The Pandawa

The Pandawa
20. Ternyata


__ADS_3

Setelah semua akhirnya pergi meninggalkan tempat di mana mereka terpaksa berhenti, Zia akhirnya dengan diantar Arya, pergi bersama nenek buaya putih menuju sebuah perkampungan siluman buaya di sekitar sana.


Zia sebetulnya meminta Arya untuk tidak usah ikut masuk ke dunia nenek siluman, tapi Arya tentu saja tak bisa meninggalkan Zia seorang diri.


Ya...


Bagaimanapun, Zia sudah ia anggap sebagai orangtuanya sendiri. Ikut hidup di rumah Zia saat masih kecil, dan saat ia baru diangkat menjadi polisi saja sudah membuat Arya merasa benar-benar berhutang budi begitu banyak pada Zia.


"Tidak apa Bik, biar saya temani sampai semua urusan selesai, bila perlu saya akan temani sampai Bobi ketemu dan juga Zizi serta Shane juga pulang dengan selamat."


Ujar Arya.


Zia tersenyum,


"Nanti kamu akan dicari anak-anak buahmu Kak Arya."


Kata Zia.


Arya menggeleng,


"Mereka sudah tahu harus bagaimana, dan mereka juga tahu jika saya akan mengantar Bibik sebagai orangtua saya."


Ujar Arya.


Zia terlihat jadi berkaca-kaca karena terharu,


Ah Zia jadi ingat saat pertama kali Arya tinggal di rumahnya di Bogor.


Arya yang begitu penurut, yang begitu sabar dan begitu baik menemani Zizi tumbuh layaknya seorang kakak.


Sayangnya memang mereka tidaklah berjodoh, karena Zizi tentu saja membutuhkan jodoh yang jauh lebih kuat daripada dirinya.

__ADS_1


Yang bukan hanya bisa menjadi pendamping di dunia manusia, tapi juga bisa menemani Zizi kala harus menghadapi masalah di dunia lain.


"Lewat sini Nyonya."


Kata nenek buaya putih tiba-tiba.


Nenek buaya putih itupun membawa mereka ke sebuah rumah kecil dengan anyaman bambu yang lapuk.


Zia mengikuti, pun juga Arya.


Nenek buaya putih lantas membuka pintu rumah tersebut.


Kayu pintunya yang sudah terlihat lapuk dan reyot berderit dengan suara yang khas ketika Nenek buaya putih itu membuka pintu tersebut.


Dan...


Zia sejenak ternganga, melihat apa yang ada di hadapannya kini jelas bukanlah seperti yang ada dalam bayangannya.


Zia menatap Nenek buaya putih yang terlihat tersenyum puas karena ia tahu jika Zia pasti tidak akan menyangka jika di balik pintu rumahnya itu adalah satu tempat yang jelas Zia tak akan pernah lupa.


"Ba... Bagaimana bisa ini..."


Zia tak mampu meneruskan kalimatnya, karena tentu saja ia merasa begitu takjub dengan apa yang ada di depannya saat ini.


"Danau di hotel wisata, danau Paman Jaka Lengleng."


Lirih Zia menatap hamparan danau di depannya.


"Ya panjenengan lupa kalau dulu menyelamatkan seorang tamu yang ditahan suami saya atas perintah Gendis Arum dan Jaka Lengleng?"


Tanya nenek buaya seperti mengingatkan,

__ADS_1


Zia tampak menatap nenek buaya putih, ingatannya seolah langsung melompat ke saat dulu ia nekat terjun demi menyelamatkan satu nyawa pengunjung hotel.


Mata Zia tampak semakin berkaca-kaca, dan satu tetes bening bahkan tak bisa ia tahan.


"Jadi nenek ini..."


"Saya penguasa danau ini sekarang, setelah Jaka Lengleng musnah."


Kata nenek buaya putih itu sebelum kalimat Zia selesai.


Mendengar hal itu, tentu saja Zia luar biasa terkejut karena tak menyangka sama sekali,


Dan...


"Anak buah saya menemukan cucu anda di tengah hutan dekat sendang suci Nyonya."


Kata nenek buaya putih juga.


"Cu...cucu saya? Di mana? Bagaimana bisa dia tiba-tiba ada di sini?"


Zia jelas saja langsung heboh, karena memang semua kini tengah mencari keberadaan Bobi.


"Bagaimana anda tahu ada anak ditemukan itu adalah cucuku nek?"


Tanya Zia heran,


Nenek buaya putih itu tersenyum, lalu berkata,


"Aura kalian sama Nyonya, dan saya tidak pernah lupa saat melihat anda dulu pertama kali."


Zia terkesiap, lalu...

__ADS_1


**----------**


__ADS_2