The Pandawa

The Pandawa
59. Kakek Misterius


__ADS_3

Huaaaaahm...


Dua kurcaci Zizi yang paling kecil terlihat menguap dengan mata yang masih sepet saat Zia memaksa mereka bangun,


Kedatangan Maria bersama hantu perempuan hamil dan juga adanya hantu Tania yang juga nyasar dari tempat yang sama membuat Zia akhirnya memutuskan untuk membuat rapat dadakan.


Zia bahkan menghubungi Zizi agar bisa segera datang agar mereka bisa secepatnya memutuskan apakah harus menyerang para siluman ular lebih dulu atau bagaimana,


"Ngantuk..."


Gil mengeluh karena masih ingin tidur, ia bahkan berulangkali berbaring lagi lalu ditarik agar duduk lagi,


"Cepat cuci muka, supaya tidak ngantuk!"


Perintah Zia pada kedua cucunya yang paling kacau balau itu.


Scot melompat turun dari tempat tidur, lompatannya terlalu jauh hingga menabrak pintu,


Zia mengurut kening,


"Scot, kenapa melompat seperti itu? Seperti biji ketapel?"


Omel sang Nenek,


Scot mengusap keningnya yang benjol karena melompat menabrak pintu,


Zia menggeleng-gelengkan kepalanya, jika melihat Scot dan Gil, ia merasa seperti melihat Zizi kecil lagi,


Gil turun dari tempat tidur juga, berjalan kemudian mendekati Neneknya, diraihnya tangan sang Nenek lalu memegangi tangan itu dengan erat,

__ADS_1


"Kita mau main kan Nek?"


Tanya Gil,


Zia menghela nafas,


Tentu saja Gil dan Scot sejatinya masih terlalu kecil untuk tahu sebetulnya ada apa yang terjadi saat ini.


Mereka kemudian keluar dari kamar, di mana kemudian Zia mengajak kedua cucu kecilnya itu berkumpul di ruang perpustakaan, yang di mana di sana Zion, Marthinus, Maria, Rain, Aron, Bobi, dan hantu perempuan hamil sudah berkumpul,


Tampak Zion yang duduk paling ujung pura-pura sibuk melihat layar hp karena hantu perempuan hamil yang duduk di atas rak buku terus menatapnya,


Sepertinya aku pernah mengenalnya, tapi di mana ya? Apa dia mantanku? Batin si hantu perempuan GR melihat Zion yang meskipun sudah tua tapi masih tampak ganteng.


"Mama dan Papa baru akan berangkat Nek,"


Zia mengangguk mengerti, ia tentu sudah hafal betul jika Zizi tak mungkin bangun pagi apalagi dalam kondisi ia pasti masih lelah karena mencari Bobi.


"Sebetulnya siluman-siluman itu di mana? Kita hancurkan sekarang saja,"


Kata Bobi yang belum apa-apa sudah dulu emosi,


"Iya, saya setuju dengan Tuan Bobi, kita langsung serang saja sekarang,"


Ujar Marthinus,


Zia duduk di kursi yang sendirian, menatap semuanya yang ada di ruangan,


"Kita tunggu sebentar lagi, kita tidak bisa gegabah, meskipun mereka mulai membuat kerusakan di alam lelembut, tapi mereka belum terang-terangan menyerang,"

__ADS_1


Kata Zia.


Zion yang duduk di ujung menatap Zia, lalu mantuk-mantuk setuju,


"Rain,"


Panggil Zia,


Rain mengangguk santun,


"Apa kamu ingat, bagaimana kamu pertama kali mulai melukis semua lukisan yang akhirnya disimpan di galeri yang dibuatkan kakek untukmu Rain?"


Tanya Zia,


Rain sejenak terdiam, ia tak ingat persis, tapi...


"Sepulang sekolah, ada seorang kakek memberikanmu pinsil dan menunjukanmu hantu yang duduk di dekat halte, hantu korban kecelakaan yang gentayangan sudah lebih dari tujuh tahun di sana,"


Tiba-tiba Aron yang seperti mengingat awal dulu kali pertama Rain mulai melukis untuk tinggal hantu,


Zia yang mendengar entah kenapa jadi ingat kisah kakek yang memberikan kuku Naga pada Bobi,


Mungkinkah mereka sosok yang sama?


Siapa dia?


Apakah juga kakek moyang mereka juga?


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2