
Raisa bangun dari tidurnya pukul 7 pagi. Ia merasa tubuh nya sangat lemas sekali. Semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, dugaan tentang perubahan dirinya benar benar mengganggu pikiran nya.
"Selamat pagi nona cantik aku" sapa Titi menyambut Raisa ketika gadis itu masuk ke dalam ruang Makan.
Raisa tersenyum tipis membalas sapaan Titi, kemudian ia duduk di salah satu kursi di meja makan.
Titi datang membawa nasi goreng dengan toping ayam bakar kesukaan Raisa.
Aroma sedap ayam bakar masuk ke dalam indera penciuman Raisa. Biasanya ia akan sangat girang dan bahagia menghirup aroma ayam bakar ini.
namun, tidak dengan kali ini. Raisa menutup hidungnya. Ia tiba-tiba merasa aroma ayam bakar ini sangat tidak enak.
"Titi, kamu masak apa sih. Kok baunya seperti ini!!" kata Raisa berusaha menjauhkan piring nasi goreng dari hadapannya.
"Lah, itukan nasi goreng dan ayam bakar kesukaan nona" balas Titi heran.
"Bawa pergi Titi, aku gak suka!!"
Upw..uwekk...
Raisa berlari menuju ke wastafel dapur, tiba-tiba ia merasa mual dan memuntahkan cairan bening.
Titi kaget melihat kondisi Raisa begini, ia berusaha membantu Raisa untuk meredakan rasa mualnya. Titi juga mengusap punggung Raisa agar mual nya hilang.
Nafas Raisa terlihat tersengal sengal, ia merasa tulang belulangnya tak sanggup lagi menahan tubuhnya. Meskipun hanya memuntahkan cairan bening, Raisa merasa tenaganya terkuras habis.
"Nona lagi sakit? Masuk angin yah?" Tanya Titi.
Raisa menggeleng, ia juga tidak tahu mengapa dirinya tiba tiba seperti ini.
"Aku tadi malam tidak bisa tidur, mungkin efek kekurangan tidur" jelas Raisa.
Titi membantu Raisa kembali ke kamarnya, ia bermaksud ingin memanggil dokter untuk memeriksa tubuh Raisa.
Namun, Raisa mencegah nya. Ia meyakinkan Titi bahwa dirinya baik baik saja.
Titi mendengus pasrah, ia menurut pada Raisa Adan membiarkan gadis itu istirahat di kamar.
Setelah melihat Raisa tidur, Titi pun beranjak keluar. Dalam hati ia bertanya tanya, apa yang telah terjadi pada nona muda? Mengapa ia terlihat sangat rapi begitu.
Setelah istirahat yang cukup, Raisa merasa tubuhnya sudah lebih baik.
Sekarang pukul 1 siang, Rais berdiri di balkon kamar. Pikiran nya melayang pada semua yang telah terjadi belakangan ini. Bagaimana sikapnya yang berubah, mood nya yang kadang baik dan buruk. Raisa benar benar pusing memikirkan apa yang sedang terjadi dalam hidup nya.
Di saat ia sedang larut dalam pikirannya, tiba-tiba Raisa teringat dengan tanggal datang bulan nya.
Ia bergegas mencari kalender di dalam ponselnya, lalu terhenyak di lantai setelah melihat sekarang sudah tanggal berapa.
"Tidak mungkin, ini pasti ada yang salah" gumam Raisa mulai panik. Bagaimana tidak. Ia sudah telat datang bulan 3 Minggu. Raisa teringat kejadian itu terjadi 2 hari setelah dirinya datang bulan. Dan bulan ini harusnya dirinya sudah datang bulan. Tapi?? Bulan ini sudah hampir berakhir, dirinya masih belum dapat.
Cepat cepat Raisa bersiap dan keluarga dari kamarnya.
Di bawah, setelah menuruni anak tangga. Raisa berpapasan dengan Titi.
__ADS_1
"Loh, nona. Mau kemana? Apa nona sudah baik baik saja?" Tanya Titi hendak memeriksa tubuh Raisa.Tapi di hindari oleh Raisa.
"Aku baik baik saja Titi, aku mau keluar dulu" kata Raisa berlalu pergi.
Raisa pergi ke sebuah apotik yang letaknya tidak jauh dari rumah nya.
"Permisi, apa saya bisa membeli testpack?" Tanya Raisa malu malu. Ia sengaja bersikap seperti orang girang.
Pegawai apotik menatap nya sedikit aneh, ia tahu bahwa Raisa masih terlalu muda untuk membeli testpack. Namun, ia tetap saja memberikannya.
"ini nona"
Raisa tersenyum senang, ia menerima benda itu dengan hati berkecamuk, bertolak belakang dengan ekspresi wajahnya saat ini.
"Ini mbak" kata Raisa memberikan uang nya.
Pegawai itu menerima uang dari Raisa, kemudian mengambil kembaliannya.
Sembari menunggu Raisa mengajak pegawai itu mengobrol.
"Testpack ini akurat gak mbak? Soalnya saya takut mengecewakan suami saya" kata Raisa beralasan.
Barulah pegawai itu menjadi santai, awalnya ia sinis pada Raisa. Mungkin ia mengira Raisa hamil di luar nikah. Yah walaupun memang kenyataannya.
"Akuratnya gak 100% mbak. Tapi jika ingin lebih yakin nya lagi. Periksa ke dokter kandungan" jelas pegawai itu sembari memberikan uang kembalian Raisa.
"Oh begitu yah mbak, makasih yah"
Cukup lama Raisa menatap benda yang mirip seperti stik es krim itu lekat. Hatinya masih ragu dan takut mengetahui kenyataan yang tidak ia inginkan.
"Apa aku harus mencoba nya?" Gumam Raisa ragu.
Setelah hatinya yakin, barulah Raisa menggunakan benda itu.
Setelah menggunakan nya, Raisa menggenggam erat benda pipih itu. Ia sangat takut melihat halinya.
"Bagaimana kalau aku hamil???, Jika aku hamil dan Yoga tidak mau menerima nya bagaimana???"
Pikiran pikiran buruk menghampiri nya.
Perlahan Raisa mulai melihat hasil yang di tunjukkan oleh testpack.
Duarrrrr.......
Seakan tersambar petir, tubuh Raisa langsung merosot di lantai setelah melihat 2 garis merah yang menunjukkan bahwa dirinya positif hamil.
"Tidak...tidak mungkin aku hamil!!!!" Raisa menggeleng kuat, air matanya segera berjatuhan dan mengalir membasahi pipi nya.
Gadis itu benar-benar merasa hidupnya sudah hancur. Ketakutan yang ia takutkan terjadi.
"Kenapa???? Kenapa????"teriak Raisa.
Tuk!! Tuk!!!
__ADS_1
"Nona, apa yang terjadi? Apa nona baik baik saja??" Teriak Titi dari luar kamar mandi.
Raisa menutup mulutnya, ia tidak mau Titi mengetahuinya. Susah payah ia menelan tangisnya dan bersikap seperti tidak terjadi apa apa.
"Aku baik baik saja!" Sahut Titi.
"Tapi, aku mendengar kamu berteriak? Apa kamu yakin baik baik saja?"
"Iya, aku baik kok" sahut Raisa lagi.
"Baiklah, aku akan menunggu nona di luar. Segeralah keluar" kata Titi, lalu kemudian Raisa mendengar suara langkah menjauh. Titi sudah pergi.
Kembali air mata Raisa mengalir deras, ia terisak menatap hasil testpack itu.
...----------------...
Yoga baru saja menyelesaikan meeting bersama client penting. Meskipun pikirannya hanya tertuju pada Raisa, tetap saja pria itu berusaha untuk profesional.
"Halo kak Yoga" sapa Gladies. Ia sudah berada di dalam ruangan kerja Yoga.
Mimik wajah Yoga langsung berubah, ia sangat tidak suka pada Gladies, tapi gadis itu terus saja mengganggunya.
"Aduh kak, kenapa jelek gitu sih wajah nya? aku jadi sedih nih!" ujar Gladies berakting.
Yoga berusaha mengacuhkan gadis itu, ia duduk di kursi kebesaran nya, berusaha untuk tetap terlihat sibuk.
"cih cih cih, kakak ini kenapa sih. Aku kesini itu untuk menghibur kakak, aku pikir kakak lagi sedih dan galau"
Yoga menggeram marah, apalagi yang mau gadis ini lakukan.
"Dari pada membuat aku emosi, lebih baik kamu pergi!" usir Yoga.
Gladies tertawa garing, lalu tersenyum miring pada Yoga.
"Kakak terlalu badmood yah? apa karena kekasihnya selingkuh? UPS" pancing Gladies.
"Maksud kamu apa!" bentak Yoga. "kamu jangan bicara sembarangan yah!"
Gladies berjalan semakin mendekat pada Yoga, kemudian memperlihatkan sebuah foto dari ponselnya.
"kakak kenal dong, sama wanita itu"
Deg.
Tubuh Yoga tiba tiba membeku, rahangnya mengeras menahan emosi yang akan segera meledak.
Brak~
Ponsel Gladies seketika melayang dan jatuh di lantai. Bukan nya marah Gladies malah tersenyum menyeringai. Jika Yoga marah, itu artinya pria ini termakan hasutannya.
"Seperti nya aku harus pergi" gumam Gladies memunguti ponselnya. Kemudian berlalu pergi.
"Sial!" umpat Yoga.
__ADS_1