
"Aiss..." Mawar meringis, luka di tubuh nya terasa sangat perih ketika terkena air.
"Apa perih?" ucap Johan sinis.
Mawar mendongak, melihat suara siapa itu. Mata nya menyipit, melihat seorang pria bersama Mr Bein.
"Siapa kau?" tanya Mawar dengan suara lemah, tapi masih terdengar oleh Johan.
"Aku adalah malaikat pencabut nyawa mu!" jawab Johan dengan nada mengerikan. Para tahanan lain nya menoleh kearah mereka.
Dengan takut takut mereka melihat Johan.
"Jangan sakiti putri ku!!!!" teriak Melinda marah, ia berusaha mendobrak sel tahanan, tangannya menggapai gapai di sela jeruji besi itu.
"Cih, buang buang tenaga" cibir Bram. Ia terlihat tidak peduli dengan keadaan putrinya.
Melihat Melinda begitu menyayangi putrinya, membuat Johan menyeringai.
"Apa yang ingin kau lakukan terserah son. Paman akan menunggu mu di luar" ujar Mr Bein sembari melangkah pergi meninggalkan sel tahan.
Johan melirik sebentar, lalu kembali menoleh pada mawar yang menahan perih di kulit nya.
Tampak nya luka itu masih baru, Johan juga bisa melihat ada beberapa luka yang kembali berdarah ketika Mawar bergerak dan membuat kulit nya bergesekan dengan lantai.
"Tolong siksa aku saja, jangan putri ku. Dia tidak bersalah"
Melinda berlutut di sudut penjara, menunduk memohon pada Johan agar tidak menyiksa putrinya.
"Mama ..." lirih Mawar lemah, air mata mengalir perlahan dari sudut matanya.
"Hahaha.... Apa kalian merasa sebahagia ini ketika menyiksa adik dan mama ku???" ucap Johan tertawa puas.
"Berikan aku jeruk nipis dan air" kata Johan pada penjaga.
"Baik tuan" tanpa bertanya salah satu penjaga langsung bergerak keluar mengambil apa yang Johan minta.
Johan duduk di salah satu kursi, ia menatap senang pada keluarga Bram yang sangat menderita.
"Kalian tahu karma? itu lah yang menghampiri kalian saat ini" ujar Johan.
"Keparat, Biadap!!!, kau memang bukan manusia!!" maki Melinda.
"Cih, apa menurut mu membunuh seseorang itu adalah manusia? apa aku harus membunuh putri mu baru aku di katakan manusia?"
Johan tersenyum menyeringai, ia berdiri ketika anak buah paman nya masuk dan memberikan apa yang ia minta.
"Ini tuan"
"Terimakasih" balas Johan tersenyum ramah. Namun tampak mengerikan bagi mereka.
Johan mencampurkan air jeruk nipis dengan air puti biasa. Lalu kembali mendekati sel penjara Mawar.
Gadis itu tampak berikut menjauh darinya. Ia tidak mau air jeruk nipis itu mengenai tubuhnya. Pasti akan terasa sangat perih jika itu sampai terjadi.
"Kenapa? apa kau takut?"
Brak!!! Brak!!
"Brengsek?!!! jangan siksa putri ku!!!!"
Brak!!!!
__ADS_1
Brak!!!
Melinda terus berusaha untuk mendobrak sel tahanan yang terbuat dari besi. Ia tidak mau melihat putrinya tersiksa.
"Haha..Semakin kau berteriak, semakin bahagia aku" ungkap Johan tertawa semakin keras.
"Nona manis?? apa kau tahu betapa nikmat nya mandi air jeruk nipis??" tanya Johan memainkan air itu di depan Mawar.
Gadis itu menggeleng lemah, ia sangat ketakutan. Mental Mawar sudah terganggu, desakan dan siksaan yang Bein berikan membuat nya kehilangan akal sehatnya.
"Jangan....." rintih Mawar.
Namun, Johan sudah kehilangan rasa kasihan. Ia sudah tidak memiliki hati nurani lagi. Ketika melihat Mawar dan keluarga nya. Membuat Johan seakan merasakan betapa menderitanya Raisa selama ini.
Byurrrr.......
"Akkkk.....Perihh!!!! Perihhh mama tolong!!"
"Ahhkkkk"
Mawar terus bergerak tidak karuan, kulit nya terasa sangat perih ketika air jeruk nipis itu mengenai luka nya yang masih terbuka.
"Bagaimana? enak??"
Byurr!!!!!!
Johan kembali menyiramnya dengan air itu, ia semakin merasa senang melihat ketidak berdayaan musuh nya.
"Mawar, sayang!!"
"Hentikan!!! jangan siksa dia lagi!!!!!" teriak Melinda histeris. Ia meraung melihat putrinya merasakan sakit di tubuhnya.
"Aku rasa hari ini cukup sampai disini, kita lihat penyiksaan apa yang bagus untuk kau terima besok"
"Bye bye"
...----------------...
Di perjalanan pulang dari kerja, Yoga mampir ke tokoh bunga. Ia ingin memberikan surprise untuk Raisa. Ia akan membuat hidup Raisa penuh dengan kebahagiaan.
"Selamat datang tuan tampan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko menyambut kedatangan Yoga.
"Saya mau bunga mawar itu dengan 3 warna" tunjuk Yoga pada bunga mawar yang berwarna merah pink dan kuning.
"Baiklah tuan, akan saya ambilkan"
Tidak membutuhkan waktu lama, penjual bunga itu membuat buket bunga yang Yoga inginkan. Lalu memberikan nya pada Yoga.
"Berapa?" tanya Yoga.
"Hanya 150k saja tuan"
"Murah sekali" kaget Yoga.
"Tentu saja tuan, kami tidak suka menjual terlalu mahal" jawab penjual dengan senyum manis.
Yoga memberikan uang tukaran 100.000 2 lembar, lalu memberikan pada penjualnya.
Penjual itu bergerak untuk mengambil kembalian uang Yoga ke meja kasir. Namun Yoga menahan nya.
"Tidak papa, kembalian nya ambil aja"
__ADS_1
"Tidak papa tuan, kami ada kembalian nya kok" tolak penjual itu, ia bergerak cepat ke meja kasir.
Setelah kembali lagi, ternyata yoga sudah pergi.
"Aduhh udah tampan, baik lagi. Benar benar paket complete", gumam penjual itu. Ia terpesona dengan ketampanan sikap baik Yoga.
Yoga mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sesekali ia menoleh, menatap buket bunga yang ia letakkan di jok samping nya.
"Raisa pasti sangat suka" Yoga mengulum senyum, ia sudah tidak sabar bertemu dengan Raisa.
...----------------...
Sesampainya di rumah, Yoga berjalan cepat memasuki rumah.
"Sayang!!! aku pulang!!!" teriak Yoga memanggil Raisa.
Pria itu menaiki anak tangga, ia pikir Raisa sudah ada di dalam kamar.
"Sayang...", panggil Yoga lagi. Ia membuka pintu kamar dan mencari keberadaan Raisa.
"Aku di sini Sayang!!!" sahut Raisa dari arah balkon.
Yoga tersenyum, ia menyembunyikan buket bunga di belakang tubuhnya.
"Selamat malam honey" ucap Yoga.
Raisa berbalik, ia menatap Yoga dengan senyum manis pula.
"Baru pulang kerja?" tanya Raisa.
Yoga mengangguk,
"Taraaaaa......" Yoga mengeluarkan buket bunga dari balik tubuhnya.
"Wahhhh bagus banget!!!"
"Ini buat aku?" tanya Raisa menerima buket bunga mawar dari Yoga.
Ia menghirup aroma yang sangat sangat segar dari bunga itu.
"Seger banget" ungkap Raisa.
"Aku membelinya khusus untuk kekasih cantik ku" ungkap Yoga membuat kedua pipi Raisa merona.
"Kamu suka?"
"Tentu saja, aku selalu suka dengan apa yang kamu beri" jawab Raisa senang.
Mereka saling berpelukan, tiba tiba dahi Raisa mengerut. Ia mencium aroma lain dari baju Yoga.
"Bau parfum siapa ini?"pikir Raisa.
"Sayang, aku mau mandi dulu yah. Setelah itu kita makan bareng" ujar Yoga melepas pelukannya.
Raisa mengangguk, ia tersenyum manis menutupi kebingungan nya.
"Banyak pemikiran yang menghampiri pikiran nya saat ini"
"Tidak mungkin!" Raisa menggeleng kuat, menghalau beberapa kemungkinan yang ada.
__ADS_1
...----------------...