
Raisa sedang memeriksa berkas berkas yang baru saja di kasih oleh asisten nya.
"Haduhh kenapa gak kelar kelar sih!", Kelu Raisa sembari merenggangkan tubuh nya.
"Mau aku bantu gak?" ujar seseorang tiba-tiba.
Raisa hampir terjungkal ke belakang karena terkejut oleh suara orang itu, apalagi posisinya Raisa sedang merenggangkan tubuh.
"Ngapain kau ke sini lagi!" kata Raisa menatap Yoga sinis.
Berlaku seperti pria tidak tahu malu, Yoga malah menarik kursi di depan meja kerja Raisa, lalu duduk di depan nya.
"Maaf yah Bu Lina yang terhormat, saya kesini ingin membicarakan tentang proyek kerja sama kita"
"Aku tidak mau, " tolak Raisa.
"Tapi, kamu sudah menandatangani surat kerja sama nya, dan konsekuensinya sangat besar. bahkan tertera tentang hidup anda yang harus menjadi penggantinya!" jelas Yoga.
Raisa melongo, perjanjian apa ini? ia merebut surat perjanjian yang ada di tangan Yoga.
Kedua mata Raisa melotot, ia sangat terkejut melihat isi dari perjanjian kerja sama ini. Apalagi di sana tertera namanya dan sebuah tanda tangan.
"Kamu gila yah? mana ada perjanjian kerja sama seperti ini!"
"Tuh buktinya ada" balas yoga santai.
Raisa menarik nafas dalam, menghadapi pria seperti Yoga sangat menguras kesabaran dan membuat tekanan batin.
"Ini namanya, maju kena, mundur kena" lirih Raisa dalam hati. Pria itu sangat pintar agar Raisa tetap dekat dengan nya.
"Bagaimana apa kita sudah bisa memulai membahas masalah ini?. Kita harus mulai dari mana dulu?" ujar Yoga, senyum manis yang bisa membuat para wanita klepek klepek jika melihatnya, tapi berbeda dengan Raisa. Ia malah merasa jijik dengan senyum pria itu.
"Yasudah, aku akan mengerjakan proyek ini!" putus Raisa dengan nada suar terpaksa.
"Bagus, mati kita mulai" sorak Yoga senang, ia membuka map yang sebenarnya ia sendiri belum membukanya. Proyek ini sebenarnya di kerjakan oleh Niko, tapi pria itu malah memberikan kepada nya.
"Tidak dengan mu, utus anak asisten mu atau siapapun ke sini untuk membahasnya dengan ku!" kata Raisa.
"Tidak bisa, proyek ini aku yang bertanggung jawab!" kata Yoga tegas. " Dia terus saja menolak diriku, hum, lihat saja akan aku buat kamu kembali ke sisi ku!" batin Yoga.
Raisa tersenyum sinis, ia menunjuk nama yang tertulis di bagian sudut surat perjanjian yang Yoga bawa tadi. Di sana terdapat nama yang bertanggung jawab atas proyek ini.
"Saya mau membahas proyek ini dengan penanggung jawab ini, bukan anda!" kata Raisa tegas.
"Saya bos nya,suka suka saya dong. Mau siapa yang di utus" jawab Yoga tidak terima, mana mungkin ia rela Raisa dekat dekat dengan pegawai nya.
"Karena anda boss, makanya anda harus lebih percaya pada anggota anda. Harusnya anda malu berada di sini!" ucap Raisa tajam.
Raut wajah Yoga berubah, Raisa sempat terkejut melihat nya.
"Aku tidak akan malu, karena seumur hidup aku sudah melakukan sesuatu yang lebih memalukan dari ini!"
__ADS_1
Yoga bangkit dari duduknya, lalu ia berbalik pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu.
"Ada apa dengan nya?" gumam Raisa heran. Ia berpikir, apa perkataan nya barusan menyinggung hati Yoga.
"Seharusnya bagus dia tersinggung" cibir Raisa. Kemudian, gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Raisa merasa sangat lelah, apalagi dirinya baru pertama kali menjadi CEO, jadi ia cukup terkejut dengan semua yang harus seorang CEO lakukan.
Wanita itu selalu saja memaki Julia, setiap kali pekerjaan baru datang padanya. Jika bukan karena wanita itu,dia pasti akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama putranya.
"Awas saja kau Julia!" geram Raisa.
...----------------...
Yoga yang kesal melangkah pergi ke taman bermain. Tempat dirinya dan Roy bermain dulu. Entah mengapa Yoga malah merindukan bocah itu.
"Apa Roy masih marah yah sama aku?" gumam Yoga bertanya pada diri sendiri.
Yoga berjalan jalan mengelilingi taman bermain, ia melihat sebuah bangku tak jauh dari sana. Langsung saja Yoga mendekat dan bertepatan saat itu Roy juga mendekat kearah bangku itu.
"Roy" kaget Yoga.
"Kenapa anda kesini?" sikap Roy sangat dingin.
"Huhh...Aku malas berdebat, aku ingin duduk dan jujur saja aku merindukan mu" lirih Yoga menghembuskan nafas nya, kemudian duduk di bangku itu.
Roy tidak menjawab, ia malah ikut duduk di samping Yoga. Keduanya sama sama terdiam. Tidak ada yang mau mengeluarkan suara.
"Huhffff..."
Keduanya sama sama menghembuskan nafas berat.
"Apa masalah mu?"tanya Yoga tanpa menoleh ke arah Roy.
"Humm...Haruskah aku menceritakan nya pada mu?" balas Roy.
"Yasudah lah jika kamu tidak mau cerita"
Roy kembali menghela nafas berat, lalu menghembuskan nya secara perlahan.
"Aku kesal pada mami, dia akhir akhir ini terlalu sibuk, bahkan dia tidak memiliki waktu untuk menemaniku bermain di sini" Kelu Roy.
"Karena mami mu adalah orang tua tunggal, makanya dia bekerja keras untuk dirimu. Maklumi saja, jangan marah pada nya" nasehat Yoga.
Roy tak menjawab, hanya deru nafas pasrah yang terdengar darinya.
"Apa masalah mu?" tanya Roy.
"Aku lebih berat dari mu" jawab Yoga.
"Orang dewasa selalu merasa masalah nya lebih berat dari anak kecil" sindir Roy.
__ADS_1
Yoga mengerut, ia menoleh kearah Roy yang masih menatap lurus ke depan. Anak kecil seperti Roy memang sangat langkah,dan mulutnya yang pedas itu membuat dirinya ingin mencubitnya.
"Wanita yang sudah lama menghilang, kini telah kembali. Aku berusaha untuk mendapatkan nya. Tapi dia terus mencoba untuk menjauh ku"
"Malang sekali, masalah mu memang terlalu berat dari ku. Wajah tampan mu ternyata tidak berguna" cibir Roy di akhir kalimat nya.
Yoga melotot, ia tidak terima dengan ucapan Roy barusan.
"Dia dulu menyukai ku, tapi aku malah menyia nyiakan dia"
"Itu salah mu" tukas Roy. Membuat Yoga semakin sedih, anak kecil seperti Roy saja tahu kalau dirinya yang salah.
Roy menoleh ke arah Yoga, melihat pria itu sedih. Roy malah menjadi kasihan.
"Baik lah baiklah, wajah mu tidak cocok sedih!" ujar Roy menggenggam erat tangan Yoga. Rasanya seperti seorang anak menggenggam tangan ayah nya.
"Aku mengerti jika kau menolak menjadi papa ku." lirih Roy.
"Makasih jika kau bisa mengerti" balas Yoga.
"Aku malah penasaran, bagaimana sih wanita yang membuat mu gila itu?"
Yoga tersenyum, ia memperbaiki posisi duduknya menjadi miring menghadap ke Roy.
"Dia itu wanita idaman para laki-laki, tubuhnya tidak terlalu tinggi, imut, gak gemuk tapi montok. Wajahnya sangat cantik, rambut panjang di bawah bahu, selalu terikat rapi"
Roy terdiam, ciri-ciri wanita itu sama persis dengan ciri-ciri mami nya.
"Kau sedang membicarakan mami ku?" sungut Roy.
Yoga malah menjadi bingung.
"Tidak Roy, bagaimana aku bisa tahu siapa mami mu, aku kan belum pernah bertemu"
"Bener juga, tapi semua ciri-ciri yang kamu sebut itu sama seperti ciri-ciri mami ku" jelas Roy.
"Wahh manis banget yah, seorang ayah menemani putranya main"
"Iya, mereka mirip banget lagi"
Roy melirik para ibu-ibu yang baru saja lewat dan membicarakan nya dan Yoga.
"Cih, aku mana mungkin mirip dengan dia" cibir Roy.
Yoga malah terdiam, memory 4 tahun lalu berputar di kepala nya.
"Apa mungkin?????"
...----------------...
Bersambung 😅😅😅
__ADS_1