dalam hubungan kita. Tapi please...."


"Please, beri aku kesempatan kedua" sambung Yoga terdengar tulus.


Raisa mendongak, matanya bertemu dengan mata Yoga.


"Aku tidak tahu, apa aku bisa" balas Raisa masih menatap bola mata Yoga, mencari sebuah kebohongan di dalam sana.


"Aku benar-benar sayang sama kamu, aku benar-benar cinta sama kamu Raisa. Aku mau memulainya dari awal lagi"


"Tapi.."


Cup~


Yoga membungkam bibir Raisa dengan bibirnya. Awalnya hanya sebatas kecupan biasa. Lama kelamaan, Yoga menggerakkan bibirnya dan mulai menyalurkan rasa cinta yang selama ini terpendam.


Raisa tak kuasa menolak, sejujurnya ia juga merindukan belaian Yoga. Bayangan ketika yoga mabuk dan mengambil mahkotanya kembali berputar di benak nya.


Bukan membuat untuk melepaskan, tapi malah membuat Raisa memejamkan mata dan mulai menikmati permainan Yoga.


...----------------...


"Tuh kan, enak enak dia. Kalo aku yang kaya gitu. Beuhhhhh abis aku" gerutu Johan.


Titi terkekeh mendengar nya, Johan terlihat lucu ketika menggerutu seperti itu.


Johan melirik Titi, membuat gadis itu langsung menghentikan kekehan nya.


"Tidak papa tuan, " balasnya menunduk takut.


Hab.


Johan memeluk Titi erat, ia mendorong Titi agar tersedak ke tembok.


"Apa yang tuan lakukan?" tanya Titi gugup.


"Tentu saja menikmati waktu kita" goda Johan. Ia langsung menautkan bibirnya ke bibir ranum milik Titi.


Keduanya saling memeluk, mencari kepuasan yang sempat tertunda beberapa hari yang lalu.


"Ahh..." lenguh Titi keenakan. Johan benar benar bisa membuatnya melayang ke udara.


"Apa aku Cinderella? apa aku boleh berharap?? apa aku boleh mencintai mu tuan Johan Jeland?" gumam Titi dalam hati.


Sejujurnya Titi masih takut untuk berharap, ia tidak mau merasakan sakit seperti yang Raisa rasakan.


Jika ia mencintai Johan dan mereka tidak ditakdirkan bersama. Maka Titi akan merasakan sakit yang lebih parah dari Raisa. Porsi mereka terlalu beda.


Johan melepaskan tautan bibir mereka, ia menempelkan keningnya ke kening milik Titi.


"Tatap aku Titi" pinta Johan.


"Aku mencintaimu Titi" ungkap Johan lagi setelah Titi menatap matanya.


"Aku...Ak-ku tidak tahu tuan" balas Titi ragu.

__ADS_1


"Kenapa? apa yang membuat mu ragu?" tanya Johan penasaran.


Titi tersenyum, ia melepaskan pelukan Johan dari tubuhnya. Kemudian memberi jarak di antara mereka.


Tentu saja Johan menjadi bingung. Apa maksud Titi melakukan nya?.


Titi tersenyum, kemudian membelakangi Johan.


"Kita berada di tempat yang berbeda tuan. Saya tidak berani untuk menerima nya. Saya cukup tahu diri" jelas Titi dengan suara lembutnya. Semua kekasarannya selama ini pada Johan sirna semua.


Johan menggeleng, ia kembali menarik Titi. Lalu, memeluknya dari belakang.


"Apa kau tahu karena dirimu adalah seorang pelayan??" tebak Johan.


Titi tidak menjawab, jawaban Johan sangat tepat.


"Aku tidak peduli Titi, lagi pula keluarga besar ku pasti akan menerima mu. Mereka tidak melihat latar belakang pasangan cucu atau anak mereka." ucap Johan meyakinkan Titi.


"Tapi tuan...Ak- ku"


"Aku apalagi Titi, terima saja. Kau sudah kembali mendapat ijin dari ku" sambung Raisa.


"Nona?" kaget Titi, ia langsung melepaskan pelukan Johan pada tubuh nya.


"Mengganggu saja" cibir Johan kesal.


"Maaf Johan, tapi kini giliran kami yang menyatukan kalian" sela Yoga.


Raisa berjalan mendekati Titi, kemudian memeluknya erat.


"Kau pantas menjadi pendamping kakak ku. Aku yakin kalian akan sangat cocok" ujar Raisa lagi.


"Benarkah? apa aku boleh?" tanya Titi tidak percaya.


Raisa mengangguk, tentu saja Titi boleh mencintai kakaknya. Menurut Raisa, Titi adalah gadis yang berbeda di antara wanita wanita di luar sana.


Titi memiliki hati yang tulus, royal terhadap pekerjaan dan juga bertanggung jawab.


"Nah, udah di restui!!" sorak Johan senang.


"Udah gak usah lama lama pelukannya" ujar Johan, ia memisahkan Titi dari Raisa, kemudian membawa kabur Titi menuju ke kamarnya.


"Eh belum sah!!!!" teriak Raisa. Namun Johan sudah masuk, dan tidak mendengar teriakan nya.


"Dasar pria mesum" gerutu Raisa.


Yoga tersenyum, ia menarik Raisa masuk ke dalam pelukan nya.


"Terimakasih sudah mau menerima ku" kata Yoga bersyukur.


"Maaf juga, aku merajuk terlalu lama" balas Raisa lirih.


"Aku gak papa kok kalo kamu merajuk lama lama " ujar Yoga.


Raisa bengong, kenapa Yoga malah suka kalau dia merajuk.


"Yaudah, aku merajuk aja terus!" kata Raisa pura pura merajuk.


"Ihhh kan cantik kalo gini"


Raisa menutup wajah nya, yoga benar benar membuat dirinya terbang ke udara, bertemankan malu.

__ADS_1


"Udah ah, aku mau lanjut nonton" dengus Raisa.


"Ehh tunggu!!" teriak Yoga menyesuk gadis itu ke ruang tv.


__ADS_2