Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Raisa Meninggal??


__ADS_3

Satu Minggu berlalu sangat cepat, keberadaan Raisa masih belum di ketahui. Johan merasa telah gagal menjadi seorang kakak. Belum lama rasa nya ia bersama dengan adik nya yang sudah bertahun tahun hilang, kini malah kembali hilang.


"Aku tidak berguna, masalah sebesar ini malah aku tidak tahu" kata Johan menyalahkan dirinya.


Titi yang setia menemani kekasih nya hanya bisa mengusap bahu Johan lembut. Ia berusaha untuk tetap menguatkan Johan agar tabah dan tetap mencari Raisa.


Bukan hanya Johan dan Yoga yang merasa kehilangan, namun Titi juga merasakannya. Semenjak kehadiran Raisa ke dalam kehidupan nya, ia merasakan arti hidup yang sesungguhnya. Kehidupan yang membosankan, berubah menjadi kehidupan yang di dambakan.


"Aku gagal Titi, aku gagal melindungi"


"Tidak tuan, anda adalah kakak terbaik yang pernah ada. Hanya saja, takdir mencoba untuk menguji kalian lagi"


Johan menarik nafas, ia berbalik dan memeluk Titi.


"Terimakasih sudah mau berada di samping ku. Aku harap kamu tidak pernah meninggalkan aku" ucap Johan. Ia merasakan kepala Titi bergerak mengangguk, dan hal itu membuat setengah hatinya menghangat. Karena setengah nya lagi khawatir akan keselamatan adik nya.


Tak jauh berbeda dengan Johan, Yoga jauh lebih kacau lagi. Ia sudah seperti orang tidak waras Sekarang. Penampilan nya sangat tidak terurus, padahal baru 1 Minggu kepergian Raisa.


Brak~


Pintu ruangan kerja Yoga terhempas sangat keras. Membuat pemiliknya terpaksa menoleh.


"Gawat Yoga!" seru Niko dengan nafas terengah, ia berjalan cepat kearah Yoga dan memberikan ponselnya.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi!" gumam Yoga menggeleng pelan, matanya mulai berkaca kaca.


"Aku harus memastikan nya!" ujar Yoga bergegas pergi dari sana. Niko ikut bersama Yoga.


Sebuah berita tersebar, ada sebuah kecelakaan mobil yang menghadang kereta api yang sedang melaju. Sesuai dugaan sementara, mobil itu sengaja menghadang kereta api yang melaju tanpa henti. Terduga penumpang di dalam nya terdapat seorang wanita muda yang sedang hamil muda. Korban di larikan ke rumah sakit, namun tidak terselamatkan.


Mobil itu terpental ketika di terjang sang naga tanpa rasa iba, lalu mobil itu terbakar dan mengakibatkan tubuh korban terbakar setengah. Wajahnya tidak bisa di kenali. Ada luka bakar yang memenuhi wajah korban.


Yoga tiba di rumah sakit, di temani Niko yang setia berjalan di belakang nya.


"Dok, di mana korban kecelakaan yang baru saja di bawa ke rumah sakit ini dok?" tanya Yoga tak sabaran.


"Wanita hamil itu yah? korban ada di ruang mayat"


Deg!


Seakan dunia Yoga hancur, ketika dokter mengatakan korban berada di ruang mayat.

__ADS_1


"Sabar, belum tentu wanita itu adalah Raisa" ucap Niko mencoba menguatkan Yoga.


"Yoga!"


Johan dan Titi berlari menghampiri Yoga dan Niko.


"Di mana Raisa?" tanya Titi setengah menangis.


"Kita belum pasti itu Raisa atau bukan" jawab Niko. Sedangkan Yoga sudah berjalan lebih dulu menuju ke ruang mayat.


"Loh, kenapa kita kesini?" tanya Johan .


"Tidak! tidak mungkin Raisa???" Titi menggeleng kuat, ia tidak bisa menerima kenyataan ini.


"Tenang dulu yah, kita pastikan dulu. Belum tentu juga itu adik ku atau bukan" ucap Johan menenangkan Titi.


Seorang suster menuntun mereka ke sebuah brankar yang di atasnya terbaring seorang wanita dengan tubuh tertutupi oleh kain berwarna putih.


Dengan tangan bergetar, Yoga mulai menarik kain putih dari kepala mayat itu.


Brak~


Tubuh Yoga ambruk di lantai, tangan nya bergetar setelah melihat tubuh yang sama persis seperti milik Raisa.


"Ini barang barang yang di temukan, pihak polisi mengatakan jika barang barang ini milik wanita ini" kata suster memberikan barang milik Raisa.


Niko menerima barang itu, berupa tas dan jam tangan. Ia memeriksa tas yang hampir seluruh permukaan lecet dan terdapat bekas terbakar.


"Ini milik Raisa" gumam Niko tidak percaya. Ia menemukan KTP dan ponsel milik Raisa.


"Nona!!!!! hiks....Kenapa secepat ini Nona??? ke apa kamu mengakhiri hidup mu dengan cara begini!!!"


Titi memeluk mayat Raisa dengan air mata terus mengalir deras.


"Raisa..."lirih Johan, air mata nya mulai mengalir perlahan, membuat jalur nya sendiri.


Sedangkan Yoga, ia masih terdiam. Sulit untuk dirinya terima kenyataan bahwa Raisa mengakhiri hidupnya karena dirinya.


"Ini semua salah ku, aku yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada Raisa" lirih Yoga.


Titi berbalik, ia mendekati Yoga dengan tatapan benci.

__ADS_1


"Ini semua memang salah anda tuan!!! Nona tidak akan memilih untuk mati jika kau tidak bertindak bodoh!


Pertama kau menyakiti hatinya dengan membiarkan wanita busuk itu mendekati mu. Kedua! kau malah bersama wanita itu di depan nona, bahkan kau tidak peduli saat dia datang kepada mu!!!


Nona mengalami banyak hal buruk karet anda!!!" Titi memukul mukul Yoga, ia menyalahkan Yoga sebagai penyebab kematian Raisa.


Johan masih berdiam diri, membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Bibirnya bergetar, ia tidak tahu harus berkata apa. Semuanya terlalu tiba tiba.


"Aku belum sempat membuatnya bahagia, bahkan kami baru saja satu rumah. Tapi, dia sudah pergi meninggalkan ku menemui mama dan papa"


Bruk~


Johan ambruk di lantai, lututnya terasa lemas dan hilang. Johan mendadak pingsan.


"Tuan!! Tuan Johan!!", teriak Titi mendekati kekasih nya. Ia menggoyang goyangkan tubuh Johan agar segera sadar.


"Hiks....Hikss....Tuan....." Titi menangis sembari memeluk Johan, ia merasa hidupnya sudah mulai hancur dengan semua fakta ini. Bahkan hatinya semakin remuk melihat kesedihan Johan.


Niko terpaku, ia tidak habis pikir semuanya akan berakhir seperti ini. Bahkan ia masih belum percaya bahwa yang terbaring di atas brankar itu adalah Raisa.


...----------------...


"Apa kau baik baik saja adik sepupu?", tanya Dave, tangannya mengusap bahu Raisa yang mulai bergetar.


Di sudut kaca jendela ruangan mayat, Raisa melihat betapa hancurnya hati Johan dan Titi. Ia tidak tahan melihat nya, ingin rasanya Raisa memeluk mereka dan berkata bahwa ia masih hidup.


Namun, semua itu tidak bisa Raisa lakukan. Demi kehidupan nya yang tenang bersama calon bayinya nanti. Raisa tidak melihat keberadaan Yoga, sejak ia tiba di rumah sakit itu, ia sudah melihat Titi dan Johan berdiri di dalam sana. Mereka terlihat sangat terpuruk.


"Ayo kita pergi" ucap Raisa menghapus air matanya kasar, kemudian berlalu pergi.


Bertepatan saat itu, Niko menoleh kearah sudut ruangan mayat yang terdapat jendela di sana. Ia melihat bayangan orang berdiri di sana. Namun, ketika ia menoleh, bayangan itu sudah tidak ada.


"Mereka hanya akan sedih beberapa waktu saja" gumam Raisa meyakinkan dirinya dan berusaha untuk tidak bersedih.


Saat ini mereka sudah masuk ke dalam mobil, dan mobil langsung melesat pergi meninggalkan area rumah sakit sebelum ada yang melihat mereka.


Dave menoleh pada Raisa, ia melihat adik sepupunya itu masih menangis dalam diam. Bahunya terlihat bergetar


"Jika kau bersedih terus, nanti bayi mu akan menjadi cengeng" ujar Dave membuat Raisa melayangkan pukulan nya.


"Apa kau mulai menyumpahi keponakan mu?" ketus Raisa di sela ia menghapus air matanya.

__ADS_1


"Bukan menyumpahi, tapi lihat lah dirimu. Menangis dan menangis!"


Raisa memalingkan wajah nya, Dave memang benar. Ia terlalu sering menangis.


__ADS_2