
Johan berjalan gontai memasuki rumah besar nya, setelah seharian berada di markas paman nya membuat tubuhnya terasa sangat lelah.
"Tuan" sapa Titi ketika Johan memasuki ruang tengah. Ia kaget melihat keberadaan Raisa dan juga pelayan rumah Yoga ada di rumah nya.
Yang paling membuat Johan adalah, keadaan adiknya yang sangat kacau.
Titi berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Johan.
"Apa yang terjadi?" tanya Johan.
"Cerita nya panjang tuan, sejujurnya aku juga tidak mengerti, tapi tadi siang..."
"Yoga! kau pria keparat!!" Rancau Raisa memotong ucapan Titi.
"Apa yang terjadi siang tadi?" desak Johan penasaran, apa yang telah membuat adiknya seperti ini.
"Tadi siang, kami ke kantor untuk menemui tuan Yoga. Sudah satu Minggu tuan Yoga mengacuhkan Nona. Lalu untuk memastikan apa yang terjadi, saya membujuk nona muda untuk menemui tuan di kantor dan membicarakan apa masalah di antara mereka. Tapi..."
"Tapi apa?" sela Joha .
"Nona muda melihat tuan muda tengah bersama wanita di dalam ruangan nya"
"Apa?" Johan mengepal tinju nya, ia tidak percaya Yoga mengingkari janjinya.
"Bawa nona ke kamarnya!" titah Johan menahan amarah, ia harus membuat perhitungan dengan Yoga.
"Tapi, nona bilang dia tidak mau pindah sebelum bertemu dengan tuan" jelas Titi lagi.
"Engg...."
Raisa menggeliat, ia menggosok gosok pelupuk mata nya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Eh kakak sudah pulang?" Raisa langsung duduk dan tersenyum pada Johan.
"Kamu kenapa tidur di sini?" tanya Johan datar.
"Aku menunggu mu, aku ingin bersama mu untuk beberapa saat" gumam Raisa manja.
Johan menghela nafas, adik nya malah bersikap seolah olah semuanya baik baik saja.
"Ayo kakak antar ke kamar" ucap Johan.
Raisa menggeleng, ia tidak mau pergi ke kamar. Ia hanya ingin bersama kakaknya, keluarga satu satunya yang ia punya.
"Baiklah, apa yang nona muda inginkan??" tanya Johan bersikap seperti pelayan khusus untuk Raisa.
"Aku ingin makan eskrim bersama tuan muda" sahut Raisa tersenyum lebar.
"Satu lagi, apa nona di sebelah sana mau membuatkan aku ayam bakar??" ucap Raisa menunjuk Titi dengan malu malu. Ia bersikap seolah olah dirinya masih kecil.
"Tentu saja" sahut Titi senang.
"Kalau begitu, cepat lah!" seru Raisa.
Titi langsung bergegas pergi ke dapur milik Johan. Ia meminta beberapa pelayan yang masih berada di dapur untuk membantu nya.
Johan menatap sendu wajah adiknya, ia tahu jika adiknya tidak baik baik saja saat ini.
Bibir Raisa memang memperlihatkan senyum manis, namun dari sorot matanya sudah tergambar jelas bagaimana hancur perasaan nya saat ini.
"Jangan menatap ku seperti itu" ucap Raisa lirih.
"Aku sudah tahu semuanya" balas Johan. Membuat Raisa langsung menoleh padanya.
Tak lama kemudian, Raisa kembali tersenyum getir dan menunduk.
"Aku yang salah, karena aku terbuai oleh manisnya cinta. Tanpa sadar bahwa itu tak selamat abadi"
Hiks....Hiks...
Raisa menangis, Johan langsung memeluknya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Dia akan mendapatkan akibatnya setelah membuat mu begini" kata Johan
Raisa tidak menjawab, ia hanya memejamkan matanya, lalu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Johan.
Tangan Johan mengusap usap punggung adiknya, tatapannya menajam lurus ke depan.
"Akan ku pastikan kau mendapat balasannya Yoga!" dendam Johan dalam hati.
...----------------...
"Hahahaha..... Ternyata sangat muda untuk membuat gadis itu menjauh dari kak Yoga" ucap Gladies tertawa keras.
Saat ini gadis itu tengah merayakan kemenangan nya bersama Yaisya.
"Kamu memang keponakan Tante yang paling cantik dan berotak cerdas" ujar Yaisya memuji.
"Tentu saja, keponakan Tante..."sorak Gladies. Ia mengangkat gelas minumnya, lalu bersorak dan bersulang dengan Yaisya.
"Bersulang untuk kemenangan pertama kita!!"
"Yuhuuu" sahut Yaisya.
__ADS_1
Mereka sangat menikmati pesta itu, raut wajah bahagia terlihat sangat jelas.
"Jadi, apa rencana mu selanjutnya?" tanya Yaisya menatap wajah keponakan nya.
Gladies mengangkat bahu. Untuk sementara ia hanya akan membiarkan kondisi ini berjalan seperti arus sungai. Setelah masa nya tiba, ia baru akan menjalankan rencana selanjutnya.
"Biarkan saja dulu Tante, biarkan mereka menikmati kehancuran pertama"
"Yah kamu benar, memang seharusnya mereka menikmati nya sedikit lebih lama."
Kedua wanita itu kembali bersulang, menikmati malam yang indah dan membahagiakan bagi mereka.
...----------------...
Sementara di rumah besar milik Yoga, pria itu tampak tidak bersemangat. Ia benar-benar menyesal telah melakukan rencana ini. Apalagi Gladies, gadis itu benar-benar jahat kepadanya.
Yoga duduk di tepi kolam, menatap langit yang tampak tahu bagaimana isi hatinya saat ini. Terbukti dengan tidak ada nya bintang dan bulan, malah yang ada hanya awan hitam yang membuat langit terlihat semakin gelap. Seperti nya akan turun hujan sebentar lagi.
Tadinya Yoga kalang kabut mencari Raisa, namun ia mendapatkan kabar dari Titi jika Raisa berada di rumah kakaknya.
"Di sini kau ternyata"
Yoga tak menoleh, ia tahu suara itu adalah milik Niko.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Niko sembari duduk di samping Yoga.
"Aku sedang memikirkan bagaimana cara melenyapkan mu malam ini" Yoga melirik Niko sinis.
"Kok aku?" kaget Niko.
"Lalu siapa lagi?? sudah jelas aku memikirkan Raisa. Kenapa kau masih menanyakan nya huh?? apa kau ingin meledek ku!!" hardik Yoga penuh emosi.
Niko menggeleng, mengusap bahu Yoga pelan, yang langsung di tepis oleh pemiliknya.
"Emosi begini juga tidak akan mengembalikan segalanya, kau tidak perlu melampiaskan kepada ku" lirih Niko.
"Kau membuat ku geram" ungkap Yoga.
Niko tak membalasnya, mereka sama sama terdiam dan menatap ke dalam kolam berenang.
"Apa kau bisa membayangkan bagaimana marah Johan kepada mu saat ini?"
Hufff......
Yoga menarik nafas dalam, ia tidak terlalu memikirkan Johan. Tapi, ia lebih memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada Raisa bahwa semua yang ia pikirkan tidak benar.
"Aku tidak peduli dengannya, mau dia membunuh ku juga tidak masalah, yang penting begi ku Raisa kembali ke sisi ki"
Niko mengangguk mengerti, dan ia juga tahu pasti Johan akan mengerti jika mendengar penjelasan dari Yoga nanti.
...----------------...
Yoga melangkah melewati Lobi, terlihat banyak pegawai menunduk hormat dan menyapanya. Namun, pria itu tampak acuh dan tidak peduli.
"Aneh, kenapa raut wajahnya muram seperti itu?"
"Apa ada masalah?"
"Apa perusahaan mengalami masalah?"
"Atau boss yang kejam kembali lagi??"
Begitulah gumaman para pegawai tentang Yoga yang kembali ke sifat aslinya.
Pria itu masuk ke dalam ruangannya, mengambil semua dokumen dan berusaha untuk menyibukkan diri.
Brak~
Pintu terbuka lebar. Johan melangkah cepat dengan sorot mata menatap tajam pada Yoga.
"Johan!" teriak Niko berlari keluar dari lift. Ia ikut masuk dan menahan Johan ketika hendak memukul Yoga.
"Aku sudah peringatkan pada mu!!! Jangan pernah membuat adik ku meneteskan air mata, walaupun hanya setetes saja!!!"
"Sabar Johan, kita bisa membicarakan nya baik baik" bujuk Niko.
Johan menghempaskan tangan Niko, ia berjalan mendekat pada Yoga. Lalu menarik kerah baju pria itu.
"Kau sudah membuat adik ku menderita, kau membuat hatinya hancur!! Apa itu yang kau sebut janji membahagiakan nya!!!! Apa itu!!", teriak Johan di depan wajah Yoga.
Niko memegang kepala, ia memutar otaknya memikirkan cara untuk menenangkan Johan dan mengajaknya bicara baik baik.
"Maaf" lirih Yoga. Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Yoga juga tampak pasrah dan tidak melawan ketika Johan hendak memukulnya.
"Huh!!!"
Johan menghempaskan kerah baju Yoga, lalu berbalik membelakangi nya.
"Katakan! kenapa kau melakukan semua ini!" sinis Johan tanpa menoleh.
"Aku tidak ada melakukan apapun Johan, aku terjebak dalam situasi yang tidak aku kehendaki!"
Johan mendelik, ia menggeram mendengar ucapan Yoga.
__ADS_1
"Apa kau tidak mengakui kesalahan mu!!",
"Situasinya yang salah, bukan aku" ucap Yoga membela diri.
Plak!!
Johan menampar wajah tampan Yoga.
"Cih malah mereka yang seperti suami istri bertengkar" cibir Niko.
"Diam kau!" teriak Yoga dan Johan bersamaan menatap Niko tajam.
Niko pun langsung mengunci bibir nya rapat rapat.
"Aku memang salah, mengacuhkan nya selama satu Minggu hanya untuk memastikan rasa cinta yang ia rasakan padaku. Lalu dia datang tanpa aku tahu. Tapi sial nya, gadis jal@ng malah mengganggu ku dan di lihat oleh Raisa. " jelas Yoga panjang lebar!
"Apa kau kira aku suka bermain wanita???" decak Yoga
Johan terdiam, benar juga yang Yoga katakan. Ia sudah berteman dengan Yoga sejak lama. Bahkan sejak mereka masih kecil.
"Tetap saja kau membuat adik ku menderita!" tukas Johan.
"Aku hanya ingin memastikan cintanya" lirih Yoga lemah.
Johan mengusap wajahnya kasar, Sekarang ia bingung harus melakukan apa. Adiknya tidak akan merasa marah jika dirinya membela Yoga. Bisa bisa Raisa merasa dirinya sendirian.
Emosi yang tadinya meledak ledak, kini perlahan berangsur menghilang. Johan akhirnya mengerti dan percaya dengan penjelasan Yoga.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan?" tanya Niko, ia memberikan minuman kaleng pada Johan dan Yoga.
"Aku tidak tahu, aku akan mendukung apapun yang adik ku putuskan" ucap Johan.
"Kenapa begitu?" tanya Niko.
"Meskipun aku tahu kebenaran nya, aku tidak bisa ikut membela Yoga. Jika aku melakukan nya, maka adik ku pasti merasa aku berpihak kepadamu, dan dia akan kembali kecewa!" jelas Johan.
"Kau benar, aku akan mengurusnya. Aku akan berjuang untuk kembali mendapatkan hatinya" sahut Yoga serius.
"Untuk kesekian kalinya, aku mengatakan padamu! Jangan pernah membuat adik ku menangis!!!" peringat Johan lagi.
"Aku mengerti" balas Yoga. Ia meneguk habis minuman yang Niko berikan tadi, lalu meremasnya kuat.
"Bagaimana dengan pelayan ku? " tanya Yoga tiba tiba.
"Pelayan?" gumam Niko.
"Titi?" tebak Johan.
Yoga memangangguk.
"Dia pelayan ku, tapi dia saat ini bekerja di rumah mu. Kita harus membicarakan tentang siapa yang akan memberikannya gaji" jelas Yoga.
"Huh?" kaget Niko tak percaya.
"Kau ini tuan muda kaya atau miskin sih. Perhitungan sekali" dengus Niko.
Johan menggeleng pelan,
"Aku akan membelinya pada mu" balas Johan.
Ini lebih membuat Niko kaget lagi, apa Johan tertarik pada pelayan Yoga??.
"Jangan berpikir terlalu keras, aku ingin dia menjadi pelayan adik ku" jawab Johan menoyor kening Niko. Ia tahu otak pria itu tengah berkelana Sekarang.
Yoga tertawa, ia hanya bercanda. Yoga tahu jika Johan tertarik pada pelayan nya itu.
"Kau ambil saja dia, tidak harus membeli.Dia itu wanita bukan barang" jelas Yoga.
Johan terdiam, ucapan Yoga sungguh menyinggung hatinya.
"Lalu, apa maksud mu adik ku sebuah barang?" bentak Johan marah.
Yoga tercekat, ia lupa jika Raisa pernah ia beli dari Bram.
"itu...Aku lakukan untuk menyelamatkan nya. Yah untuk mengambilnya dari Bram!" jawab Yoga.
"Awas saja kau" ancam Johan mendelik marah pada Yoga.
Fyuuu~~
Bersyukur Johan orang penyabar dan pengertian. Jika tidak, mungkin kepala Yoga sudah melayang ke dunia lain di buatnya.
"Raisa yang malang" lenguh Niko.
"Kenapa!" tukas Yoga dan Johan bersamaan.
"Mendapat kakak dan calon suami seperti kalian" lanjut Niko.
Bruk~
Brak~
Yoga dan Johan melempar Niko dengan botol bekas minum mereka dan juga beberapa benda yang ada di atas meja kerja Yoga.
__ADS_1
"Aww ... Sakit brother" erang Niko kesakitan.
...----------------...