Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Trauma


__ADS_3

Raisa terbaring di atas kasur empuk rumah sakit. Di samping nya Yoga dengan setia menemaninya dari semalam. Setelah dokter memeriksa keadaan Raisa, Yoga tidak beranjak sedikit pun dari duduknya.


"Makan lah dulu, kau belum makan dari kemarin" peringat Johan pada Yoga.


"Aku tidak lapar" balas Yoga. Ia kembali menatap dan menggenggam tangan Raisa.


Johan terlihat menghela nafas, ia dapat melihat betapa Yoga mencintai adiknya.


"Terserah kau saja" pasrah Yoga.


Johan berjalan mendekati Sofa lalu duduk di sana.


"Apa kau akan terus seperti itu??" seru Johan lagi. Namun Yoga tidak menyahut, ia tetap diam dan menatap wajah damai Raisa.


Keadaan Raisa baik baik saja, hanya terdapat luka lebam di sekujur tubuhnya. Itu adalah bekas dari cambukan kuat dari mawar.


"Maafkan aku Raisa"lirih Yoga, ia menyalahkan dirinya yang tidak mampu menjaga Raisa.


"Ngg....." lenguh Raisa. Ia pulan bergerak pelan.


"Raisa?? kamu sudah sadar??" panggil Yoga senang.


Johan yang mendengar ucapan Yoga langsung berdiri, lalu mendekati Yoga.


Raisa perlahan membuka mata, ia melihat ke sekeliling. Tiba tiba kilasan pria bejat itu menghantui pikirannya.


"Akkkkkk!!!?? pergi!!!, Pergi!!!, jangan sentuh aku!!!!!" teriak Raisa histeris.


"Hei... sayang. Ini aku, dan Johan"


"Pergi!??! pergi!!!" Raisa terus berteriak, ia juga menendang nendang kakinya ke sembarangan arah.


"Panggil dokter!!" titah Yoga.


Johan langsung bergerak cepat keluar dari ruangan inap Raisa. Ia berteriak-teriak memanggil manggil dokter.


"Sayang, tenang lah. Kamu aman Sekarang" ucap Yoga berusaha untuk menenangkan Raisa. Namun gadis itu tetap berteriak dan melempar semua barang yang ada di dekatnya.


Tak lama kemudian, sang dokter pun datang bersama Johan dan beberapa perawat mendampingi nya.


"Biar saya periksa dulu" ucap Dokter permisi pada Yoga.


"Silahkan dok" balas Yoga menjauh dari ranjang Raisa.


Mereka berdua menunggu dengan gelisah, ada apa dengan Raisa. Mengapa ia histeris ketika Yoga dan Johan mendekati nya.


Dokter memberi Raisa obat penenang, gadis itu kembali tertidur tenang.


Dokter menghampiri Yoga dan Johan.

__ADS_1


"Ada apa dengan adik saya dok?" tanya Johan.


"Pasien mengalami trauma. Seperti nya apa yang ia alami memberikan trauma yang mendalam padanya.


Sebaiknya untuk sementara waktu, kalian jangan terlalu mendekati nya. Kalau bisa suruh orang yang dekat dengan nya, atau yang biasa ia ajak mengobrol, agar dirinya tidak merasa tenang" jelas Dokter panjang lebar.


"Siapa yang biasa dekat dengan nya? Raisa tidak memiliki teman perempuan yang terlalu dekat dengan nya" gumam Johan bingung.


"Apa hanya itu yang Raisa alami dok? apa ada penyakit lain nya?" tanya Yoga.


Sang dokter menggeleng. "Tidak ada tuan, setelah istirahat yang cukup dan memakai salep penyembuh luka, nona sudah baik baik saja"


Yoga mengangguk mengerti.


"Kalau begitu, saya permisi tuan" pamit dokter.


"Oh silahkan " sahut Johan.


Setelah sang dokter pergi, Yoga dan Johan kembali berdiskusi. Memikirkan siapa teman wanita yang dekat dengan Raisa.


"Selamat pagi tuan, apa saya boleh melihat nona?" tanya Titi dari luar, ia menjulurkan kepalanya ke dalam untuk meminta ijin. Sejak tadi Titi menunggu Yoga atau Johan keluar dari kamar inap Raisa. Tapi mereka tak kunjung keluar, sehingga akhirnya Titi memutuskan untuk melihat ke dalam.


"Huh? boleh?" sahut Johan gelagapan.


Titi merasa senang, ia langsung membuka pintu inap Raisa dan berjalan kearah gadis itu.


"Nah, dia wanita yang dekat dengan Raisa" seru Niko dari belakang Titi. Entah sejak kapan pria itu berdiri di sana.


"Bisa jadi, karena Raisa selalu di rumah dan di temani oleh pelayan ku ini" jelas Yoga.


Titi yang tidak mengerti apa yang kedua pria ini bicarakan hanya diam mendengarkan.


"Begini Titi, Adik ku mengalami trauma. Ia tidak bisa melihat banyak pria. Jadi saya ingin meminta bantuan mu untuk menemani adik ku dan menjelaskan kepadanya bahwa dirinya sudah baik baik saja" jelas Johan.


Titi menoleh kearah Raisa, tatapan mata nya sendu. Ia sangat sangat sedih melihat kondisi Raisa saat ini.


"Kenapa hal buruk selalu menimpa gadis sebaik kamu?" lirih Titi dan hati.


"Baik tuan, saya akan merawat dan menjaga nona muda" jawab Titi.


Yoga dan Johan mengangguk lega, akhirnya mereka bisa bernafas lega.


...----------------...


Mawar di temukan, ia di seret menemui Mr Bein.


"Sudah di bebaskan, malah bertingkah" cibir wanita Sexy saat melihat Mawar di seret melewatinya.


"Bawa dia masuk!" titah wanita tadi.

__ADS_1


Para anak buah menyeret kasar, mengetuk pintu ruangan Mr Bein, lalu membawa mawar masuk setelah mendengar suara perintah agar mereka masuk.


Bruk~


Tubuh Mawar terhempas ke lantai, kaki nya sudah tidak memiliki tenaga untuk menopang tubuhnya.


"Wanita tidak tahu malu!" gumam Mr Bein menggeram.


"Cih..Setidaknya aku sudah membalaskan dendam ku" balas Mawar tersenyum.


Plak!!!


"Berani sekali kau melawan ucapan Mr Bein!" bentak wanita Sexy tadi.


Mr Bein mengangkat tangan, memberi kode agar wanita itu berhenti menampar Mawar.


"Kau memang sudah puas dengan pembalasan mu. Tapi sekarang, kau harus memuaskan dendam ku"


Mr Bein berdiri, ia mengambil cambuk yang di bawa kan oleh anak buah nya.


"Ada berapa bekas cambuk di tubuh keponakan ku?" tanya Mr Bein pada anak buah nya.


"30 boss" jawab anak buah nya.


Mr Bein bersiap ingin mencambuk Mawar, namun niatnya ia urungkan. Mr Bein memiliki rencana yang lebih menyakitkan untuk Mawar.


"Panggil pasukan yang baru saja selesai masa latihan!" titah Mr Bein.


"Baik boss" wanita Sexy itu langsung bergegas keluar dari ruangan dan kembali dengan membawa 10 pasukan yang baru saja selesai masa latihan.


"Bawa gadis ini ke tempat latihan !" perintah Mr Bein lagi.


Mawar menggeleng pelan, ia tidak mau di bawa ke tempat itu lagi. Rencana busuk Mr Bein sudah terlintas di benak nya.


"Lepaskan aku!!! sialan!!!! pria bejat!!!" teriak Mawar meronta ronta.


"Kau harus menerima lebih menyakitkan dari keponakan ku!" ujar Mr Bein.


Sementara di dalam penjara yang khusu di buat oleh Mr Bein untuk memenjarakan orang orang yang telah menghancurkan keluarga nya.


"Bagaimana nasib putri ku" lirih Melinda. Ia duduk berjauhan dengan Bram, suami egoisnya itu sungguh tidak bisa di andalkan.


"Kenapa kau memuji putri bodoh mu itu huh? kita mengalami semua ini karena dia!!" bentak Bram.


"Apapun yang kau katakan, aku tidak peduli. Mawar jauh lebih penting bagi ku!" balas Melinda.


Bram membuang muka, istri nya sama saja seperti putrinya. Mereka tidak ada guna baginya.


"Aku menyesal membunuh nya, dia jauh lebih berharga dari pada wanita ini!" gerutu Bram menyesali perbuatannya pada Raisa dan mama nya. Sebelum mama Raisa meninggal, Bram selalu saja hidup enak. Mama Raisa selalu berterimakasih kepadanya karena sudah mau membantunya. Meskipun mama Raisa tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2