
"Ada apa itu?"
Shane tampak memandang ke arah perkampungan hantu yang kini dilalap api,
"Sepertinya terjadi huru-hara."
Kata Ali.
Martinus yang tak ingin membuang waktu tampak langsung melesat menuju perkampungan hantu.
Kepala-kepala berbentuk bola api yang berterbangan memenuhi desa, Marthinus pun langsung mengeluarkan tongkat mata peraknya.
Ali dan Shane serta Zizi menyusul Marthinus, mereka lantas langsung membantu Marthinus menghadapi mereka.
Keempatnya tampak siaga penuh, kepala-kepala yang seperti bola-bola api itu menyerang mereka tanpa ampun.
Mereka berempat dengan gerakan yang cepat melompat, menendang dan memukul setiap kepala yang mengarah pada mereka.
Zizi bahkan sempat menangkap satu kepala yang berapi-api, dan lantas membantingnya ke tanah.
Shane yang khawatir Zizi terlalu lelah pun berusaha melindungi dan membuat Zizi tak perlu menghadapi terlalu banyak mahluk-mahluk itu.
Satu persatu mahluk-mahluk itu bisa dibinasakan, sebagian lainnya ada yang melarikan diri.
Para hantu penghuni perkampungan yang bersembunyi dalam gelap tampak mengintip dari celah-celah rimbun dan pepohonan di hutan sekitar perkampungan.
Mereka ingin tahu siapa yang datang dan menghalau para kemangmang.
"Semua amankah?"
Tanya Shane begitu akhirnya para mahluk serupa bola api itu tak lagi terlihat di sana.
"Ya, semua aman."
Kata Marthinus, yang lantas disambut anggukkan Zizi dan Ali.
"Kau tidak apa-apa sayang?"
__ADS_1
Tanya Shane.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya lapar."
Sahut Zizi, membuat Shane dan Ali jadi saling berpandangan.
Para hantu penghuni perkampungan pun lantas berbondong-bondong melayang memasuki perkampungan lagi.
Mereka tampak bersorak sorai menyambut kemenangan Zizi dan kawan-kawan.
"Terimakasih... Terimakasih..."
Mereka mengelilingi Zizi, Shane, Ali dan Marthinus.
"Siapa mereka?"
Tanya Zizi pada para hantu yang kini mengelilinginya, sementara yang lain lagi berusaha memadamkan api yang masih tersisa membakar rumah-rumah penduduk perkampungan hantu.
"Kemangmang, mereka mahluk dari hutan jauh, mereka telah menghanguskan banyak sekali kampung para hantu agar para hantu menjadi pengabdi majikannya."
Kata salah satu hantu,
Tanya Zizi,
"Ya, kakek dukun penguasa wilayah ini, ia memiliki banyak pasukan dari bangsa lelembut untuk membantu manusia mencapai hajatnya, mengambil banyak tumbal di jalan-jalan raya untuk pesta para pengikutnya."
Zizi ternganga,
"Maksudnya, kakek tua yang mukanya ngeselin?"
Zizi jelas ingat betul wajah kakek itu karena baru kali ini ada orang yang bisa membuatnya lumayan kesakitan.
"Nona tahu rupanya."
Kata salah satu hantu,
Zizi menghela nafas,
__ADS_1
"Karena dia kami jadi terjebak di sini, karena dia aku kehilangan salah satu anakku dan aku harus mencarinya saat ini."
"Anak?"
Tanya para hantu.
"Ya anakku."
Kata Zizi.
Para hantu lantas menoleh ke arah satu-satunya rumah yang tak terkena serangan. Rumah paling reyot dan tua di sana.
"Kami sempat melihat nenek buaya datang bersama seorang perempuan tadi, nenek buaya jarang sekali masuk ke dunia kami dan kemudian menuju dunia manusia jika ia tak memiliki keperluan."
Kata salah satu hantu.
"Apa mungkin itu Mama..."
Zizi menoleh ke arah Shane, lalu juga kepada Ali.
Mereka pun mengangguk seakan berpikir hal yang sama.
Ya, tentu saja...
"Perempuan itu manusia, tadi juga kami sempat melihat none Belanda masuk ke sana."
Kata salah satu hantu lagi.
"Ah Aunty."
Zizi jelas langsung tahu jika itu adalah Maria.
Siapa lagi none Belanda yang suka ngelayab ke mana-mana jika bukan Maria.
"Kalau begitu, sebaiknya kita ke sana, lalu temukan Mama dan Bobi dulu, mungkin mereka ada di sana. Baru setelah itu, kita urus si kakek tua."
Ujar Zizi.
__ADS_1
**-------------**