
"Zizi dan Shane, di mana dia?"
Zion heboh karena baru disadari Zizi dan Shane tak ada di mobilnya, pun juga tidak ada di sekitar lokasi.
Sementara semua korban sudah dilarikan dengan ambulance ke rumah sakit, pihak kepolisian juga sudah mulai membuka jalan untuk kendaraan lain agar bisa lewat.
Arya yang juga tampak ada di sana, karena melihat keluarga Zion belum jalan kembali akhirnya cepat menghampiri.
"Ada apa Paman?"
Tanya Arya pada Zion, tampaknya Arya kini sudah memiliki jabatan cukup bagus di kepolisian, dan tentu saja itu sangat membanggakan bagi yang mengenalnya.
Sementara itu tampak para pengawal mulai melakukan penyisiran di sekitar tempat itu.
"Bobi juga tidak ada Kek, dia tadi sepertinya mengikuti Mama dan Papa, sekarang dia belum kembali juga."
Kata Rain yang baru dari arah mobil kedua orangtuanya itupun mendekat ke tempat di mana kini Zion berdiri dengan Arya, Ziyan dan Aisyah, Eva serta Zia pastinya yang langsung merasakan kepalanya berputar-putar karena pusing.
"Zizi dan Shane, mereka tadi mengejar mahluk aneh kata Rain, tapi sampai sekarang belum kembali."
Kata Ziyan pada Arya mewakili Zion menjawab, sedangkan Zion terfokus pada Rain yang melaporkan Bobi juga belum kembali.
"Ke arah mana tadi?"
Tanya Arya sigap.
Rain lantas menunjuk ke arah di mana ia melihat kedua orangtuanya mengejar mahluk-mahluk aneh.
Arya mengangguk,
"Biar saya bantu pencarian."
Kata Arya.
__ADS_1
"Terimakasih Arya."
Kata Zion,
Arya mengangguk.
"Mereka pasti masuk ke alam para mahluk aneh jika sampai tengah malam tak ditemukan Arya, jadi jika sampai tengah malam tidak ditemukan, tidak usah dipaksakan mencari, aku akan coba tanya pada penguasa perkampungan di sekitar makam kakek saja."
Ujar Zia.
Lalu...
"Marthinus, ke mana dia?"
Tanya Zia masih sambil mengurut tengkuknya yang tegang.
"Tadi dia bersama Ali langsung bergerak begitu tidak mendapati Zizi dan Shane."
"Yang bisa menyusul paling hanya Marthinus dan Ali, kalian pulang ke rumah Bogor saja Pa, biar aku saja yang menunggu di sini, kalian tunggu di rumah."
"Tidak bisa begitu Zia,"
Zion jelas tidak bisa meninggalkan Zia.
Zia menatap semuanya,
"Kalian menunggu di sini pun tak akan bisa melakukan apapun, lagipula akan terlalu berbahaya untuk kalian jika ini ternyata berhubungan dengan siluman penung..."
Zia belum menyelesaikan kalimatnya, ketika terdengar suara lain...
"Ampuuun... aduh ampuuun, saya cuma mau ketemu nenek kaliaaaaan... Astagaaaa kalian ini mahluk apaaaaa..."
Zia cepat menoleh ke arah sumber suara, dan...
__ADS_1
Zia menepuk dahinya sendiri, sementara Ziyan sekeluarga yang tak melihat, mereka pun akhirnya hanya memandangi Zia yang bereaksi seperti orang tambah pusing.
Zion dan Arya sendiri yang bisa melihat tapi agak penakut terlihat bergidik melihat seekor buaya putih berkepala manusia ditunggangi Scot dan Gil.
Bukan hanya itu, rambut kepala siluman tampak di kuncir dua oleh Scot yang duduk di depan Gil dan jadi dekat dengan kepala siluman.
"Scooot... Giiil... Turun! Itu kalian, astagaaaa..."
Zia benar-benar tidak habis pikir dengan kedua anak Zizi.
Rain sebagai anak sulung tampak menggelengkan kepalanya, sedangkan Aron malah tertawa terbahak-bahak melihat ada siluman macam mau sekolah TK jaman dulu.
"Nenek, nenek buaya kita bawa pulang ya..."
Kata Scot.
Haiiish... Zia mendesis.
"Bagus niiih Neeeek..."
Scot menjambak rambut siluman membuat siluman merintih sedih, ia benar-benar merasa teraniaya lahir batin.
Zia menghela nafas, rasanya kepalanya mau pecah dengan anak cucunya,
"Aduh Pa, kepalaku rasanya mau copot."
Kata Zia akhirnya,
"Aduuh Nyonya Ziaaa.. saya mau bicara pentiiiing, tolooong saya ini dua cecunguk suruh turuuuuun..."
Si buaya putih menghiba.
**------------**
__ADS_1