
"Gak punya mata ya!" bentak seorang gadis menatap Raisa marah. Padahal dirinya yang menabrak Raisa, tapi malah dia yang meraung marah.
Raisa menepuk kedua tangannya kotor menyentuh lantai, kemudian bangun dari sana. Terlihat celana panjang berwarna hitam yang ia pakai kotor terkena debu.
Pruk~ Pruk~
Bunyi tangan Raisa menepuk nepuk celana nya agar debu yang menempel hilang.
Melihat Raisa yang begitu santai, gadis itu malah semakin marah. Ia mendorong bahu Raisa dan menyuruhnya untuk meminta maaf.
"Udah salah! gak minta maaf lagi"
Semua orang yang ada di sana berhenti, mereka menonton pertengkaran Raisa dan gadis itu.
Raisa mengangkat pandangan nya, ia tersenyum miring melihat siapa orang yang sejak tadi sengaja ingin mempermalukan nya.
"Cih, sengaja menabrak, sengaja membuat aku malu di depan umum" ucap Raisa seperti membaca niat Gladies.
Yah, gadis itu adalah Gladies. Keponakan Yaisya.
"Jaga ya mulut kamu, jelas jelas kamu yang menabrak aku. Kamu yang buta!" bantah Gladies marah.
Raisa tetap tenang, ia melangkah maju lebih dekat dengan Gladies. Tatapan matanya terlihat tajam, seakan ingin menusuk ke ulu hati Gladies.
"Apa?" tantang Gladies.
Orang orang mulai bergumam, membicarakan pertengkaran dua gadis yang tidak tahu malu. Bisa bisanya bertengkar di depan umum seperti ini.
Ada yang memuji Raisa, ada yang memuji Gladies, ada juga yang menyalahkan mereka berdua dan mengatai tidak tahu malu.
Di antara banyak nya orang, ada satu pria yang tersenyum dan penasaran dengan apa yang akan Raisa lakukan selanjutnya. Ia berdiri tidak jauh dari tempat Raisa dan Gladies berdebat.
"Seru juga" gumamnya sembari menonton dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Kau mau lihat, bagaimana yang di sengaja itu?" kata Raisa sinis.
Gladies hanya menatapnya, seakan menunjukkan bahwa dirinya tidak takut pada Raisa.
Bruk~
"Aww...." ringis Gladies merasakan sakit di bagian bokong nya.
"Kau gila yah!" teriak Gladies marah, ia berusaha bangun. Tapi, Raisa malah menahan bahu nya kuat dengan kaki sebelah kanannya.
"Wahhh.... berani sekali dia"
"Astaga, anak zaman sekarang"
"Gadis itu benar-benar hebat"
Begitulah ungkapan kaget orang orang yang menyaksikan aksi Raisa pada Gladies
"Kau, pikir! aku gadis lemah yang selama ini diam saat kau tindas?"
"Lepas bodoh!!! kau menyakiti aku!!", teriak Gladies berusaha untuk menyingkirkan kaki Raisa dari bahunya. Namun, kaki itu terlalu kuat dan tidak bisa ia singkirkan. Bahkan Gladies saat ini merasa bahunya akan patah.
"Begitulah rasanya jika di sengaja, dan tadi aku juga merasakan sakit di bokong ku. Karena aku tahu kau juga sengaja"
Raisa menekan sedikit kuat bahu Gladies, kemudian mendorongnya hingga gadis itu terbaring di lantai.
"Perhatikan lawan mu!" lirih Raisa memperingatkan Gladies, kemudian berlaku begitu saja meninggalkan Gladies yang merasa sangat malu dan sakit di bahunya.
Cepat cepat Gladies bangun dan pergi dari sana.
"Awas saja kau!" kecam Gladies berdendang.
Raisa berjalan keluar dari mall, ia berjalan santai menuju ke mobilnya. Tiba-tiba seseorang datang dan membuat nya semakin kesal.
"Ternyata kamu kuat juga yah" ujar orang itu berdiri di hadapan Raisa yang hampir sampai di dekat mobil nya.
"Huh?" dengus Raisa kesal. Apalagi ini, pria ini sudah gila kah? bisa bisanya mencoba mencari masalah dengan nya.
"Kau mau mati? minggir!" usir Raisa mendorong tubuh pria itu.
__ADS_1
"Kita bertemu lagi, aku rasa kita jodoh" ungkap pria itu asal.
"Kamu gila? aku tidak pernah bertemu dengan pria aneh seperti mu! ayo minggir!"
Pria itu tersenyum semakin lebar, ia tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. Usaha Raisa menyingkirkan pria itu dari hadapan nya sia sia. Karena pria itu sama sekali tidak bergerak.
"Oh ayolah, aku ingin pergi. Tolong menyingkir lah" erang Raisa frustasi, karena pria itu tidak mau pergi.
"Aku akan membiarkan mu pergi, asal ada satu syarat" ucap pria itu mengajukan syarat. Raisa menatap nya tidak percaya, bagaimana bisa ada orang seperti pria ini. Tidak kenal tapi malah bersikap seenaknya seperti ini.
" kamu gila yah? udah lah, aku mau pergi minggir!" Raisa berjalan kesamping, namun pria itu malah ikut berjalan ke samping.
Raisa berjalan kesamping kiri, dia juga mengikutinya. Lama lama Raisa menjadi semakin kesal dan emosi.
"Ok fine, apa syaratnya!" geram Raisa kesal.
Pria itu sumringah, menarik tangan Raisa kembali ke dalam mall. Pria itu membawa Raisa ke cafe terdekat.
"Duduk di sini" ucap Pria itu setelah menarik satu kursi untuk Raisa.
"Oh ayolah, aku itu ingin segera pergi, kenapa kau malah membawa ku kembali masuk huh? pria aneh!" dengus Raisa kesal!.
"Sebentar saja" kata Pria itu tersenyum lagi.
Raisa terpaksa duduk di kursi itu, agar segera terbebas dari pria aneh ini. Ia harus menuruti apa yang ia mau.
"Ok, Sekarang apa?" tanya Raisa datar.
"Haha, santai manis, jangan terburu-buru" balas Pria itu santai.
Raisa menggaruk keningnya yang tiba-tiba terasa gatal. Pria ini benar-benar menyebalkan dan seenaknya.
Raisa kembali bangkit dan hendak pergi, namun pria itu menahan lengan nya.
"Lepaskan aku pria aneh! aku ingin pergi!" kata Raisa tegas. Matanya menatap tajam kearah pria itu. Namun yang ditatap malah tersenyum.
"Jika kamu gak mau melepaskan aku, maka jangan salahkan aku ,kalau aku berteriak dan meminta tolong!" ancam Raisa.
Raisa memejamkan matanya sembari menggigit bibir bawahnya. Ia berusaha berpikir bagaimana cara terlepas dari pria ini. Kenapa hidupnya terlalu sial hari ini.
Selepas dari Gladies, pria ini malah datang membawa masalah untuk nya.
"Kenapa diam? ayo teriak" ujar pria itu menantang Raisa.
Bagaimana Raisa mau teriak coba? pria itu sudah memasukkan ponselnya ke dalam saku Raisa. Jika Raisa teriak maka sama saja ia berteriak untuk mempermalukan dirinya sendiri. Pria itu memang terlalu pintar, pikir Raisa.
"Oke fine, kamu memang! sekarang katakan apa mu kamu!"
Raisa pasrah, ia kembali duduk di kursi itu, lalu menatap pria itu dengan tatapan malas .
"Good"
Pria itu tersenyum, ia ikut duduk di depan Raisa.
"Gini kan enak, gak ada ancaman dan paksaan " ujar pria itu senang.
"Terserah!" balas Raisa kesal. Melawan juga tidak ada gunanya.
Pria itu menatap lekat wajah Raisa, ia sangat terpesona dengan daya tarik wajah dan sikap Raisa.
"Kau memang mempesona" ungkap Pria itu jujur.
Raisa tidak menjawab, ia hanya diam dan menatap malas pada pria itu. Terserah dia mau bilang apa, yang penting bagi Raisa ia terbebas dari nya.
"Jangan cemberut, nanti cepat tua" kekeh nya lagi.
"Sebentar lagi aku akan mati jika berlama lama dekat dengan mu!", balas Raisa datar.
"Haha...Baiklah baiklah, untuk mempersingkat waktu. Aku akan mengatakan apa yang aku inginkan"
"Seharusnya dari tadi" Sahut Raisa.
"Karena kita sudah bertemu dua kali, aku ingin berkenalan denganmu"
__ADS_1
"Tapi aku tidak mau" tolak Raisa.
Wajah pria itu langsung berubah muram, Raisa sedikit kaget melihat nya. Sejak tadi wajah yang ia lihat tersenyum dan tersenyum, tapi kali ini berubah.
"Kenapa kau menolak nya? kata orang yah. Jika kita sudah bertemu dua kali atau lebih, maka kita jodoh!" jelas Pria itu dengan ekspresi kecewa.
"Itu kata orang, bukan kata ku!" jawab Raisa ketus. Ia segera bangkit dari kursi kemudian pergi meninggalkan pria itu.
"Hei nona!!!" teriak nya lagi.
"Apa lagi?" dengus Raisa berbalik.
"Ponsel ku!!!" katanya.
Raisa memutar bola matanya malas, dia yang memasukkan ke dalam saku nya. Malah dia yang meminta. Pikir Raisa semakin kesal. Ingin rasanya ia menggulat pria ini, laku membuangnya ke laut.
"Ini!" kata Raisa memberikan ponsel pria itu di atas meja. Kemudian berbalik pergi.
"Jika kita bertemu lagi, maka akan aku pastikan kau menyebut nama ku!" Teriak pria itu.
"Alex!!!" sambungnya meneriaki namanya sendiri. Suara nya terlalu kuat, hingga orang di sekitarnya menoleh kearahnya.
"Aku tidak peduli!" balas Raisa, kemudian keluar dari mall menuju ke parkiran. Raisa melangkah cepat, ia takut pria itu kembali mencegatnya dan kembali membuat nya susah.
...----------------...
Di rumah, Johan dan Titi sedang duduk di ruang tengah rumah. Mereka terlihat bermesraan di atas Sofa. Selagi Raisa tidak di rumah, maka mereka memanfaatkan waktu untuk berdua.
"Tuan, kenapa tuan mau dengan saya?" tanya Titi iseng, ia masih ragu dengan sikap Johan yang mungkin hanya penasaran atau hanya sesat. Titi juga merasa takut semua yang indah ini bisa hilang seketika.
"Kenapa? apa kau takut aku akan meninggalkan mu?" tanya Johan dan menebak pemikiran Titi yang merasa takut akan semua rasa yang ia punya.
Titi mengangguk pelan, sejujurnya ia memang sangat takut.
"Kamu tenang aja Titi sayang, aku selama ini memang sudah mengincar kamu. Datang kerumah Yoga hanya ingin melihat mu" kata Johan berkata jujur.
Sering kali Johan datang ke rumah Yoga, ia selalu mengganggu Titi. Meminta gadis itu memasak ini dan itu, bahkan Johan sengaja mengomentari apapun yang Titi masak untuk mereka agar pelayan cantik itu terus bolak balik di sekitar nya.
"Benarkah? tapi kenapa aku tidak tahu?"
"Bagaimana kau bisa tahu sayang, kau selalu menunduk dan berbicara ketus kepada ku!" sungut Johan merajuk. Ia sangat ingat betapa ketusnya Titi kepada dirinya.
Gadis itu adalah pelayan, kepada Yoga dan Niko dia sangat lembut. Tapi, ketika kepada diri nya Titi malah jutek dan menunduk ketika Johan menatapnya. Dari situlah Johan mulai tertarik dan sengaja mencari masalah sama Titi.
"Maafkan aku tuan, aku-" ucapan Titi terhenti oleh hari Johan yang tiba-tiba menempel di bibirnya.
"Ssttttt.... jangan panggil aku Tuan. Aku tidak suka mendengar nya" protes Johan. Mereka duduk semakin Dekat, sebelah tangan Johan berada di belakang punggung Titi, ia seperti merangkul tapi seperti memeluk. Alih alih jika Raisa pulang nanti jadi mudah untuk berakting.
"Jadi aku harus manggil apa?" goda Titi mulai berani.
Raisa masuk ke dalam rumah, ia mendengar ucapan manja Titi dan juga kakaknya dari ruang tengah.
"Panggil dia om Johan aja!" sahut Raisa membuat kedua insan itu kaget dan saling membuat jarak.
"Cih, kaya kepergok mesum aja" dengus Raisa melihat tingkah keduanya yang seperti kepergok mesum oleh warga.
"Kamu kok udah pulang sih" tanya Johan kesal.
"Dih, kenapa kalau aku pulang cepat? gak boleh emang?"
"Bukan gak boleh...." balas Johan kebingungan, ia takut salah jawab dan adiknya merajuk lagi. Bisa ribet masalah jika Raisa merajuk lagi padanya. Bisa bisa ia semakin sulit Deket sama Titi.
"Yaudah deh serah, aku mau mandi dulu" kata Raisa berlalu begitu saja.
Johan tercengang, kenapa Raisa tidak marah dan membiarkan dirinya dan Titi berdua. Biasanya Raisa akan membawa Titi pergi.
"Dia kesambet apa?" gumam Johan heran. Titi menjawab dengan gelengan.
"Mungkin karena ia sudah baikan sama tuan muda"
"Mungkin juga" balas Johan. Kemudian keduanya kembali memadu kasih dengan Johan mencium bibir Titi tiba-tiba.
Untuk selanjutnya, biar mereka sajalah yang tahu😅
__ADS_1