The Pandawa

The Pandawa
64. Tak Disangka


__ADS_3

Rain tampak serius melukis sosok Nenek yang pernah ia temui dulu, untuk menunjukkan pada para hantu yang sempat bertemu dengan si nenek misterius,


Semua pun melihat hasil lukisan Rain,


Terutama Maria, hantu perempuan hamil dan juga hantu Tania, yang memang merekalah yang sebagai saksi atas si nenek misterius,


Nenek yang entah kenapa menunjukkan jalan keluar pada mereka dengan cara memanggil Rain,


Rain terus melanjutkan melukisnya, hingga tiba-tiba hantu Tania memekik, membuat Rain nyaris terlonjak karena posisi hantu Tania yang persis di dekatnya,


"Nenek itu, benar nenek itu,"


Kata hantu Tania heboh,


Zizi yang penasaran pun berdiri dari duduknya, begitupun juga dengan saudara Rain yang lain,


Gil dan Scot yang tak mau ketinggalan, tampak langsung melompat mendekati kakak sulung mereka,


Menjaga kedua kurcaci itu rusuh, Bobi dan Aron kompak langsung menarik kerah belakang baju dua adik bungsu mereka itu,


Zizi mengambil lukisan di tangan Rain, ia tampak mengamati wajah itu,


Nenek yang terlihat mengenakan kain bercorak naga yang seperti memakai mahkota batu merah delima,


Zizi lantas menoleh ke arah Mamanya,


"Ma..."


Panggil Zizi,


Zia yang duduk bersama Zion, sang suami menatap Zizi anak mereka,


Zizi berjalan mendekati kedua orangtuanya seraya membawa lukisan sosok Nenek yang membuat mereka semua penasaran,


"Nenek ini, sepertinya Mama akan kenal,"


Kata Zizi seraya menunjukkan lukisan Rain, dan...


Zia yang begitu melihat lukisan Rain pun seketika berdiri karena terkejut luar biasa,


Dengan tangan gemetar karena benar-benar tak habis pikir, Zia meraih lukisan Nenek yang dibuat Rain,


Tampak mata Zia berkaca-kaca, Zion yang melihat ekspresi sang isteri tak biasa langsung berdiri pula dari duduknya,


"Ada apa Mah?"

__ADS_1


Tanya Zion,


Zia menoleh ke arah Zion sekilas di sampingnya,


Zizi di depannya menatap Mama dan Papanya,


Tampak Zizi yang begitu yakin jika Nenek itu bukanlah sosok yang asing untuk Mamanya,


"Nenek, dia Nenekku,"


Lirih Zia dengan suara tergetar,


Zion terperangah,


Ia menatap lukisan di tangan Zia dengan sama tak percayanya,


"Ba... Bagaimana bisa..."


Zion tergagap,


Zizi menghela nafas,


"Kalau begitu, biar Zizi masuk saja ke sana dan mencari tahu sendiri,"


"Bobi ikut Mah,"


Kata Bobi,


"Aku juga Mah,"


Rain berdiri,


"Aku juga,"


"Aku juga,"


Scot dan Gil tak mau ketinggalan,


Zizi menggelengkan kepalanya,


"Kalian ini dipikir mau jalan-jalan apa!"


Zizi mengomel,


"Kami mau main hantu, kami mau main sama hantu,"

__ADS_1


Kata Scot dan Gil semangat,


Haiiish...


Zizi mendesis,


"Tidak ada hantu model baru, tidak usah ikut!"


Zizi marah,


Shane merangkul kedua anak bungsunya,


"Scot dan Gil, tunggu di rumah saja ya dengan Nenek dan Kakek, nanti setelah semua selesai, Papa akan ajak ke London, kita akan main ke tempat para Lycan, oke?"


Akta Shane membuat kedua anak kecil itu saling berpandangan,


Lycan?


Waah langsung terbayang pada di benak mereka betapa kerennya bisa bermain dengan para Lycan,


"Janji kan Pa?"


Scot memastikan,


Shane tampak mengangguk,


"Tentu saja, pantang untuk para vampire mengingkari janji,"


Kata Shane,


Scot dan Gil pun akhirnya mengangguk setuju, merasa perjanjian yang ditawarkan Papanya lebih menyenangkan,


"Paman Marthinus akan mengawal ke tempat mereka,"


Ujar Shane pula,


Scot dan Gil senang bukan main dan begitu tak sabar rasanya menunggu hari itu tiba,


Zizi menghela nafas,


Membayangkan para Lycan diganggu dua anaknya itu saja Zizi sudah migren duluan,


**------------**


Ketiga hantu itu saking sesamanya

__ADS_1


__ADS_2