
Mondar mandir, Titi terus mondar mandiri di ruang tengah rumah besar Johan. Sejak tadi ia menunggu kepulangan Raisa.
"Nona kemana sih? kenapa jam segini masih belum pulang?" gumam Titi khawatir.
Johan pulang, ia melihat Titi kekasihnya berjalan bolak balik seperti orang kurang kerjaan.
"Hei, kurang kerjaan? mending sini *** ***" kata Johan bercanda.
Titi menoleh, ia melangkah cepat mendekati Johan yang sudah duduk di sofa.
Sekarang sudah pukul 10 malam, pria itu memang biasa pulang jam segini, setelah dari restauran ia juga harus pergi ke markas paman nya.
"Sejak siang Nona pergi, dan sampai detik ini masih belum pulang" ucap Titi memberitahu.
"Lagi main sama Yoga kali"kata Johan santai. Biasanya Raisa seperti itu, ia pergi bersama yoga selalu lama lama.
"Tidak tuan, nona pergi tanpa kabar. Biasanya dia selalu mengabari ku. Sekarang bahkan ponselnya tidak aktif" jelas Titi penuh dengan rasa kekhawatiran.
"Kamu udah hubungi Yoga?"
"Sudah tapi tidak di angkat, aku menghubungi Niko. Dia bilang Yoga bersama keluarga besarnya, dan nona tidak ada di sana" Titi hampir menangis, ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Raisa.
"Sudah jangan menangis, aku akan mencarinya" bujuk Johan menenangkan kekasihnya.
"Aku ikut" mohon Titi.
"Baiklah ayo, tapi ganti dulu pakaian mu. Ini sudah malam" kata Johan menatap penampilan Titi yang hanya mengenakan pakaian tidur.
Titi menurut, ia berlari cepat menuju ke kamar Raisa. Ia harus bergerak cepat agar tidak memakan waktu.
Titi membuka lemari, ia meraih jaket nya yang terlipat di dalam lemari. Kebetulan ia berbagi lemari dengan Raisa. Gadis itu memaksa Titi untuk bersikap seperti kakak perempuan dan mereka harus berbagi dan kompak.
Sles...
Titi tidak sengaja menyenggol baju Raisa dan menjatuhkan sesuatu.
"Apa ini?" gumam Titi heran, ia memunguti benda itu dan melihatnya.
"Tuann!!!!!!!!!!!!" teriak Titi sangat keras.
Johan yang mendengarnya di bawah, Langsung berlari cepat menghampiri nya di kamar Raisa.
"Ada apa?" tanya Johan khawatir.
"Lihat ini, "
Johan mengambil testpack yang ada di tangan Titi. Matanya melebar, ia tidak menyangka ini terjadi.
"Kamu hamil? serius??" tanya Johan menatap Titi tidak menyangka.
"Cepat sekali" ungkap Johan.
Pletak!
"Aus..Sakit sayang. Kenapa aku di pukul" erang Johan merasa kesakitan.
"Kau gila! di saat situasi seperti ini masih sempat bercanda!" marah Titi.
"Lalu ini punya siapa?" tanya Johan.
"Ini punya nona, " titi terdiam, bayangan tentang perubahan Raisa dan juga soal cerita mereka sebelum tidur waktu itu.
"Astaga!!!! ternyata nona hamil!" erang Titi frustasi. Ia merasa dirinya sangat bodoh tidak menyadari ini dari awal.
"Apa?? jadi Yoga sudah menembus adik aku??"
"Tapi, kenapa nona menghilang? kenapa dia tidak memberitahu Yoga??"
"Ini aneh, kenapa semuanya terlihat kacau? seharusnya ini masalah sepele. Aku tinggal nikahkan mereka saja" ujar Johan.
"Kita harus menemui Yoga!" usul Titi. Johan mengangguk setuju.
"Ayo!"
__ADS_1
Sepasang kekasih itu langsung bergegas pergi menemui Yoga.
...----------------...
Sama seperti Titi dan Johan tadi. Niko terlihat panik menunggu kepulangan Yoga. Sejak tadi ia berusaha untuk menghubungi Yoga, namun pria itu tak kunjung mengangkatnya.
"Bajingan itu kemana sih! kenapa tidak bisa di hubungi!" maki Niko menahan kesal.
Setelah beberapa saat, Niko mendengar suara mobil memasuki garasi. Ia langsung berjalan keluar, ia pikir itu adalah Yoga.
Setelah tiba di luar, dugaan Niko salah. Ternyata itu adalah Johan dan Titi.
"Niko! mana yoga?" tanya Johan.
"Aku juga sedang menunggu dia pulang" jawab Niko.
"Apa Raisa belum kembali?" tanya Niko pada Titi.
Gadis itu menjawab dengan gelengan kepala, air matanya sudah mengalir deras. Rasa khawatirnya semakin dalam.
"Ayo tunggu di dalam" ajak Niko.
Titi dan Johan mengangguk, mereka hendak berjala masuk tapi tiba-tiba mobil Yoga memasuki pekarangan rumah.
"Itu dia pulang" ujar Johan.
Mereka sangat berharap bahwa Raisa datang bersama Yoga.
Jleb.
Yoga pulang sendiri, ia tidak bersama Raisa.
Titi melangkah maju, ia menatap Yoga dengan tatapan tidak percaya.
"Tuan, nona mana?"
Yoga menatap heran, mengapa mereka ada di rumah nya. Apalagi melihat penampilan Titi dan Johan yang terlihat sangat kacau.
"Apa? kenapa kau bersikap seperti tidak peduli?" tanya Johan mulai terpancing emosi.
"Aku memang tidak peduli!" jawab Yoga santai. Namun, jauh di lubuk hatinya merasa sangat khawatir, mengapa Johan dan Titi mencari Raisa. apa gadis itu menghilang?.
Bug~
Satu pukulan mendarat di pipi kanan Yoga.
"Kau memang brengsek Yoga. Aku menyesal telah mempercayakan nya pada mu!" teriak Johan. Ia hendak kembali menghajar Yoga, namun Niko dan Titi menahan nya.
"Sudah tuan, jangan lakukan itu" cegah Titi.
Yoga merapikan jas nya, menatap sinis pada Johan.
"Aku juga menyesal mengenal nya!" ucap Yoga tanpa perasaan.
Johan kembali emosi, ingin rasanya ia menghajar pria itu sampai mati. Tapi Titi dan Niko menahan nya.
Titi melangkah maju, berdiri di hadapan Yoga.
"Tuan, anda adalah manusia panutan saya. Begitu banyak yang saya kagumi pada diri anda. Tapi, saya juga menyesal sudah mengagumi anda" Titi menghapus air matanya.
"Saya tidak tahu apa masalah kalian, dan saya juga tidak tahu mengapa anda bisa mengatakan hal itu untuk nona muda. Gadis malang yang saat ini mengandung anak mu!"
"Apa?" kaget Niko.
Yoga malah tertawa, ucapan Titi seakan lelucon di telinga nya. Memang sejujurnya Yoga kaget, namun foto yang Gladies tunjukkan padanya membuat dirinya kecewa.
"Jadi, maksud kalian datang kesini ingin menuduh saya yang menghamili gadis itu?" ujar Yoga, membuat Ketiga orang itu kaget.
"Maksud tuan?"
"Cih, harusnya kalian tanya dulu pada gadisnya, pria mana yang menjadi bapak nya. Jangan sembarang menuduh ku!" jelas Yoga santai.
"Bajingan!!! akan ku bunuh kau!!!" teriak Johan berusaha untuk melepaskan diri dari Niko.
__ADS_1
"Tuan!!" teriak Titi membentak.
"Apa kau sudah gila??? bagaimana mungkin kau mengatakan hal itu pada nona Raisa!!? orang yang dekat dengan nya hanya anda tuan!!!"
Titi mendekat pada Yoga, lalu memukul mukul pria itu.
"Hentikan Titi!!" bentak Yoga.
"Aku tidak berbicara sembarangan! karena aku punya buktinya!" kata Yoga sembari menunjukkan foto yang Gladies tunjukkan dan kirim padanya.
Deg.
Tubuh Titi oleng, ia tidak bisa mempercayai ini. Di foto itu terlihat Raisa berada di dalam pelukan seorang pria, dan mereka dalam keadaan tidak berpakaian di dalam selimut.
"Tidak!! itu tidak mungkin" lirih Titi.
Niko merampas ponsel Yoga, laku meneliti foto itu.
Johan pun tidak bisa berkata kata, bagaimana mungkin adiknya bisa melakukan itu.
"Ini pasti ada kesalahan" lirihnya.
Yoga menarik nafas dalam, sebenarnya hati nya masih sangat sakit. Raisa mengkhianati nya.
"Kami impas" kata Yoga tersenyum kecut.
"Tuan, apa kau percaya begitu saja? aku malah tidak percaya" lirih Titi. Ia tahu betul bagaimana diri Raisa. Ia tidak akan melakukan hal itu.
"Kenapa tidak? aku pernah melihatnya langsung tengah bersama pria itu. dan aku juga paham Sekarang, mengapa dia selalu kesal dan menolak ajakan ku" Yoga tertawa geli, hatinya terasa hancur.
"Foto ini palsu!" seru Niko
Deg.
Bak tersambar petir, Yoga menatap Niko meminta penjelasan.
"Aku sudah menduganya" lirih Titi ambruk di lantai.
"Kalian lihat ini, aku menemukan ada titik aneh di foto ini. Sangat kecil tapi ini membuat ku curiga. Barusan aku mengeceknya, dan foto ini terbukti sebut editan" jelas Niko.
"Tidak... Tidak mungkin!" Yoga melangkah mundur, ini bagaikan mimpi baginya.
"Kau puasa sekarang?" ujar Johan.
Brak.
Tubuh Yoga terduduk di lantai, tatapan nya kosong.
"Tadi dia mencari ku, dia ingin membicarakan sesuatu pada ku."
Plak!!
"Aku yang bodoh malah bersikap dingin dan bahkan mengusirnya"
Plak!
"Aku meninggalkannya sendiri di sana"
Plak!!
Plak!!
"Aku bodoh! sangat bodoh!!" maki Yoga menampar wajahnya sendiri.
Johan memalingkan wajahnya, ia juga tidak bisa menyalahkan Yoga sepenuhnya.
"Sekarang apa rencana kita?" tanya Niko.
"Kita harus mencarinya" kata Johan.
"Kerah kan semua anak buah ku!!! cari dia sampai ketemu" titah Yoga. Air mata mulai mengalir deras di pelupuk matanya.
...----------------...
__ADS_1