Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Mungkin Begini yang terbaik


__ADS_3

Di tepi pantai, Raisa duduk seorang diri menatap jauh ke tengah laut yang tidak bertepian. Membiarkan semilir angin menerpa permukaan wajahnya yang semakin hari terlihat semakin membulat.


"Calon bayi, apa kau suka?" tanya Raisa dalam hati sembari memegangi perut nya. Seakan akan saat ini dia tengah berbicara dengan calon anak nya.


"Maaf, mama membuat mu lahir tanpa seorang papa. Tapi, kamu tidak perlu khawatir. Mama akan menjadi papa dan mama yang baik untuk mu"


Senyum manis terukir indah, menatap langit jingga yang menandakan hari hampir malam.


"Apa kau tidak akan pulang?"


Raisa tidak menoleh, ia tahu siapa pemilik suara itu.


"Aku masih ingin di sini"


Hufff haaa...


Dave menghela nafas berat, adik sepupunya ini sangat keras kepala.


"Apa kau lupa? wanita hamil tidak boleh berkeliaran di luar rumah ketika petang menjelang malam!" omel Dave.


"Huh, kau ini sungguh cerewet. Aku bosan mendengar nya!" gerutu Raisa beranjak pergi.


"Di bilang malah pergi, dasar ibu hamil!"


"Tunggu aku!!!"teriak Dave mengejar Raisa yang sudah berjalan jauh dari nya.


Mereka kembali ke rumah milik keluarga Turhan. Raisa di sambut baik di sana, mereka terlihat sangat menyayangi Raisa.


"Nak, kenapa kamu masih di luar. Kamu sedang hamil. Gak boleh sering sering di luar, apalagi petang begini" kata nyonya Turhan, ia menuntun Raisa duduk di sofa.


"Aku sudah bilang ma, tapi gak mau denger" celetuk Dave.


Raisa mendelik tajam padanya, mulut lemes Dave sangat berbahaya ternyata.


"Halo semuanya!!!"


Dave, Raisa dan nyonya Turhan menoleh, menatap seorang gadis yang baru saja masuk ke rumah mereka.


"Eh, ada tamu. Kok aku gak tahu yah?" ucap gadis itu sembari mendekati Raisa.


"Memangnya kamu siapa? harus tahu urusan rumah orang " cibir Dave.


"Kamu yah, selalu sinis sama aku. Maksud aku, jika aku tahu ada tamu wanita cantik begini, kan aku jadi seneng, ada temen" ucap gadis itu mendengus pada Dave, lalu tersenyum pada Raisa.


"Aku Julia, kamu?"


Raisa membalas senyum Julia, ia menyambut uluran tangan Julia dengan senang hati.


"Aku Raisa, sepupu Dave"


"Haa...Syukur kah, aku pikir kekasihnya" Julia bernafas lega.


Raisa kaget, gadis ini hampir sama dengan nya.

__ADS_1


"Kamu kaget yah? di kota ini, semua orang tahu, Dave itu jodoh ku. Jadi aku sangat khawatir jika ada wanita lain datang dan merebut jodoh ku." cerocos Julia panjang lebar. Nyonya Turhan hanya menggeleng kepala melihat tingkah gadis ini, ia sudah sangat biasa melihat nya.


"Kamu jujur sekali, apa tidak takut di tolak Dave ?" sahut Raisa.


"Kenapa aku takut? jika dia tolak aku, maka aku akan mengikutinya kemana pun ia pergi sampai ia mau menerima ku!"


"Kemarin kamu gak ikut sama dia"


"Yah, karena dia pergi gak bilang" lenguh Julia sendu.


Raisa melirik kakak nya, Dave terlihat acuh dan jengah mendengar cerita Julia.


"Kak, gimana?" sikut Raisa.


"Apa nya?" balas Dave acuh.


"Julia" ucap Raisa lagi.


"Biasa saja, dia bukan tipe ku" jawab Dave santai.


Raisa mengerut kesal, kakaknya sungguh menyebalkan. Tidak punya hati pula.


"Tenang saja, dia tetap tipe ku" ungkap Julia senang.


What??? sudah di tolak tapi masih tetap tertawa dan mengejar? wanita macam apa dia??. Raisa terheran heran pada Julia.


"Hahaha....Raisa kamu jangan kaget yah sama mereka, dari dulu mereka selalu seperti ini, Tante sampe bosen liatnya"kata nyonya Turhan.


Bug~


"Ih apaan sih Dave, lempar lempar segala" gerutu Julia menatap Dave kesal.


"Eh aku senang deh, ternyata ada kamu di sini. aku pikir gak bakal ada temen" ungkap Raisa.


"Tenang aj, aku bakal temenin kamu kok" balas Julia tersenyum.


"Aku mau pergi dulu, malas di sini" ungkap Dave.


"Eh aku ikut!" teriak Julia bergegas menyusul Dave.


"Mereka lucu yah bi"


"Iya, sejak kecil sudah bersama dan sikap Dave kepada Julia tetap seperti itu" jelas nyonya Turhan.


Raisa mengangguk mengerti, ia merasa ada yang lain dalam diri kakaknya, ia tahu bahwa kakaknya memiliki rasa pada Julia.


"Kenapa senyum senyum gitu? kamu ngira mereka saling suka yah?" tebak nyonya Turhan.


Raisa mengangguk, " Dari mata mereka aku sudah bisa lihat, saling mengejek tapi saling cinta"


"Kamu memang pintar" ungkap nyonya Turhan.


Setelah mengobrol sebentar bersama nyonya Turhan, Raisa memutuskan untuk beristirahat. Tubuh nya terasa sedikit lelah hari ini.

__ADS_1


Berbaring menatap langit langit kamar barunya. Raisa kembali teringat dengan rumah besar milik Yoga. Ia sering berbaring di atas ranjang besar itu dan menatap langit langit kamar nya. Raisa tersenyum, perlahan ia mengenang masa masa indah bersama mantan kekasihnya itu, ayah dari calon bayi nya.


Tapi, semua itu hanya masa lalu. Rasa sakit kembali menjalar di dalam hatinya saat Yoga, dan wanita itu melintas di benaknya.


"Ah kenapa aku mengingat pria brengsek itu!" dengus Raisa mulai memejamkan matanya lalu tertidur lelap.


...----------------...


Di lain tempat, waktu yang berbeda. Yoga tengah duduk di tengah tengah ranjang milik Raisa.


Sejak ia memakan mangga muda di malam itu, Yoga tidak mau pergi dari rumah Johan. Ia bersikeras ingin tinggal di rumah itu.


Setiap malam, Yoga akan datang dan tidur di kamar milik Raisa. Terpaksalah Titi pindah ke kamar Johan. Tentu saja hal itu membuat Johan senang. Tapi, dengan kehadiran Yoga di rumah nya malah membuat kerusuhan.


Seperti saat ini, Yoga meminta Johan untuk memasak ayam bakar tepat pukul 12 malam.


"Udah siap belom!!!!!" teriak Yoga keras dari dalam kamar.


Titi yang sengaja berdiri di depan pintu kamar Raisa mendengar teriakan Yoga dan malah berteriak juga mengatakan hal yang sama. Hal itu di lakukan agar di dengar oleh Johan dan Niko yang sedang memasak di dapur.


"Belum!!!" balas Johan dari dapur.


"Belom!!!" ulang Titi keras agar di dengar oleh Yoga.


Jadi, fungsi Titi adalah sebagai robot pelantar komunikasi ketiga pria itu.


Ayam bakar nya pun siap, Johan dan Niko langsung bergegas menuju ke kamar Raisa.


"Ini Tuan, Ayam bakar pedas super nampol telah siap!!" kata Johan dan Niko kompak.


Yoga menatap ayam bakar itu, kemudian menyuruh Niko dan Johan yang memakan nya.


"Makan lah!" kata Yoga tegas.


Niko dan Johan melotot.


"Kamu gila yah?? makanan se pedas ini suruh kami makan!" protes Johan.


"Kenapa? aku pengen nya gitu !! " balas Yoga memaksa.


"Kamu jangan mempermainkan kamu yah, mana ada mengidam membunuhi seperti ini. Apalagi kan Raisa sudah..." ucapan Niko terhenti.


"Susah, jika ingin makan lah. Jika tidak buang lah" kata Titi pelan.


"Sudah meninggal, gak ikutin juga tidak apa apa"lirih Yoga sedih, hatinya kembali tercabik saat kembali mengingat kenyataan bawah Raisa sudah pergi.


"Aku lapar" ungkap Johan. Ia meraih potongan ayam pedas itu, laku memakannya.


"Perut mu bisa sakit!" cegah Niko. Tapi, Johan tidak peduli, ia terus memakan nya. Keringat dan air matanya meleleh semakin deras. Entah karena kepedasan atau kepedihan.


...----------------...


Halo guys makasih yah yang udah like dan komen. Bersiap ke 4 tahun yang akan datang yah.

__ADS_1


__ADS_2