The Pandawa

The Pandawa
50. Cemas


__ADS_3

Zizi menatap lukisan rumah susun Rain yang katanya semalaman dari sanalah suara teriakan yang didengar Bibik Aisyah berasal.


"Biar Paman Marthinus yang masuk ke dalam honey, memastikan ada apa sebetulnya di sana."


Begitu Shane tadi berpesan sebelum akhirnya berangkat menuju tempat Tuan Yandik, kuasa hukum perusahaan karena sudah di telfon Papa Zizi berulangkali.


Kini Zizi berdiri di depan lukisan yang masih ada di dalam kamar Rain.


Ia ditemani Aunty Maria dan juga si pocong,


"Apa aku saja Zi yang masuk? Menunggu Marthinus pulang akan terlalu lama,"


Kata Maria,


Zizi menoleh ke arah Maria,


"Pertemuan di tempat kuasa hukum mungkin akan sampai tengah malam, atau bahkan sampai pagi hari, kita tidak tahu apa saja yang mereka bahas, ini akan membuang waktu dan bisa saja akan ada hal buruk terjadi lebih dulu,"


Ujar Maria lagi menambahkan,.


Si Pocong di sebelah Maria mantul-mantul tanda setuju dengan apa yang disampaikan si None Belanda,


Zizi baru akan mengiyakan, saat kemudian Zizi mendengar hp nya ada panggilan masuk,


Cepat Zizi mengangkat panggilan tersebut, di mana Mamanya yang kembali menghubungi,


"Kenapa Mah? Apa ada yang terjadi?"


Tanya Zizi khawatir,


"Ada dua mahluk tinggi besar masuk wilayah perumahan dan melempar dua burung gagak hitam ke rumah, Mama rasa inis benar Paman Jaka Lengleng,"


Kata Zia,


Zizi yang telah mendengar informasi dari kepala keluntung tentu saja tak begitu kaget,

__ADS_1


"Mereka memang sudah muncul lagi Mah, pasukan mereka sudah cukup banyak, dan apa yang di dalam mimpi Paman Ziyan dulu juga sepertinya menjadi kenyataan,"


Kata Zizi,


"Mimpi?"


Zia yang tentu saja telah lupa bertanya,


"Empat pemuda yang berdiri di depan danau lalu banyak ular keluar dari danau, ular-ular itu sudah tahu jika keturunan pemimpin mereka sudah muncul,"


"Jadi benar kata Nenek buaya putih,"


Gumam Zia,


"Ya Mah, Nenek Buaya itu ternyata memberikan informasi yang hampir sama dengan apa yang dikatakan kepala keluntung,"


Kata Zizi,


"Dan..."


"Dan... Bukan maksudku... Bukan inginku, melukaimu, sadarkah kau di sin ku pun terluka ka kaa ka..."


Si pocong tiba-tiba bernyanyi,


Membuat Zizi dan Maria langsung menoleh kesal,


Dan...


Plak!


Mereka pun sama-sama melayangkan tabokan ke kepala pocong hingga terguling,


"Suara siapa itu? Seperti sendawa,"


Tanya Zia,

__ADS_1


"Pocong yang diguyur Scot dan Gil, Mah, pocong sembilan puluhan,"


Jawab Zizi,


Maria nyengir,


Masih bagus sembilan puluhan, belum terlalu lama lah kalau dilihat ke belakang, lah Maria, dari jaman tentara Nippon baru datang,


"Bibik Aisyah semalaman mendengar teriakan dan ternyata itu dari lukisan Rain, Aunty Maria akan masuk ke dalam lukisan karena menurut pocong, hantu kecil yang diselamatkan Rain kini disiksa di sana,"


"Maksudnya, ada hantu jahat yang masuk ke dalam lukisan juga?"


Tanya Zia,


"Itu sebabnya kami akan melihat benar atau tidak kesaksian si hantu dadar gulung itu,"


Kata Zizi melirik pocong yang sedang kesulitan bangun,


"Minta Aunty Maria ajak Marthinus, kita tidak tahu apakah jangan-jangan pasukan Paman Jaka Lengleng juga ada di sana,"


Kata Zia,


"Ya Mah, memang kata si pocong, ular-ular itu menyusup, ah sepertinya Zizi harus secepatnya menemui Nenek Bandapati, Mah, Jayapada membutuhkan penjaga baru,"


"Mama juga sedang berpikir demikian, ini sebabnya Mama menelfonmu,"


"Selasa kliwon masih harus menunggu pekan depan Mah,"


"Ya,"


Sahut Zia,


"Bagaimana nanti jika pasukan mereka lebih dulu menyerang? Sementara kita belum siap."


**------------**

__ADS_1


__ADS_2