
Hari telah menjelang subuh, saat kemudian keluarga dari Kuala Lumpur akhirnya tiba di Indonesia.
Nyonya Aisyah berserta kedua putra putrinya tampak matanya sembab sejak turun dari pesawat, dan begitu sampai di rumah Kemang, tangis mereka pun kembali pecah.
Tentu saja, sosok Tuan Ardi Subrata yang begitu penuh kasih sayang pada semua cucu dan menantunya membuat yang ditinggalkan merasa sangat kehilangan.
"Maafkan kami baru datang Zia."
Kata Aisyah, seorang kakak ipar yang sangat baik.
Mereka berpelukan lama, saling menangis karena memang sama kehilangannya.
Meski tentu saja, rasa kehilangan terbesar adalah pada sisi Zia, yang sejak awal ia yang tadinya bukan siapa-siapa, begitu akhirnya diterima dengan legowo oleh Tuan Ardi Subrata sebagai cucu menantu, maka langsung seluruh hidupnya pun berubah.
"Bagaimana persiapan pemakamannya?"
Tanya Aisyah pula, saat keduanya akhirnya saling melepaskan pelukan.
Zia mengangguk,
"Sudah Kak Aisha, setelah Kak Ziyan datang, kita akan langsung menuju pemakaman."
Kata Zia.
Aisyah, perempuan berdarah Malaysia yang anggun dan rendah hati itupun mengangguk.
"Mungkin tidak sampai jam delapan pagi, Ayah Ali sudah tiba di Jakarta."
Ujar Aisyah.
Tampak Zion muncul dan menghampiri sang kakak ipar.
Zion yang semula sempat undur diri untuk istirahat sejenak, dibangunkan Aron sang cucu karena keluarga dari Kuala Lumpur telah tiba.
"Kak."
Zion menyalami kakak iparnya, sementara kedua keponakannya, Eva dan Ali yang masing-masing kini Eva telah menjadi dokter, dan Ali mulai mengurus perusahaannya sendiri, sibuk berbincang dengan Zizi dan Shane setelah melakukan penghormatan terakhir kali pada Kakek uyut mereka.
__ADS_1
"Kami akan memakamkan Kakek jika Kak Ziyan telah sampai di sini, karena Kakek pastinya ingin Kak Ziyan juga mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya. Agar ia tenang."
Ujar Zion.
Aisyah mengangguk,
"Terimakasih Zion, pastinya Kakakmu juga ingin melihat wajah Kakek untuk terakhir kalinya, kau pasti tahu bagaimana ia menyayangi sang kakek sejak ia akhirnya bisa berkumpul dengan kalian lagi."
Kata Aisyah.
Zion mengangguk,
"Tentu saja, Kak Ziyan adalah cucu kesayangan Kakek."
Kata Zion.
"Dia sangat bangga dengan Kak Ziyan, dia selalu membanggakan Kak Ziyan pada siapapun."
Tutur Zion pula, yang mendapat anggukan kepala dari Zia.
Aisyah memaksakan senyuman manisnya di antara rasa duka yang teramat dalam.
Kata Aisyah, yang memang sering menemani Ayahnya saat bertemu dengan Tuan Ardi Subrata dahulu, yang saat itu Tuan Ardi Subrata kerap membicarakan sosok Zion sebagai anak muda yang cerdas, berbakat menjadi pengusaha besar, dan juga lembut hati karena selalu baik pada semua orang.
"Nenek besar... Nenek besar..."
Tiba-tiba, terdengar suara anak-anak mendekat, Aisyah menoleh ke arah datangnya suara anak-anak, yang di mana kini terlihat Scot dan Gil berlari ke arahnya.
Aisyah langsung berjongkok, dan merentangkan kedua tangannya.
Scot dan Gil pun menghambur ke arah pelukan Nenek besar mereka.
Anak-anak Zizi memang semuanya memanggil Aisyah sebagai nenek besar, karena Aisyah merupakan isteri si kakek besar, kakak dari kakek mereka.
"Hmm... Lama sekali tak berkunjung ke rumah Nenek besar di Malaysia, kenapa ni?"
Aisyah memeluk dan menciumi pipi kedua cucu adik iparnya.
__ADS_1
"Entah Nenek besar, Mama tidak mau ajak kami main lagi."
Curhat Gil pada Aisyah, si nenek besar.
"Sejak peristiwa yang di mall Malaysia itu Kak."
Kata Zia pada Aisyah,
Aisyah tampak mendongakkan wajahnya untuk menatap Zia.
Zia menghela nafas,
"Yang saat mereka lihat ada salah satu kasir di tempat belanja pakaian di gendongi hantu mantan pacarnya tapi tidak sadar,"
Kata Zia.
"Ooh..."
Aisyah pun tertawa kecil,
"Iya... Iya aku ingat sekarang, yang mereka naik ke meja kasir lalu katanya menarik hantu mantan si kasir itu? Yang kasirnya teriak-teriak karena rambutnya dijambak akibat sang mantan katanya tak mau lepas?"
Tanya Aisyah, yang tentu saja saat itu sampai heboh sekali untuk pembicaraan di mana-mana.
"Zizi tampaknya enggan nantinya mereka akan melakukan kerusuhan di negara orang lain, karena yang malu kan bukan hanya keluarga sendiri, tapi juga seluruh orang Indonesia."
Ujar Zia.
Aisyah tertawa kecil lalu menatap kedua wajah Scot dan Gil yang polos.
"Nah, sekarang Scot dan Gil paham tak? Kenapa Mama dan Papa, juga Kakek dan Nenek tak pernah ajak Scot dan Gil datang ke Malaysia lagi."
Kata Aisyah pada kedua anak Zizi itu.
"Emaknya juga kelakuannya saat kecil tidak jelas, tapi tidak pernah sampai memaksa hantu turun dari gendongan dan yang dijambak malah manusia yang tahu digendong itu hantu saja tidak."
Tutur Zia pula, membuat Aisyah hanya bisa tertawa kecil seraya mengelus-elus kepala Scot dan Gil.
__ADS_1
Di sisi lain, Zizi dan Shane masih terlihat sibuk berbincang sendiri dengan Ali dan Eva.
**------------**