
Zia sampai di rumah Bogor, tampak di depan rumah beberapa penjaga langsung membukakan pagar dan menyambut kedatangan sang Nyonya,
Dari dalam rumah, Zion yang sudah bersiap menyambut kedatangan Zia pun tampak keluar dan berdiri di pintu,
Scot dan Gil yang mengikuti kakeknya melongok dari belakang tubuh sang kakek,
"Nenek dan Kak Bobi,"
Sorak mereka ketika melihat Zia dan Bobi turun dari mobil,
"Pah,"
Zia tersenyum ke arah Zion begitu posisi mereka semakin dekat,
"Aku lega kamu kembali, dan Bobi, kemarilah, Kakek sangat cemas memikirkanmu."
Kata Zion pada Bobi yang terlihat langsung mendekati Kakeknya dan kemudian memeluknya erat,
Scot dan Gil yang sudah seperti saudara kembar itupun terlihat ikut-ikutan berpelukan,j
"Waaah, akhirnya kau pulang Bob,"
Rain terlihat bersama Aron keluar dari rumah,
Zia tersenyum melihat semua cucu-cucunya kini telah berkumpul di rumahnya,
"Sudah, ayo masuk dulu,"
Kata Zia mengajak semuanya masuk,
Kelima cucunya itupun langsung berlarian ke ruang tengah keluarga,
"Mereka tidak membuat ulah kan Pah?"
Tanya Zia pada Zion sambil berjalan beriringan,
"Ya, tidak ada yang terjadi karena Zanuba yang menjaga, meskipun Lesti sempat pingsan karena Zanuba."
Tutur Zion,
"Lah, kenapa Lesti pingsan karena Zanuba?"
Zia membulatkan matanya,
"Entahlah, aku juga tidak tahu, tapi sepertinya maksud Zanuba baik, hanya Lesti belum terbiasa melihat mahluk halus."
__ADS_1
Kata Zion,
Zia mantuk-mantuk,
"Seperti kamu dulu kan..."
Gumam Zia sambil tersenyum,
Zion nyengir sekilas,
"Setidaknya aku tidak pingsan."
Kata Zion.
Zia jadi terkekeh.
Di ruang tengah, Bobi digerumut kakak adiknya, tampak Bobi memperlihatkan kuku Naga yang diberikan seorang kakek saat ada tak sadarkan diri,
"Waaaw, keren, apa ini bisa untuk garuk-garuk?"
Tanya Gil, membuat semuanya melihat ke arah bocah tujuh tahun itu,
Rain mencoba mengambil kuku Naga itu, tapi ia tak bisa, seperti kala Zia dan Zizi pula.
"Jadi ini pusakamu Kak Bobi,"
"Ya sepertinya."
Kata Bobi,
"Scot juga ada kekuatan baru yang muncul, apa ini semua pertanda kita sudah dekat dengan para musuh?"
Aron seolah bertanya-tanya,
"Sepertinya begitu, ini kenapa kita akan tinggal dengan Nenek di sini,"
Kata Bobi,
"Kita tidak pulang ke Kemang? Kenapa?"
Tanya Scot,
"Karena kalian harus dalam pengawasan Nenek,"
Zia yang menjawab karena telah sampai di ruang tengah di mana anak-anak berkumpul,
__ADS_1
Kelima anak laki-laki itupun menatap Zia dam Zion,
"Di sini kalian akan aman dijaga dua puluh empat jam keluarga Tante Zanuba,"
Ujar Zia.
"Bagaimana sekolah kami?"
Tanya Aron,
Zia terdiam sejenak,
"Ya, mereka harus sekolah sayang, jangan sampai mereka mengulangi apa yang dilakukan Zizi,"
Ujar Zion yang merasa gagal total dengan putri satu-satunya itu,
"Nanti aku bicara dengan Zizi, supaya Marthinus dan Maria di sini saja."
Ujar Zia.
"Rain dan Aron serta Bobi kan satu sekolahan di SMP, mungkin Martinus cukup untuk mengawal, sementara Scot dan Gil di SD biar aku dan Maria."
Ujar Zia,
Zion menghela nafas,
"Zizi energinya sudah mulai lemah karena terserap Jayapada, aku ingin kita nanti pergi ke tempat Nenek Bandapati, kita harus tahu, apa sebaiknya yang kita lakukan dengan Jayapada, dan..."
Zia menatap semua cucunya,
Rain, Bobi, Aron, Scot dan Gil terlihat sama pula menatap nenek mereka,
Tampak mereka menunggu Zia meneruskan kalimatnya,
"Dan salah satu dari kalianlah pewaris Jayapada, kita harus tahu dan menemukannya sebelum musuh datang menyerang."
Ujar Zia.
"Apa kita bisa sekalian liburan Nek? Ayok Nek"
Aron semangat,
Zia menghela nafas,
"Nanti dulu, kita tunggu hari Selasa Kliwon."
__ADS_1
Jawab Zia kemudian,
**--------------**