
"Aku tidak tahu jika dari perkampungan hantu di sekitar sini ada jalan menuju tempat ini."
Lirih Zia.
Siluman buaya putih itu tersenyum,
"Semua karena Nona Zizi, perjalanannya membersihkan Jayapada dahulu membuat seluruh gerbang gaib terhubung, termasuk ke Tanah Dalu."
"Oh, benarkah?"
Zia jelas tak menyangka hal itu bisa terjadi. Tampak kemudian Zia menatap sekeliling.
Danau itu, hutan itu, semua masih terasa sama seperti saat dulu ia masuk ke dalam tempat ini pertama dan kedua kali.
Saat di mana ia bertemu untuk pertama kalinya bertemu dengan Jaka Lengleng dan Gendis Arum, raja dan ratu siluman ular yang masih satu garis keturunan dengan Zion, suaminya.
"Tapi..."
Zia kemudian menatap siluman buaya putih yang kini menuntunnya menuju satu tempat,
"Bagaimana bisa kau tahu aku ada di tempat tadi?"
Tanya Zia merasa curiga tiba-tiba,
Siluman buaya putih itu terkekeh kecil,
"Aku tadi mendengar beberapa siluman setengah kera yang dulu melarikan diri dari tahanan kami berada di lokasi sana."
"Siluman setengah kera?"
Zia mengerutkan kening,
Siluman buaya putih itu mengangguk,
"Sudah lama sekali sejak kami memutuskan untuk tidak lagi memangsa manusia, lantas ada sebagian siluman yang berada di bawah kekuasaan kami memberontak, mereka lantas kami jadikan tahanan karena pernah mengambil korban lagi di sekitar desa."
"Mereka yang melakukan, lalu kalian yang mendapatkan imbasnya?"
Tanya Zia.
Siluman buaya putih itu mengangguk.
"Suamiku mati di tangan Bandapati, masyarakat desa membuat pemujaan pada nenekmu, mereka meminta memusnahkan kami."
"Nenek?"
Zia menghentikan langkahnya sejenak, nenek jelmaan siluman buaya putih itu pun mengangguk,
"Kapan kejadiannya?"
Tanya Zia pula.
"Sebelum ia bertapa."
"Ah pantas aku tidak tahu."
Lirih Zia.
Si nenek jelmaan siluman buaya putih tersenyum getir.
"Suamiku binasa, dan aku memohon pada Bandapati untuk mendengarkan penjelasanku, setelah akhirnya ia membuktikan jika bukan kami para buaya putih yang membuat ulah, maka kami akhirnya diberi tempat kekuasaan baru di sini."
"Siluman setengah kera itu, ke mana mereka?"
__ADS_1
"Mereka abdi setia Jaka Lengleng lantas dikalahkan Bandapati dan diberikan pada kekuasaan kami untuk di tahan, namun, seorang dukun sakti membantu membebaskan mereka, dan sepertinya melakukan perjanjian dengan mereka untuk satu tujuan."
"Tujuan apa?"
Tanya Zia.
"Apalagi jika bukan untuk memperkaya diri Nyonya."
"Ah begitu kah?"
Zia kembali terperangah, kali ini ia benar-benar tidak menyangka sama sekali.
"Bagaimana bisa di jaman sekarang masih ada orang ingin kaya dengan cara seperti itu?"
Lirih Zia, nenek jelmaan buaya putih terkekeh-kekeh.
"Tidak ada yang berubah pada pola hidup manusia selain mereka lebih pandai memakai topeng untuk menutupi kebusukan mereka."
Ujar nenek jelmaan siluman buaya putih.
Zia terdiam, karena sepertinya apa yang dikatakan nenek itu benar adanya.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan,
"Siluman itu dipasang di jalan raya itu untuk mengambil tumbal sendiri, apa begitu maksudnya?"
Tanya Zia.
Nenek siluman buaya putih mengangguk,
"Mereka haus darah, manusia yang bekerja sama dengan mereka haus harta."
"Harta dari alam gaib?"
"Harta di alam kami berlimpah ruah, karena jelas kami tak membutuhkannya. Manusia yang serakah sangat menyukai emas permata, kami membuat semua itu menjadi daya tarik untuk menjerat para manusia yang serakah."
"Darimana sebetulnya semua itu berasal Nek?"
Tanya Zia.
"Dari jaman dulu, saat manusia serakah di jaman dulu menimbunnya di bumi, ada juga yang mengalami satu peristiwa seperti tenggelam di lautan, atau juga terkubur karena satu bencana."
"Kalian menguasai semua itu kemudian?"
"Ya. Apapun yang bersifat menyilaukan, itu adalah rumah yang nyaman, kami menguasainya, lalu akan menguasai manusia-manusia yang ingin mendapatkannya pula."
Zia tampak mantuk-mantuk mengerti betapa ternyata keserakahan manusia adalah permainan yang menyenangkan untuk mereka.
"Para siluman setengah kera itu makin hari akan makin jahat jika dibiarkan, saya berusaha memburunya kapanpun mendengar mereka beraksi. Saya muncul di sana setelah ada anak buah saya memberitahukan bahwa mereka siluman setengah kera memnuat ulah."
"Kau mendapatkannya?"
Tanya Zia.
Nenek itu menggeleng,
"Kami kehilangan mereka lagi, karena terlambat. Saat kami mencoba mencoba kembali ke tempat kami, justeru kami mendapati salah satu penjaga tempat ini yang masih bagian dari kami mengabarkan bahwa ada seorang manusia masuk ke hutan terlarang."
"Apa dia yang kamu sebut kemungkinan adalah cucuku?"
Tanya Zia.
"Ya, dia jelas memiliki aura anda Nyonya, dan juga aura Bandapati pastinya."
__ADS_1
Zia tampak tak terkejut kali ini, karena jika memang benar dia adalah Bobi, maka memang sudah tak diragukan lagi, anak itu memang pastinya pewaris Jayapada selanjutnya.
"Dia hampir menjadi korban pasukan para Banaspati di tengah hutan, tampaknya dia sangat pemberani Nyonya, tapi dia masih terlalu kecil jika harus turun berhadapan dengan para hantu berkekuatan tinggi."
"Ya aku sudah berulangkali mengingatkan Zizi, kalau anaknya berurusan dengan Pocong, Kuntilanak atau tuyul dan lain-lainnya tidak masalah, tapi jangan sampai dengan hantu-hantu dan siluman yang kekuatannya sudah jauh di atasnya."
"Termasuk dua cecunguk tadi Nyonya?"
Nenek jelmaan siluman buaya putih itu rasanya menyebutkan cucu Zia yang membuatnya terintimidasi saja tidak ikhlas.
Zia jadi nyengir tak enak,
"Maafkan mereka Nek, mereka hanya suka main-main saja, tidak pernah serius,"
Kata Zia.
"Tapi itu berdampak sangat serius untuk kami para lelembut Nyonya."
Kata si nenek seolah mencurahkan hatinya yang tersayat-sayat.
Zia tambah nyengir,
"Maaf ya Nek,"
Lirih Zia.
Nenek siluman buaya putih itu kemudian membawa Zia ke satu tempat di mana kini seperti sebuah rumah yang bentuknya sama seperti yang Zia masuki pertama kali tadi.
Nenek siluman buaya itu membuka pintu rumah tersebut, dan kali ini apa yang ada di dalam sana adalah sama persis dengan yang ada di dalam bayangan Zia.
Satu dipan kayu kecil yang kayunya sudah lapuk berada di sana, yang di mana di atasnya terlihat Bobi terbaring.
Zia yang melihat cucunya terbaring lemah tentu saja langsung melompat ke arah sang cucu untuk meraih ke dalam pelukannya.
"Dia tidak apa-apa Nyonya, hanya sedang masa pemulihan saja."
Kata nenek buaya putih.
"Apa aku bisa membawanya pulang Nek?"
Tanya Zia.
Nenek jelmaan buaya putih itu mengangguk,
"Tentu Nyonya, tapi tunggu saja dia bangun, jika tidak, maka jiwanya akan tertinggal di sini."
Kata si nenek jelmaan buaya putih,
Zia pun mengangguk setuju.
Zia lantas melepaskan pelukannya pada Bobi sejenak.
Zia menatap nenek jelmaan buaya putih untuk mengatakan sesuatu, saat tiba-tiba ia ingat tadi ia masuk ke tempat itu bersama Arya.
Tapi...
"Kak Arya, ke mana dia Nek?"
Tanya Zia yang baru sadar.
Nenek jelmaan buaya putih yang sepertinya juga melupakan sosok Arya pun lantas langsung ikut panik.
**--------------**
__ADS_1