
Hari demi hari berlalu, Raisa merasa semakin kesepian. Rasa rindunya dan rasa sakit yang ada di hatinya kian bercampur aduk. Bahkan Raisa tidak bisa membedakan mana rasa rindu, dan mana rasa sakit hati.
"kenapa aku merindukan bajingan itu!"
"Dia sudah menyakiti aku, dia sudah berselingkuh!"
Raisa berjalan menuju ke balkon kamar barunya. Kata Johan, ini adalah kamarnya ketika masih kecil dulu. Setiap kembali ke Indonesia, Raisa selalu ingin berlama lama di kamar ini.
Benar saja, Raisa memang sangat nyaman berada di kamar ini.
Malam itu langit terlihat bergembira, bintang seakan bersorak bersama rembulan menghiasi langit malam.
"apa kalian mengejek ku" gumam Raisa berbicara dengan bulan dan bintang.
semilir angin mulai terasa sejuk, saat ini sudah pukul 9 malam.
Dari arah bawah, Yoga berdiri menatap keatas sang pujaan hati.
Sejak Johan menemuinya, Yoga mulai mendatangi rumah Johan untuk melihat Raisa dari jauh.
Untuk sementara Yoga memberi Raisa ruang untuk menenangkan dirinya.
Yoga tersenyum, terkadang bersedih, sesuai dengan ekspresi yang Raisa tunjukkan di setiap malamnya.
Gadis itu masih belum menyadari keberadaan Yoga, ia hanya fokus pada langit, kemudian masuk ke dalam kamarnya.
"Andai kamu tahu, aku tidak bisa tenang jika kamu tidak bersama ku" lirih Yoga dalam hati.
Pukul 10.05. Raisa masuk ke dalam kamar. menutup pintu balkon kamarnya. Terlihat dari raut wajah Yoga ada rasa kekecewaan.
"Kasian tuan Yoga" gumam Titi. Dia selalu melihat Yoga berada di luar rumah Johan. Memperhatikan Raisa dari jauh.
Ingin rasanya Titi memberitahu pada Raisa, namun Johan melarang nya. Ia mengatakan Titi untuk membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.
-----------------------------------
Malam itu Raisa tidak bisa tidur, ia baru saja berbaring selama 10 menit, memaksa mata nya untuk terpejam dan terlelap. Namum, matanya seakan tidak merasa lelah. Raisa masih terbangun dan gelisah.
"AC sudah menyala, tapi aku masih merasa gerah!" gumam Raisa heran.
Gadis itu pergi keluar kamar, ia memakai sweater nya sebelum keluar.
Tampak rumah sudah sepi, para pelayan sudah masuk ke kamar masing-masing.
Raisa pergi ke taman belakang rumah nya, mungkin duduk menikmati udara luar akan sedikit menghilangkan rasa gerah.
Raisa duduk di taman, ia menatap langit yang mulai menggelap. Bintang bintang yang ia lihat tadi berangsur menghilang.
"Pantes gerah, mau turun hujan rupanya" gumam Raisa.
Angin bertiup sedikit kencang, Raisa merasa sedikit ketakutan.
"Yahh hujan terlalu cepat datang" lenguh Raisa kecewa.
__ADS_1
Ia segera bangkit dan hendak masuk ke dalam rumah. Tiba tiba sudut matanya melihat seseorang yang tidak asing di matanya.
"Yoga?" Gumam Raisa terkejut. Ia berjalan semakin dekat pada seseorang yang ia pikir itu adalah tuan muda Yoga.
____________________
Di dalam rumah, Titi baru saja bersiap ingin tidur. Tiba-tiba sebuah ketukan menghentikan niatnya.
Tuk!!! Tuk!!!
"Siapa sih" pikir Titi mendengus kesal.
"Iya sebentar!!!", Teriak Titi. Ia berjalan cepat kearah pintu, lalu membukanya.
Betapa terkejutnya Titi ketika melihat Johan berdiri di depan pintu kamarnya.
"Tuanmmppp" Johan membekap mulut Titi. Lalu membawa gadis itu ke luar rumah.
Sesampai di luar, terasa udara sejuk menerpa tubuh keduanya.
Titi memeluk tubuhnya sendiri, menatap Johan sinis.
"Kenapa tuan menyeret ku ke luar??" Tanya Titi.
Johan tidak menjawab, ia hanya menatap wajah jutek Titi dengan senyum manis.
"Kau cantik bila marah sepey itu" ucap Johan tulus.
Titi tersipu malu, pipinya merona merah.
Johan merasa Titi adalah wanita idamannya, apalagi Titi sangat dekat dengan adiknya. Jadi Johan rasa Titi bisa menjadi pendampingnya.
Mereka sama sama terdiam, detak jantung dan deru nafas mereka lah berbicara.
Tatapan mereka bertemu, dengan jarak wajah yang semakin terkikis habis.
Deg....Deg.....Deg...
Titi benar benar merasa sangat gugup, jantungnya terasa seakan meledak sekarang.
Wajah Johan semakin dekat dan sangat dekat. Saking dekatnya Titi mampu merasakan deru nafas Johan menerpa permukaan kulit wajahnya.
"Ngapain kau di sini??? Apa belum cukup sakit yang ka beri pada ku!"
Johan dan Titi terperanjat, mereka langsung menjauhkan diri.
"Maaf" ungkap Johan merasa sudah tidak sopan pada Titi.
"Tidak masalah tuan" balas Titi malu malu.
Sedangkan Raisa di sebelah sana tengah menghadang Yoga yang tengah duduk di depan mobilnya sembari menatap ke arah kamar Raisa.
Pria itu kaget, ia tidak tahu jika Raisa memergoki dirinya berada di sini.
__ADS_1
"Pergi sana!!! ngapain juga kamu berada di sini!!! aku muak melihat mu!!!" teriak Raisa mengusir Yoga. Ia melempem baju kearah Yoga. Membuat pria itu bergerak menghindar, beberapa memang mengenai Yoga.
Titi menutup mulut, ia mengikuti Johan mendekat kearah Raisa dan Yoga.
Raisa melihat kedatangan kakaknya dan Titi. Ia langsung mendekat Johan, meminta pria itu untuk mengusir Yoga.
"Kak, suruh dia pergi. Aku tidak mau melihat pria seperti dia lagi!!" pinta Raisa memohon pada Johan.
"Dek, kamu tenang dulu. Kita bisa bicara baik baik" kata Johan menenangkan Raisa.
Namun, seolah seperti kesetanan. Raisa malah semakin mengamuk. hatinya kembali terasa sakit saat melihat wajah Yoga.
"Pergi kau!! aku tidak mau melihat mu!!" teriak Raisa histeris.
Yoga hanya diam, menatap nanar sikap Raisa yang terlihat sangat membenci dirinya.
"Maafkan aku Raisa!!" lirih Yoga. Ia tahu betapa menderitanya Raisa karena diri nya.
"Tuan, sebaiknya anda kembali saja dulu. Nanti setelah semuanya tenang, kita bisa bicarakan baik baik" ucap Titi.
Raisa langsung menatap marah pada Titi.
"Kamu juga berpihak padanya Titi,? apa kau membela pria brengsek itu???", tuding Raisa menunjuk Yoga.
Titi menggeleng, ia tidak bermaksud seperti itu.
"Tidak nona, aku melakukan itu agar tuan muda segera pergi" jawab Titi.
"Jika kalian semua memihak padanya, maka kalian jangan pernah dekati aku lagi!!"
Raisa berlari masuk ke dalam rumah, ia menaiki anak tangga menuju ke kamar nya.
Raisa masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu kamarnya dari dalam. Tidak lupa Raisa juga mengunci pintu balkonnya, kemudian mematikan lampu.
Yoga menoleh kearah kamar Raisa. Ia melihat lampu kamar Raisa tiba tiba mati.
Huffff haaa....
"Dia sangat membenci ku" lirih Yoga sedih.
Titi menatap iba majikan nya, ia juga tidak bisa melakukan apapun. Raisa sangat keras kepala. Akan sulit menjelaskan pada Raisa di saat kondisinya masih seperti ini.
"Pulang lah, aku akan mencoba bicara dengan nya nanti" kata Johan pada Yoga.
Yoga mengangguk, dengan gontai ia masuk ke dalam mobilnya. Lalu melaju meninggalkan pekarangan rumah Johan
"Kasihan tuan muda" ujar Titi.
"Apa boleh buat, dia harus bertanggung jawab dengan resiko atas apa yang ia perbuat" sahut Johan.
"Hemm..." gumam Titi.
Di dalam kamarnya, Raisa kembali menangis sendirian. Rasa sakit ketika melihat Yoga bersama wanita lain kembali menghinggapi relung hatinya.
__ADS_1
Raisa adalah gadis polos dan lugu. Ia sangat tabu dengan yang namanya cinta. Bahkan ia merasa menyesal telah mengenal cinta.
...----------------...