
"Jadi, kau bermimpi soal yang ada di halaman belakang rumah?"
Tanya Zizi menatap Ali,
"Ya Kak, sepertinya ada rahasia besar keluarga kita yang belum banyak terungkap,"
Ujar Ali,
Zizi mengangguk, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar Rain yang masih dibiarkan terbuka,
Anak-anak berada di lantai satu tengah makan, sedangkan Zizi memang memilih tetap berada di kamar Rain lebih dulu untuk bicara banyak hal dengan Ali,
Tentu saja, ini ia lakukan karena Ali begitu Zizi pulang langsung meminta waktu untuk bisa membicarakan sesuatu yang penting, dan apalagi jika bukan soal mimpinya tentang yang ada di halaman belakang rumah kakek buyut,
"Apa yang dicari mereka benar ada di rumah ini, dan entah kapan serangan akan muncul lagi, itu sebabnya aku dan Shane sepertinya memang harus memindahkan mereka dari sini,"
Kata Zizi,
"Ya kalau itu aku setuju Kak, bagaimanapun Rain dan adik-adiknya masih terlalu kecil, sekalipun Bobi sudah mampu mengalahkan beberapa hantu, tapi perang tanding dengan para siluman pastinya akan terlalu berat,"
Ujar Ali,
Zizi kembali mengangguk.
"Gil dan Scot akan aku titipkan Mama di Bogor, sementara Rain, Aron dan Bobi sepertinya akan aku pindahkan ke London agar tinggal dengan Nenek mereka di sana,"
Kata Zizi,
"Kapan akan kau urus kepindahan mereka?"
Tanya Ali,
"Lusa, kau tahu bukan? Aku tidak suka menunda,"
__ADS_1
"Ya tentu, dan itu lebih baik,"
Sahut Ali,
Zizi lantas menatap lukisan milik Rain di mana tadi dari sanalah semua pulang,
Lukisan Rain yang menjadi pintu keluar masuk ke alam astral itu kelak kan Zizi kumpulkan dalam satu ruangan dan akan ia pagari,
Untuk sementara waktu, sampai nanti anak-anaknya tumbuh dewasa, Zizi akan berusaha meminimalisir berurusan dengan hal yang mengancam keselamatan anak-anak,
"Aku akan sering mengunjungi Rain dan yang lain jika mereka ada di London nanti, aku janji,"
Kata Ali,
"Ya Ali, terimakasih,"
Zizi tersenyum,
"Ah tapi,"
"Bukankah kau bilang di sana juga ada bahaya yang bisa jadi akan mengancam keturunan Shane dan juga semua yang berkaitan dengan Paman Marthinus?"
Tanya Ali,
Zizi menghela nafas,
"Yah, keturunan Ruthven,"
Kata Zizi,
"Ya, vampire yang jahat itu, apa kau tak takut nantinya Rain, Aron dan Bobi harus berhadapan dengan mereka di sana?"
Tanya Ali,
__ADS_1
Zizi terdiam sejenak,
Berusaha menimbang kemungkinan yang lebih buruk,
"Tapi, aku rasa di sana lebih aman, toh Paman Marthinus akan ikut mereka untuk menjaga, pasukan Paman tersebar di seluruh pelosok negeri, tentu itu akan lebih aman bagi Rain dan yang lain."
Mendengar itu Ali pun mengangguk setuju,
"Ah yah, kau benar Kak,"
Kata Ali,
"Scot dan Gil, akan bersama Mama dan Papa di Bogor, akan dijaga Mama bersama Aunty dan Eyang Retnoasih, menjaga dua anak itu sebetulnya juga tidak mudah, tapi aku rasa Mama paling bisa menghandle dua anak itu, karena jika ikut Nenek mereka di London, yang ada kasihan neneknya, lelah jiwa raga,"
Ujar Zizi membuat Ali tertawa,
Jelas ia paham betul bagaimana petakilannya dua anak Zizi yang terakhir,
"Tidak ada keinginan memindahkan mereka ke Jepang suatu hari Kak?"
Tanya Ali pula,
Zizi sejenak membulatkan mata, sebelum kemudian menggeleng cepat,
"No no... Tidak mungkin, bisa-bisa Sadako dan Kayako demo besar-besaran, kau belum lupa bukan saat setahun lalu dua hantu itu dikerjai habis-habisan, yang benar saja, rambut mereka diikat di tangga rumah, astaga, aku benar-benar tak habis pikir,"
Zizi mengurut kening, sedangkan Ali terpingkal sambil memegangi perutnya,
"Aku saja rasanya kadang ingin bertaubat jika berurusan dengan dua anak itu, perasaan aku tidak gila-gila amat, ya kan Al?"
Zizi berusaha memberi kesan dulu dia adalah anak yang manis, dan Ali pastinya akan selalu menjadi pendukung setia Zizi sejak dahulu,
"Kau keren sejak kecil Kak,"
__ADS_1
Ali mengacungkan dua jempolnya, membuat Zizi tertawa bangga,
...****************...