
"Ada apa iniii... Ada apa iniiiii..."
Para penghuni danau berhamburan keluar dari danau karena air tiba-tiba seperti mendidih,
Angin bergulung-gulung disertai hujan lebat seperti badai besar,
Lelembut di dalam hutan terlarang ikut panik, termasuk juga Nenek buaya putih yang berjalan keluar dari pondok kecil miliknya,
"Ad... eh eh... ada apa ini?"
Nenek buaya putih miring-miring hampir jatuh karena bumi para lelembut juga seperti mulai terjadi gempa.
Belum lagi Nenek buaya putih mengerti apa uang sebetulnya terjadi, tiba-tiba sekelompok laki-laki bertubuh ular besar terlihat bergerak menuju ke arah danau,
"Mereka kembali, kenapa?"
Gumam Nenek buaya putih,
Bersamaan dengan itu suara pekik Naga terdengar di kejauhan,
Nenek buaya putih menatap ke atas langit,
"Mungkinkah Bandapati kembali dari bertapa?"
Gumam Nenek buaya putih lagi,
Ular-ular besar itu mengelilingi sepanjang tepi danau, hingga danau pun sampai tak tampak karena tertutup ular-ular yang berjumlah sangat banyak.
Tak lama berselang, datang dari sebelah timur danau yang bisa terlihat dari tempat Nenek buaya putih kini berada, seekor ular besar seperti Naga dengan mata menyala merah,
__ADS_1
Naga berwarna hitam itu seolah mengenakan mahkota dengan permata kehijauan yang menyilaukan.
Suara naga itu memekik nyaring, disambut desis suara pasukan ular bertubuh laki-laki tegap kekar yang terlihat mengerikan,
Nenek buaya putih gemetaran, para lelembut berhamburan dan bersembunyi di tengah gelapnya hutan belantara,
Kenapa mereka kembali?
Naga itu, jelas bukan Bandapati, siapa dia?
Nenek buaya putih yang takut tapi juga penasaran terlihat masuk ke dalam pondok tapi berusaha mengintip untuk tahu apa yang terjadi,
Lalu...
Naga hitam besar itu meluncur masuk ke dalam air danau, pusaran angin seolah berpusat di sana kemudian,
"Naga geni, apa dia yang dimaksud Naga geni?"
Banyak lelembut berbisik-bisik,
Nenek buaya putih mengendap-ngendap keluar, saat pasukan ular satu demi satu masuk ke dalam danau,
Sampai kemudian suasana kembali tenang, air danau tak lagi menggelegak, pun juga dengan angin dan hujan serta suara gemuruh di langit juga tak lagi terdengar,
Para lelembut keluar dari persembunyian, Nenek buaya putih juga sama,
"Naga geni, sepertinya anak keturunan Jaka Lengleng berhasil membangunkan Naga tertua di kaki Gunung Sindoro,"
Kata salah satu lelembut,
__ADS_1
"Yang dulu pernah perang besar dengan Bandapati?"
Tanya lelembut lain,
"Ya, kurasa Bandapati sudah tahu akan terjadi hal-hal semacam ini,"
Nenek buaya putih menatap danau yang kini terlihat tenang, tapi sebetulnya di dalam sana terdapat banyak sekali siluman jahat,
"Apa tujuan ia kembali? Apa mungkin menuntut balas atas kekalahannya hingga Bandapati yang terpilih menjadi penjaga gerbang gaib?"
Gumam Nenek buaya putih,
"Pastinya salah satunya itu,"
Kata beberapa lelembut,
"Ah, aku tidak peduli dengan urusan kedua Naga tua itu, aku hanya memikirkan kita kehilangan tempat tinggal lagi sekarang, dan jelas kita tidak akan diijinkan ikut tinggal di sana."
Sesosok siluman kepiting terlihat galau,
Para lelembut menatap iba siluman kepiting,
"Naga geni terkenal sangat jahat, dia pasti tak akan mengijinkan siapapun mendekat selain pengikutnya,"
Nenek buaya putih terdiam,
Apa harus ia kembali menemui Zia untuk memberitahu soal ini?
**--------------**
__ADS_1