
Raisa dan Yoga tiba di sebuah restauran yang sangat bagus. Suasana nya seakan di setting romantis, agar setiap pasangan yang makan di sana merasakan kenyamanan dan merasa dunia milik berdua.
Tata letak meja juga bagus, sangat privasi untuk kencan. Karena tiap tiap meja nya di beri jarak yang cukup jauh.
"Wahhh....Cantik banget" decak Raisa terkagum melihat pemandangan yang sangat unik dan romantis.
"Tentu dong, sama kaya kamu, cantik banget malam ini" balas Yoga memeluk Raisa dari belakang.
Yoga menuntun Raisa menuju ke meja yang sudah ia booking sebelum menjemput Raisa tadi.
"Silahkan duduk my princess" ucap Yoga sembari menarik kursi untuk Raisa. Kemudian ia berjalan mengitari meja dan duduk di depan Raisa.
Senyum kagum masih bertahan di wajah Raisa, ia benar-benar bahagia dan senang banget Yoga mengajaknya ke tempat ini.
Tak lama kemudian, datang lah seorang pelayan laki laki dan perempuan.
"Wah, boros banget yah. Sekali datang langsung dua" ujar Raisa.
"Ini adalah kebijakan dari restauran kami nona. Terkadang banyak kasus yang membuat makan malam sepasang kekasih hanya karena mood cewe atau cowo nya berubah, karena rasa cemburu" jelas pelayan wanita pada Raisa.
"Cemburu? kok bisa?" tanya Raisa heran. Kenapa bisa cemburu pada pelayan?
"Iya nona, sifat manusia itu beda beda. Ada yang cemburuan, ada yang genit, ada yang lupa bagaimana cara menghargai pasangan nya. Lantas, restauran kami membuat kebijakan untuk memberikan pelayanan double. Pelayan pria akan melayani tamu pria, sedangkan wanita akan melayani tamu wanita. Sehingga mood mereka akan terjaga dan makan malam atau siang mereka berjalan lancar" sambung pelayan pria menjelaskan secara detail.
"Karena itu, aku memilih tempat ini untuk kita berdua" sahut Yoga.
Raisa manyun, tapi ia tetap merasa kagum dengan pemikiran pemilik restauran.
"Boss kalian sangat bijaksana yah. Apa dia sudah tua? atau masih muda? cewe apa cowo?"
Kedua pelayan itu melongo, Raisa bertanya terlalu banyak dan cepat. Seperti kereta api berjalan tanpa henti.
"Kenapa bertanya begitu?" kata Yoga menatap wanita nya.
Raisa bergidik acuh, ia tidak tahu mengapa ia malah penasaran dengan hal hak yang ia tanyakan tadi.
"Boleh langsung ke pesanan nya nona?" alih pelayan wanita itu. Begitu juga dengan pelayan pria yang ikut menyodorkan buku menu pada Yoga.
"Silahkan tuan"
Yoga mengambil buku menu dan mulai melihat lihat makanan apa yang enak dan menggiurkan malam ini.
Berbeda dengan Raisa, bukan nya mengambil dan melihat buku menu. Gadis itu malah menatap kesal pada pelayan wanita itu.
Merasa bersalah dan aneh dengan tatapan Raisa, pelayan wanita menunduk dan berusaha untuk menanyakan apa kesalahan nya. Ia tidak mau mendapat masalah hanya karena sebuah kecerobohan nya.
"Maaf nona, apa saya melakukan kesalahan?" tanya pelayan wanita. Mendengar itu Yoga dan pelayan pria tertarik melirik kearah mereka.
__ADS_1
" Sayang...." panggil Yoga.
Raisa tetap menatap wanita itu intens, seperti menunggu sesuatu. Membuat pelayan wanita itu salah tingkah dan bergerak gelisah.
"Apa teman saya berbuat salah nona?" tanya Pelayan pria angkat bicara, ia juga tidak mau teman nya mendapat masalah.
"Cih, gak peka sekali!" dengus Raisa mengalihkan pandangannya ke buku menu.
"Aku sejak tadi menunggu jawaban mu tentang pertanyaan ku tadi! " kata Raisa.
"Sampai pertanyaan ku terjawab, baru aku akan memilih menu" tambah nya memaksa.
Pelayan wanita itu kebingungan, ia tadi tidak terlalu mendengar pertanyaan dari Raisa karena terlalu cepat berbicara, dan pertanyaan pun bertubi tubi.
Huhhhhfff Haaaa....
Yoga menarik nafas dalam, kemudian menghembuskan nya dalam. Kemudian Yoga menoleh pada pelayan wanita yang terlihat kebingungan frustasi melihat tingkah Raisa.
"Boss kalian cowo apa cewe?" tanya Yoga mengulang pertanyaan Raisa.
"Cowo Tuan" jawab pelayan wanita cepat, ia terlihat gugup dan ketakutan.
Pelayan pria mengulurkan tangannya dari belakang,lalu mengusap punggung pelayan wanita pelan, seakan memberi semangat dan kekuatan.
"Berapa usianya?" lanjut Yoga dengan pertanyaan selanjutnya.
"Boss masih sangat muda, untuk umur saya kurang jelas karena kami hanya pelayan biasa jadi tidak terlalu tahu tentang profil boss kami"
"Ada pertanyaan lagi?" ujar Yoga.
"Gak penting" sahut Raisa mulai memilih menu.
Pelayan wanita melotot tak percaya, Raisa pelanggan aneh yang pernah ia temui. Setelah ia memaksa seakan tak ada hari untuk mencari tahu tentang boss mereka. dan sekarang, setelah mengetahuinya ia malah dengan santai berkata tidak penting.
"Saya mau......."Raisa terlihat bingung, ia mencari cari menu yang ia inginkan saat ini. Tapi tidak ada di dalam buku menu itu.
"Kok gak lengkap" gumam Raisa dengan nada kecewa.
Lagi lagi Yoga menoleh kearahnya, lama lama sikap Raisa membuatnya geram dan gemas juga.
"Apa yang kau inginkan honey??" tanya Yoga terdengar pasrah. Pelayan wanita dan pria hanya bisa tersenyum geli melihat kepasrahan Yoga pada kekasihnya yang sejak tadi bertingkah aneh.
"Aku ingin telur bakar" jawab Raisa.
"Telur bakar?" ulang Yoga. Raisa mengangguk, rasanya ia sangat menginginkan telur bakar itu sekarang juga.
"Tapi, menu itu tidak ada di restauran kami nona" ucap Pelayan wanita memberitahu.
__ADS_1
"Tapi, aku ingin itu" balas Raisa kekuh.
"Haa, mulai lagi nih bocah. Baru baik kemarin, baru berubah dari jutek, Sekarang malah gini" gerutu Yoga merasa apes, "Apa begini rasanya pacaran sama bocil"
"Yaudah, apa kalian bisa bikinkan untuk kekasih saya telur bakar?" tanya Yoga menatap kedua pelayan itu.
"Maaf tuan, kami tidak bisa menjaminnya. Kamu harus konfirmasi dulu sama koki di dapur" jawab pelayan pria.
Yoga mengangguk, kemudian menjanjikan sejumlah uang untuk membayar atas kerja keras mereka.
"Saya akan membayar tinggi jika kalian mau memenuhinya" tambah Yoga.
"Baiklah tuan, kami akan membicarakan dengan pihak dapur." balas pelayan wanita menunduk memberikan hormat.
"Lalu, tuan ingin makan apa?" tanya pelayan pria, yoga belum sempat menyebutkan pesanan nya tadi.
"Saya mau nasi goreng ayam spesial aja" jawab Yoga.
"Baiklah tuan, tunggu beberapa menit untuk kamu menyiapkan pesanan kalian" kata mereka kompak dan memberi hormat sebelum pergi.
Raisa tersenyum lebar, ia sangat bahagia memiliki kekasih Seperti Yoga yang selalu memenuhi apa keinginan nya.
"Kamu memang yang terbaik" kata Raisa tanpa embel embel tuan.
"Hemm...Bisa panggil aku sayang? kamu atau tuan terasa janggal di telinga aku" ungkap Yoga.
"Baiklah sayang, kamu yang terbaik. Meskipun pernah ada coretan luka " ungkap Raisa dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Ia mulai bisa berdamai dengan masa lalu, mulai mempercayai Yoga yang memang di jebak oleh seorang wanita licik seperti Gladies.
"Meskipun itu terdengar tidak enak, tapi aku senang, kamu sudah mau menerima aku lagi " Yoga meraih tangan Raisa yang terletak di atas meja. Ia menggenggamnya erat, seakan menyalurkan keyakinan yang ia punya. Menatap lekat mata Raisa yang juga menatap kepadanya.
"Aku benar-benar mencintai kamu Raisa, aku belum pernah jatuh cinta. Hanya kamu satu satunya wanita yang membuat aku kalang kabut" ungkap Yoga.
"Ooh" balas Raisa singkat, hatinya bahagia, senang mendengar penuturan kata tulis dari Yoga. Tapi, ekspresi nya terlalu datar dan biasa aja.
"Oo aja?" tanya Yoga heran. Bagaimana mungkin respon Raisa hanya oo aja, sedangkan dirinya sudah mengeluarkan semua yang ada di hati.
"Trus aku harus apa? jungkir balik?" balas Raisa bingung.
"Ya gak gitu juga sayang, setidaknya bahagia kek, senyum atau nangis kek, karena terlalu bahagia" kata Yoga.
"Aduh sayang, kalau aku nangis berarti aku sedih dong" jawab Raisa polos.
Ingin rasanya Yoga menarik pipi Raisa sampai melar, saking gemas dan geramnya dia.
"Yaudah deh serah, yang penting. Aku tuh tulus banget sama kamu" kata Yoga pasrah, tapi tetap tersenyum bahagia.
"Kamu benar benar bisa membuat aku kalang kabut, geram tak karuan, bahkan kacau sekaligus. Tapi hanya kamu yang buat aku nyaman dan memberikan arti sakitnya kehilangan" batin Yoga. Ia menarik tangan Raisa mendekat ke bibirnya, kemudian mengecup lembut punggung tangan Raisa sembari menatap wajahnya.
__ADS_1
"Love you" ungkap Raisa senang.
"Nah, kan. Gitu enak liat nya. Aku jadi ikut bahagia liat kamu bahagia" ujar Yoga kembali mengecup lembut punggung tangan Raisa.