
Marthinus yang telah melaporkan tangkapannya pada Zizi lantas diajak Zizi menuju salah satu ruangan di bagian belakang rumah yang semula dijadikan gudang.
Zizi tampak menggunakan kekuatan jayapada untuk memagari tempat itu dan lantas meminta Marthinus memasukkan kepala keluntung itu ke sana.
"Nanti setelah prosesi pemakaman Uyut selesai, aku akan paksa dia mengaku, jika benar ia mata-mata yang dikirimkan kelompok Alex, maka itu berarti kita harus mulai bersiap lagi Paman."
Kata Zizi.
Ya...
Alex, tentu saja, Zizi akan selalu dalam bayangan mereka yang melarikan diri sejak kali terakhir.
Zizi tahu bahwa kapanpun waktunya mereka pasti akan kembali muncul dan membuat keributan lagi.
Nyatanya, dendam yang diturun-temurunkan dari Paman Jaka Lengleng terus mengintai keluarga Zizi sejak dahulu kala.
Kini, saat di mana telah begitu lama berlalu, tanda-tanda mereka akan kembali sudah mulai tercium dengan jelas.
Zizi dan Marthinus lalu akan masuk lagi ke dalam bangunan rumah, ketika di lantai tiga terdengar Aunty Maria yang histeris pada Scot dan Gil,
"Ada apa lagi itu?"
Zizi pun panik,
Marthinus segera melompat ke lantai tiga, dan mendapati Aunty Maria yang sedang memaksa Scot dan Gil masuk ke dalam kamar.
Zizi sendiri cepat melesat masuk dan langsung menuju lift untuk naik ke lantai tiga.
Namun saat akan naik lantai tiga, Zizi berpapasan dengan Rain yang tampak menggandeng hantu kecil tanpa baju dengan perut buncit dan matanya bolong.
Rain juga sepertinya akan naik lift.
__ADS_1
"Astaga Rain, kenapa kamu bawa-bawa hantu di saat Eyang wafat?"
Zizi sungguh tidak mengerti dengan kelakuan anak-anaknya.
"Rain hanya turun sebentar Ma, Rain pikir Paman Ali sudah datang, ternyata kata Kakek Zion, mereka baru terbang dari Kuala Lumpur, Rain mau balik kamar, lihat hantu ini gendong salah satu tamu, jadi Rain suruh turun dan ikut Rain saja."
Kata Rain.
Zizi menghela nafas,
"Dia butuh rumah Ma, daripada gendong orang dan orangnya jadi sakit, lebih baik Rain buatkan rumah saja di lukisan kampung hantu."
"Rain... Kamu sudah mengumpulkan puluhan hantu di lukisan kampung hantu yang kamu taruh di rumah lukis Alpha."
Ujar Zizi.
Rain tersenyum,
"Mereka aman di sana Ma, dan orang-orang juga aman tidak diganggu mereka."
Kata Rain.
Ia benar-benar heran dengan kebiasaan Rain yang selalu memikirkan nasib para hantu, seolah dia adalah menteri sosial di wilayah para hantu.
"Ya sudahlah, Mama tahu itu sudah jadi hobimu."
Kata Zizi akhirnya.
"Ah, Bobi, ke mana dia?"
Tanya Zizi tiba-tiba ingat Bobi anaknya yang emosian dan suka asal hajar hantu.
__ADS_1
"Entahlah Ma, dari tadi Rain turun hanya lihat Aron di luar sedang dikerumuni hantu cewek."
Kata Rain.
Ah ya sudah jelas, dia idola para cewek. Batin Zizi.
Zizi kemudian naik ke lift yang diikuti Rain yang menarik hantu kecil mata bolong.
Melihat hantu itu, Zizi jadi ingat hantu nenek penghuni lift di hotel zombie milik Papanya yang kini dikelola olehnya.
Ah tidak... tidak...
Lebih tepatnya, dikelola Paman Dimas, mantan kepala pengawal Alpha Centauri sebelum akhirnya memilih pensiun menjadi pengawal dan fokus bekerja di zombie hotel.
Zizi sendiri hanya namanya saja dicantumkan sebagai direktur utama, tapi sejatinya yang bekerja mengurus semuanya adalah Paman Dimas, yang sebagai wakil direkturnya.
Di lantai dua, si bantal guling alias pocong yang basah kuyup tampak disuruh ke kamar Rain di depan kamarnya.
"Apa yang akan aku alami lagi kali ini? Aku datang ke sini karena aku pikir banyak kerumunan ada banyak makanan, tapi ternyata malah mendapatkan intimidasi seperti ini, sungguh ini membuatku sangat terkoyak-koyak hatinya."
Kata si pocong mencurahkan isi hatinya yang terdalam.
Kain kafan yang membungkus tubuhnya kini begitu lepek karena basah kuyup, sungguh menyedihkan memang.
"Aku sebetulnya ingin memotekmu jadi dua, tapi aku akan kena marah lagi nanti, itu sebabnya kamu masuk saja sana ke kamar Rain, dia tidak akan membulli."
Kata Bobi.
Si pocong yang basah kuyup menatap Bobi masih dengan ragu,
Ternyata benar rumah ini terlalu berbahaya, dua anak di lantai tiga, dan satu anak lagi di lantai dua ini begitu mengerikan.
__ADS_1
Rasanya si pocong sungguh merasa menyesal sudah tersesat di rumah ini hanya karena rasa lapar dengan harapan akan dapat makanan enak setelah sekian lama ia menjadi pocong musafir.
**------------**