The Pandawa

The Pandawa
8. Tiga Kakak Beradik


__ADS_3

Rain tampak berjalan menyusuri koridor di lantai dua menuju kamarnya, hantu kecil bermata bolong tampak mengikuti Rain sambil memegangi ujung kaos Rain.


Tapi, karena si hantu melayangnya lambat, pegangannya jadi setengah menarik kaos Rain.


"Pegangannya biasa aja Tu, leherku jadi bolak-balik kecekek karena kamu tarik-tarik kaos."


Ujar Rain dengan nada sabar.


Hantu bermata bolong itu tampak mendongak ke atas seolah membayangkan Rain itu tubuhnya jauh lebih tinggi dari dirinya.


"Maaf Kak."


Kata si hantu.


Rain menggelengkan kepala nya.


Sudah jadi hantu, tidak bisa lihat pula, kasihan. Batin Rain yang selalu merasa kasihan dengan hantu-hantu pinggiran.


Rain meneruskan langkahnya menuju kamarnya, ketika sudah semakin dekat, betapa terkejutnya ia melihat pintu kamarnya terbuka.


Anak laki-laki itupun cepat bergerak mendekati kamar, dan tampak di sana Bobi sang adik sedang duduk santai di dalam kamar Rain bersama sehelai pocong yang basah kuyup.


"Pocong kehujanan? Bukannya hari ini cerah."


Kata Rain sambil masuk ke dalam kamar mengejutkan Bobi.


Tampak Bobi menoleh ke arah pintu di mana Rain baru datang bersama hantu bermata bolong.


"Siapa itu?"


Tanya Bobi.


"Kenapa kamu tanya dia siapa, kamu sendiri masuk kamar Kakak tampa ijin dulu dan membawa pocong lepek."


Kata Rain.


Iish lepek dia bilang. Batin si pocong.


Rain lantas duduk di sofa dekat Bobi yang masih asik main game.


"Itu si pocong basah kuyup ulah duo uget-uget, kebiasaan banget ngerjain hantu."


Kata Bobi.


Rain menatap pocong yang langsung pasang wajah sedih, supaya terlihat semakin meyakinkan.


Rain menghela nafas,


"Kenapa sampai ketemu Scot dan Gil?"


Tanya Rain.


"Entah, aku tadi keluar ngikutin Paman Marthinus."

__ADS_1


Kata Bobi.


"Oh katanya ada penyusup, siapa Bob?"


Tanya Rain,


Bobi yang ditanya kemudian tampak membanting hp nya.


"Sial, kalah lagi!"


Kesal Bobi.


Rain garuk-garuk kepala, ini entah sudah hp yang ke berapa puluh yang dilempar di depan Rain oleh Bobi karena kalah main game.


Lalu Bobi mengganti duduknya menghadap Rain, wajahnya tampak serius,


"Musuh kita."


Kata Bobi.


"Siapa?"


Tanya Rain,


Dia yang hidup tak pernah merasa memiliki musuh, yang selalu merasa bisa damai dengan semua mahluk, bahkan dengan hantu terlihat menatap Bobi dengan serius pula,


"Haiiish..."


Bobi mendesis,


Bobi begitu serius,


Rain mengerutkan kening,


Rasanya ada yang aneh, bahkan membayangkannya saja benar-benar aneh ada ular bernama Kelengkeng.


"Sepertinya bukan itu namanya Bob."


Kata Rain akhirnya, ia mencoba mengingat tapi tak bisa menemukan nama apapun di benaknya.


"Kelereng kali."


Si pocong basah kuyup ikut nimbrung,


Rain menatap si pocong,


"Kamu tidak dingin?"


Tanya Rain, menatap si pocong yang sepertinya masih cukup muda, mungkin usianya tak begitu jauh dari Rain saat ini.


"Dinginlah anjir, basah begini kamu bilang tidak dingin."


Kata si pocong kesal.

__ADS_1


Rain tampak mengulum senyum,


Rain baru akan bicara lagi pada si pocong dan juga termasuk pada hantu kecil bermata bolong yang pasrah berdiri saja di dekat Rain duduk, saat tiba-tiba,


Plak!


Bobi menabok lengannya, sambil kemudian berkata,


"Ah aku ingat Rain."


Rain menatap Bobi sedikit kesal karena tabokan Bobi sungguh sakit sampai ke tulang,


"Ular itu, Jaga Lengen, ya benar, namanya Jaga Lengen."


Ujar Bobi penuh keyakinan,


"Haiish, ngarang saja ganti-ganti nama siluman, Jaka Lengleng dodol."


Tiba-tiba saja sebuah suara ikut nimbrung lagi. Kali ini bukan suara si pocong, apalagi hantu kecil bermata bolong, tapi...


Rain dan Bobi, serta kedua hantu yang ikut rapat paripurna dengan keduanya tampak memandang ke arah yang sama, di mana kini terlihat seorang anak laki-laki berambut coklat sedikit gondrong berjalan menghampiri mereka.


"Dari mana kamu Ron?"


Tanya Rain pada adik nomor tiga nya.


Aron, sosok yang berwajah paling tampan di antara saudara-saudaranya itupun mengambil tempat bergabung dengan kedua kakaknya.


Ia duduk di kursi bundar yang terpisah dari sofa panjang yang diduduki Rain dan Bobi.


Aron sempat menatap hp yang berserakan di lantai kamar Rain.


Hp keluaran terbaru seharga dua belas juta itu tergeletak begitu saja.


Dan, ah tentu saja sudah bisa dipastikan itu ulah siapa, karena hanya si mister emosi saja pastinya yang mampu membanting hp sampai empat unit dalam satu minggu ini.


"Aku dengar kamu membunuh siluman ular Kak Bob?"


Tanya Aron pada Bobi kemudian,


"Siapa yang cerita? Para fans mu?"


Tanya Bobi.


Aron nyengir,


"Siluman itu menyusup ke tempat ini untuk apa katanya?"


Tanya Rain pula pada Bobi yang tampak menggeleng.


"Entahlah, aku belum sempat bertanya apapun saat akhirnya membinasakannya. Lagipula tadi posisinya sudah hampir dihabisi juga oleh Paman Marthinus."


Aron mengangguk, lalu ia beralih pada Pocong dan hantu bermata bolong.

__ADS_1


**------------------**


__ADS_2