
Iring-iringan mobil yang mengantar jenazah Tuan Ardi Subrata terlihat mengular di sepanjang jalan kawasan elite Jakarta Selatan.
Mobil Pengawal yang membawa para pengawal senior tampak memimpin iringan di belakang mobil polisi.
Mobil yang membawa jenazah tampak berada di belakang para mobil pengawal, barulah kemudian disusul mobil rombongan para keluarga yang terdiri dari empat mobil mewah, dan setelah itu disusul dua mobil pengawal lagi, lalu mobil para kolega yang entah berapa mobil hingga mengular luar biasa.
Orang-orang dari yayasan yang menaungi panti-panti anak yatim dan orang jompo yang semuanya gratis tidak dipungut biaya sama sekali juga ikut mengiring dengan dua bus termasuk perwakilan anak-anak yatimnya.
Sungguh, melihat yang demikian memperlihatkan dengan jelas bagaimana sosok Ardi Subrata semasa hidupnya.
Ia orang kaya yang hartanya melimpah ruah dan kekayaan itu bermanfaat bagi dirinya karena bisa berbagi dengan ratusan bahkan ribuan orang.
Bisa mengulurkan tangannya kepada siapapun yang datang membutuhkan pertolongannya.
Di dalam mobil jenazah, Ziyan saudara Zion tampak tak kuasa meneteskan air mata terus menerus.
Ia memang memilih duduk di mobil yang membawa jenazah sang Kakek. Tak sampai melihat Kakeknya menghembuskan nafas terakhir membuat Ziyan yang baru bisa datang dari New York begitu terpukul.
Hal itu membuatnya ingin terus mendampingi kakeknya hingga nanti masuk ke liang lahat untuk beristirahat selama-lamanya.
Pemakaman yang dipilih oleh Zion dan juga telah disetujui Ziyan bukanlah pemakaman elite layaknya orang ternama lain.
Pemakaman itu adalah sebuah tanah kosong yang sangat luas di satu tempat di sekitar Bogor.
Tanah itu sudah lama Zion beli dari seorang kenalan yang sempat datang meminta dibantu keuangan karena usahanya hampir bangkrut.
Tanah yang semula ingin Zion bangun untuk membuat restoran bertema alam itu akhirnya gagal karena ternyata penunggu di sana tak mau berkompromi.
Hari pertama di survei untuk persiapan pembangunan, beberapa orang itu langsung kesurupan.
__ADS_1
Zia yang akhirnya turun tangan saat itu, akhirnya mencoba meminta ijin pada di penunggu, tapi ditolak atas alasan karena ia sudah tinggal di sana ratusan tahun dan telah memiliki ratusan anak cucu yang juga tinggal bersamanya.
Kelak, jika wilayah itu nekat Zion bangun tempat, maka ia pun tak mau menjamin keselamatan manusia-manusia yang berkegiatan di sana.
Karena bagaimanapun, manusia-manusia itulah yang dianggap mengganggu tempat tinggal mereka yang telah ratusan tahun hidup dengan tenang.
Ya...
Dalam penglihatan Zia, di sana adalah sebuah perkampungan orang-orang jaman dulu yang terlihat sudah banyak sekali rumah.
Rumah-rumah dari papan bilik dengan lantai masih dari tanah, jalanan yang hanya ditata dengan batu belah, dan bentangan sawah yang hijau menyejukkan mata.
Bukit hijau menjulang menjadi latar pedesaan itu, termasuk juga dengan suara suling sunda yang sesekali terdengar begitu syahdu di telinga.
Dan akhirnya...
Zia pun meminta pada Zion untuk membiarkan saja tanah itu tetap kosong, andaikata harus dipergunakan, maka Zia memberikan saran untuk menjadikannya pemakaman pribadi keluarga mereka saja.
Beristirahat dengan tenang di dekat sebuah kampung asri yang damai dan jauh dari hingar bingar dunia saat ini yang telah banyak merusak hati serta pikiran orang-orang.
Sayup angin dari banyak pohon rindang yang banyak tumbuh di tanah kosong tersebut terasa menyambut iring-iringan mobil jenazah Tuan Ardi Subrata.
Beberapa mahluk tak kasat mata mengintip dari banyak celah batas dunia mereka dan dunia manusia.
Mereka melihat banyak sekali orang turun dari kendaraan.
Orang-orang yang sebagian besar mengenakan baju hitam, dan sebagian lagi menggunakan baju putih.
Tapi...
__ADS_1
Tentu saja yang menarik perhatian para mahluk astral bukanlah manusia-manusia yang banyak itu..
Melainkan, adanya satu hantu none Belanda yang ikut dalam rombongan, dan beberapa mahluk yang bukan seutuhnya manusia.
"Kenapa mereka bisa menjadi bagian dari rombongan? Apa mereka hidup bersama?"
Tanya salah satu lelembut yang kini ada di antara lainnya.
"Mereka bukan manusia, tapi mereka juga bukan hantu, lalu mereka itu apa ya?"
Lelembut lainnya juga terlihat bingung melihat anak-anak kecil yang berjalan di belakang laki-laki bertubuh tinggi besar dan diiringi hantu None Belanda.
"Rombongan yang aneh, mungkin mereka dari bulan."
Kata salah satu lelembut lagi.
Semua jadi cekikikan.
Suara cekikikan mereka yang ramai tentu saja membuat mahluk-mahluk ajaib itu mendengar, dan...
Dua anak paling kecil dalam rombongan yang melihat ke arah mereka tampak langsung menyeringai mengerikan,
Tatapannya seperti tatapan berniat jahat, membuat para lelembut langsung berlomba melarikan diri untuk sembunyi.
"Sudah jelas mahluk itu jahat-jahat."
Kata para lelembut.
**-----------**
__ADS_1
(Hihihi kebalik)