The Pandawa

The Pandawa
9. Waspada


__ADS_3

"Kalian berperan apa di sini?"


Tanya Aron pada Pocong dan hantu kecil mata bolong.


"Jadi hantu lah, masa jadi rumput ilalang."


Jawab Pocong.


Bzzt...


Sabar... Sabar... Orang tampan harus sabar. Batin Aron.


"Dia dilempar dari lantai tiga lalu diguyur air oleh Scot dan Gil, mereka makin ke sini makin kebangetan kalau ngerjain hantu."


Kata Bobi lagi pada Aron,


"Jadi dia basah kuyup begitu bukan habis renang?"


Aron menunjuk si pocong.


"Lah, kamu pikir aku ikan buntal? Pake renang segala?"


Si pocong benar-benar tidak habis pikir, setelah ia dilecehkan secara fisik, kini ia dilecehkan secara perasaan.


Sungguh keluarga ini memiliki generasi yang sangat tidak peka dan mengerti perasaan mahluk lain.


Pocong juga punya hati, apa mereka tidak tahu? Ah pasti karena mereka adalah tempe, itu sebabnya mereka tidak tahu.


"Jadi bagaimana? Apa yang sedang kalian bicarakan tentang Eyang Jaka Lengleng?"


Tanya Aron.


"Sudah jelas, dengan adanya penyusup, kita berarti harus mulai bersiap menghadapi musuh, kalian ingat kan Eyang Bandapati pernah berpesan saat kita masih awal masuk SD?"


Tanya Bobi.


Rain dan Aron mengangguk.


"Sekarang Eyang Bandapati sedang bertapa, kalau ada apa-apa, kita berarti harus siap menghadapi semuanya sendiri."


"Kan ada Mama dan Nenek Zia. Papa juga ada, Aunty Maria, Paman Kimus juga ada."


Ujar Aron.


"Nenek Zia? Kamu lupa? Nenek Zia kan encoknya sering kambuh,"


Kata Bobi.


"Ah iya, Aunty juga sekarang sejak Scot dan Gil makin besar, sedikit-sedikit pakai koyo."


Kata Rain.


"Ya, yang benar-benar masih hebat cuma Mama dan Papa kita,"


Kata Bobi.


Aron tampak berdiri dari duduknya,


"Kulkas kamarmu ada cemilan atau semacamnya Kak Rain?"


Tanya Aron sambil melangkah menuju kulkas di kamar sang kakak sulung.


"Masih ada buah, kue coklat yang kamu kasih dua hari lalu juga masih ada."


Kata Rain.


"Ah kenapa tidak dimakan? Kue yang dari Sasa?"


Tanya Aron sambil membuka kulkas.


"Ah mana aku tahu, setiap hari kamu dapat puluhan kue dan hampers, sudah macam pejabat saja."


Ujar Rain.


"Coklat yang segede gaban juga masih itu di kamarku, di kulkas."


Kata Bobi.

__ADS_1


"Ooh ya, itu dari Vivi."


Ujar Aron yang kini tampak mengambil apel fuji dari dalam kulkas.


"Masih belum SMA sudah begitu amat cewek jaman sekarang, meresahkan."


Kata Rain.


Bobi cekikikan.


"Aron saja yang berlebihan tebar pesona, hantu cewek yang dibunuh trus dibuang ke selokan saja seminggu lalu baru mau cabut ngikutin terus,"


Kata Bobi pula,


Aron tertawa sambil berjalan kembali ke tempat duduknya semula.


"Dia mengikutiku hampir satu bulan, sudah dimarahi Aunty tetap saja mengendap-ngendap masuk ke kamar."


"Lalu berhenti ngikutinnya kenapa dia? Ketemu Mama?"


Tanya Rain.


Aron menggigit apel nya, dan Bobi yang menjawab,


"Aku tabok kepalanya."


Kata Bobi santai.


"Hah? Serius? Gila kamu, apa tidak kasihan?"


Rain yang berhati sangat baik itu tentu saja merasa iba,


"Tuh yang minta."


Bobi menunjuk Aron yang lagi-lagi tertawa,


"Hadeh kau ini, persis buaya darat Ron, tebar pesona sembarangan, giliran banyak yang kena, mereka diperlakukan semena-mena, ati-ati kamu nanti kena karma."


Kata Rain.


"Karma apaan... Tidak akan lah."


"Karma gantian kamu yang kejar-kejar cewek, mending kalau ceweknya manusia, kalau dari kalangan hantu, mampuslah kau."


Ujar Rain pula.


Aron yang sedang mengunyah gigitan apel di dalam mulutnya pun langsung keselek,


Uhuk... uhuk... uhuk...


**--------------**


Zizi di kamar Scot dan Gil akhirnya berhasil memaksa dua walang sangit itu mau tidur.


Tentu saja setelah ada acara drama ribut dulu, dan Zizi harus keluar sungutnya.


"Ini pasti doa Mamamu Zi."


Ujar Maria yang duduk di atas lemari pakaian Scot.


Zizi menghela nafas sambil membenahi letak selimut di atas tubuh kedua anaknya.


"Mamamu dulu sering darah tinggi karena kelakuanmu, sekarang kamu akhirnya merasakan apa yang Mamamu rasakan."


Kata Maria.


"Bukan doa ini sih, lebih tepat jika disebut kutukan."


Sahut Zizi, yang lantas disambut gelak tawa Maria.


"Aunty jaga mereka saja ya, aku mau turun lagi ke bawah, Papa sepertinya harus istirahat, biar aku yang temani Kak Seng."


Kata Zizi pada Maria.


"Ya pergilah, sebentar lagi mungkin keluarga dari Malaysia datang."


Ujar Maria.

__ADS_1


"Besok setelah prosesi pemakaman Uyut, aku akan coba tanya si kepala keluntung yang dibawa Paman Kamus."


"Ya memang dia harus diintrogasi, karena melihat pergerakannya, sepertinya dia mata-mata Zi."


Ujar Maria.


Zizi mengangguk.


"Ah, kau juga harus pastikan agar Bobi jangan lagi suka bergerak sendirian, sepertinya dia butuh pengawasan."


Kata Maria lagi.


"Percuma kalau dia yang mengawasi manusia, tidak akan ada yang bisa menyamai pergerakannya."


"Jangan manusia, hantu saja."


"Aunty?"


Tanya Zizi.


Haiiish... Maria Mendesis.


"Aku sudah terlalu tua jika harus terbang cepat hanya untuk menyusul Bobi."


Kata Maria.


Zizi tertawa.


"Stok koyo masih aman Aunty?"


Tanya Zizi.


Haiiish... Maria mendesis lagi,


Zizi makin terpingkal-pingkal.


"Maaf Aunty, tugasmu ternyata saat ini makin berat. Karena sepertinya lima anakku harus ada dalam pengawasan semua."


"Tapi Rain dan Aron paling mendingan, mereka tidak terlalu banyak berbuat ulah."


Kata Maria.


Zizi menggelengkan kepalanya,


"Justeru dua anak ini yang paling rentan bisa untuk pintu masuk penyusup."


Kata Zizi.


"Lah kenapa?"


Maria bingung,


"Rain, dia itu tadi saja ketemu aku bawa hantu anak kecil matanya bolong."


Tutur Zizi.


"Dia menyelamatkan hantu lagi?"


Zizi mengiyakan pertanyaan Maria.


"Puluhan hantu dia buatkan rumah di lukisan kampung hantu. Dia akan memenuhi seluruh galeri milik Alpha Centauri dengan lukisan rumah dan kampung hantu."


Kata Zizi.


Maria pun terbahak-bahak,


"Kalau Aron, apa masalahnya dengan dia?"


Tanya Maria pula.


Zizi menghela nafas


"Aunty pura-pura tidak tahu? Sudah jelas Aron bermasalah dengan kebiasaannya tebar pesona di mana-mana membuat segala macam hantu perempuan berdatangan."


Kesal Zizi.


"Ah ya ya... termasuk hantu gadis selokan itu,"

__ADS_1


Kata Maria, yang ia ingat sudah memarahi hantu itu.


**--------------**


__ADS_2