Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
2R


__ADS_3

"Roy, ayo cepat!!!!" teriak Raisa dari bawah.


Mereka berdua sudah bersiap ingin pergi ke rumah Johan. Yoga terlihat tampan dengan kemeja lengan panjang berwarna abu abu serasi dengan baju yang di kenakan oleh Raisa.


Mereka sangat cocok, tampan dan cantik.


Raisa tidak sabaran, ia hendak menyusul Roy ke dalam kamarnya. Tapi, niatnya tidak jadi terlaksana karena Roy baru saja muncul.


"Ayo mami, papa" ucap Roy santai.


"Kamu ini cowo apa cewe sih, dandan nya lama amat!" gerutu Yoga.


"Ih papa kenapa sih, kok sewot sama aku. Kalah saing yah?" cibir Roy.


"Idih, kamu yah. Anak satu satunya, tapi tingkahnya kaya anak 10. Masih kecil tapi sudah kaya rawit aja!" balas Yoga.


"Uda udah, ayo pergi!" lerai Raisa, ia menarik tangan Roy dan juga tangan suaminya, lalu membawa mereka keluar dari rumah besar milik Yoga yang kini juga menjadi miliknya.


...----------------...


"Kok kak Roy lama banget datangnya ma?" tanya Ratu.


Gadis kecil itu sejak tadi berdiri di depan pintu menunggu kedatangan saudara nya.


"Kamu tunggu di dalem aja sayang, sebentar lagi mereka datang" ucap Titi.


"Gak lah ma, Ratu mau tunggu di sini aja" tolak Ratu.


Titi tak bisa berbuat apa apa, ia membiarkan putrinya berdiri di depan pintu.


Brmm.....BRrmm.....


Mata Ratu langsung berbinar, mobil mewah terparkir di depan rumahnya.


"Mama!!! kak Roy sudah datang!!!" teriak Ratu bersorak girang sambil melompat lompat.


"Kak Roy!!!! kak Roy!!!" sorak Ratu girang.


Dari dalam mobil, Roy pun keluar terburu buru dari dalam mobil, ia juga tidak sabar ingin bertemu Ratu.


"Halo ratu" sapa Raisa tersenyum manis, namun Ratu tidak menggubris nya. Bocah kecil itu hanya melihat Roy dan tersenyum pada Roy.


"Hai Ratu ku!!!" sapa Roy dengan suara melengking dan kegirangan.


"Hai kak Roy ku!!!" balas Ratu melompat lompat menghampiri Roy.


Mereka tersenyum bersama, lalu berlari masuk ke dalam.


"Ayo kak, kita main" ajak Ratu.


"Ayok?!!" sahut Roy sambil mengikuti Ratu.


"Hahaha...Di cuekin!" ledek Yoga pada istri nya yang melongo melihat sikap Roy dan Ratu yang mengabaikan dirinya.


"Apaan sih kamu" decih Raisa mengerut kesal, ia melenggang masuk ke dalam rumah Johan, lalu mencari keberadaan Titi yang ternyata masak di dapur.


"Titi!!!! di mana kamu???" teriak Raisa seperti bersorak di hutan.


"Aku di sini!!!!" sahut Titi dari dapur.


Raisa langsung menuju ke dapur,melihat Titi sedang memasak apa.


"Masak apa Titi?" tanya Raisa.


Titi tersenyum, ia sedang membuat bumbu untuk membuat ayam bakar kesukaan Raisa.

__ADS_1


"Aku membuat makanan kesukaan mu dong...."jawab Titi.


Raisa tersenyum lebar, ia melihat ada ayam utuh di dalam baskom. Kini ia mampu menebak apa yang akan di masak oleh Titi.


"Wahhh kamu baik banget ya sama aku" sahut Raisa tersipu malu.


"Isss Adik ipar, jangan seperti itu. Kita itu sahabat, dan kau juga adalah adik ipar ku. Kita lebih dari saudara" jelas Titi.


Raisa tersenyum bahagia, lalu merengkuh tubuh Titi. Raisa bahagia memiliki seseorang seperti Titi, meskipun berawal dari pelayan dan menjadi sahabat. Kebaikan hati Titi memang sangat tulus, Raisa sangat menyukai itu.


...----------------...


Di ruang tengah, Roy dan Ratu sedang bermain bersama. Ratu mengeluarkan semua mainan nya, agar ia bisa bermain bersama Abang sepupunya.


"Ayo kak, kita main" ajak Ratu.


"Wah kamu memiliki banyak mainan yah, aku malah gak punya sebanyak ini" ucap Roy takjub. Ia bukan tak mampu beli, tapi ia tak terpikir untuk bermain. Di dalam pikiran Roy hanya sosok papa. Tapi kini, ia sudah memiliki nafsu bermain yang kuat.


"Kakak boleh kok ambil ini setengah" seru Ratu.


Tapi, Roy menggeleng, ia bergidik ngeri pada Ratu.


"Kau pikir aku banci? main mainan wanita?" celetuk Roy.


Bagaimana tidak, semua mainan Ratu adalah mainan anak cewe. Ada Barbie, mainan masak masakan, boneka lainnya. Huh, hanya ada beberapa yang cocok di mainkan anak laki-laki.


"Hahaha....Maaf kakak, tapi aku kan cewe, yah wajar saja mainan nya begini" tawa Ratu.


Roy berpikir sejenak, memainkan mainan cewe tidak lah kebiasaan nya. Ia melihat ke sekeliling nya, di sana ada Johan dan Yoga sedang main PS.


Sebuah seringaian tercetak di bibir bocah itu.


"Ratu, aku tahu kita main apa" ujar Roy.


"Main apa kak?" tanya Ratu penasaran.


"Bagaimana?" tanya Roy pada Ratu setelah menjelaskan semuanya.


"Wah, seperti nya seru" balas Ratu terkikik pelan.


"Stttt jangan berisik" peringat Roy dengan suara pelan. Ratu pun menutup mulutnya dan mengangguk mengerti.


Raisa dan Titi melihat tingkah aneh anak anak mereka.


"Roy, Ratu, kalian sedang apa?" tanya Raisa.


"Eh mami, gak kok mami. Kami sedang main masak masak" jawab Roy.


"Iya Aunty, aku koki nya" jawab Ratu. Bocah cantik itu sangat pintar, ia mampu mengikuti permainan Roy, meskipun mereka tidak mensepakatinya.


"Yasudah, mami sama Aunty Titi mau ke depan dulu" ujar Raisa.


"Siap mami, aunty" jawab Roy.


"Jangan nakal yah ratu mama" ucap Titi pada Ratu.


"Iya mama" jawab Ratu comel.


Setelah Raisa dan Titi keluar, Roy dan Ratu saking melirik, kemudian sama sama memperlihatkan seringaian mereka.


"Waktunya beraksi!" seru Roy pelan.


"Let's go!" sahut Ratu.


Kedua bocah itu berjalan santai mendekati Yoga dan Johan yang terlihat asik main game. Mereka hampir tidak sadar dengan kehadiran anak mereka jika Roy tidak sengaja menginjak kaki papa nya.

__ADS_1


"Eh Roy, kok kaki papa di injak!" tanya Yoga melirik putra nya sebentar, lalu kembali ke layar tv.


"Papa!!" panggil Ratu.


"Iya sayang" jawab Johan tanpa menoleh. Mereka terus asik main tanpa memperdulikan kedua anak itu.


Roy memberikan kode pada Ratu, kemudian mengangguk bersama.


Teg!


Layar tv mati, Yoga dan Johan melongo kaget.


"Kok mati?" tanya Yoga pada Johan.


"Mana aku tahu" jawab Johan mengangkat bahu.


Lalu, keduanya melirik ke arah Roy dan Ratu yang dengan santai nya berdiri sambil memegang colokan tv.


Yoga kaget, dia menghampiri putranya.


"Loh, pantes mati. Ternyata mereka cabut colokan nya!!" ujar Yoga.


"Pantes" lenguh Johan.


Mereka tidak bisa marah, marah pun percuma. Anak kecil yah begitu, tapi kedua anak ini luar biasa sekali.


"Padahal sedikit lagi aku menang" ujar Yoga menahan kekesalan.


"Roy, Ratu, kalian kenapa cabut itu?" tanya Yoga lembut.


"Pengen aja" jawab Roy.


Bleng~


Yoga menarik nafas dalam, agar emosi dan kekesalan nya tenggelam masuk ke dalam lagi.


"Papa!" panggil Ratu pada Johan.


Roy dan Yog ikut menoleh pada Ratu.


"Ada apa sayang?" tanya Joha. lembut, ia menghampiri putrinya, lalu menggendong nya.


"Kata kak Roy, papa nya lebih kuat dan pemberani" ucap Ratu memulai aksinya.


"Huh, mana mungkin. Itu tidak benar!" bantah Johan. Ia melirik ke arah Yoga dan Roy.


"Kenapa tidak benar, itu sangat sangat benar lah!" balas Yoga, ia merasa senang putranya ternyata membangga bangga kan diri nya.


"Tidak mungkin, uncle lembek seperti itu!" cibir Ratu.


"Tuh liat, apa kata putri aku!" ujar Johan.


"Cih, ayo bukti kan!" seru Yoga. Ia mendekati Johan, sedangkan Johan malah menurunkan putrinya dari gendongan nya.


Roy dan Ratu berdiri bersebelahan, mereka bertos di belakang tubuh mereka. Rencana pertama berhasil!


Johan dan Yoga berdiri saling menantang, mereka berhasil termakan oleh hasutan keduanya. Kini giliran rencana kedua.


"Kau yah, tidak boleh berbohong di depan anak kecil. Aku saja aku lebih kuat dari mu!" ujar Yoga.


"Enak saja, kau yang selalu begitu. Berbuat sesuka tanpa memikirkan akibat. Aku yang menanggung nya!" balas Johan.


"Enak saja! tidak mungkin begitu!" balas Yoga.


"Kau!!" Johan mendorong bahu Yoga

__ADS_1


"Eh, kok dorong dorong sih, gak elit banget jadi cowo!" dengus Yoga membalas mendorong bahu Johan.


"Kamu juga kan!" ketus Johan.


__ADS_2